Peringati Dies Natalis Ke-3 FEBI UIN SMH Banten Gelar Seminar Internasional

Rabu, 26 September 2018

Industri Halal menjadi suatu fenomena global dalam perkembangan insdustri dunia. Banten memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri halal. Meski tidak masuk dalam 10 besar negara dengan Industri Halal, namun Indoensia masih punya kesempatan untuk mengejar dengan potensi pasar penduduk Muslim yang besar.

Satubanten.com – Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanudin (UIN SMH) Banten menggelar Dies Natalis Fakultas Ekonomi Bisnis Isalam (FEBI) ke-3 pada hari Rabu (26/9). Acara Dies Natalis kali ini dibuka dengan Seminar Internasional yang dialanjutkan dengan Jambore. Dua pemateri unggulan menjadi pengisi dalam acara seminar tersebut yakni Prof. Ir. Sukoso, M.Sc, Ph.D selaku Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Indoensia dan Dr. Sarawut Aree dari Halal Center Chulalongkorn University and the Central Islamic Council of Thailand (CICOT).

Seminar Internasional dengan tema “Halal Industries : Policies, Challenges, and Opportunities” tersebut mencoba menjembatani konektivitas antar stakeholder industri halal untuk bisa saling bekerja sama. Dalam sambutannya, Rektor UIN SMH Banten Prof. Dr. H. Fauzul Iman mengatakan bahwa Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar seharusnya bisa menjadi leader dalam menjalankan pengembangan industri halal.

“Kita memang kalah dari negara – negara tetangga kita seperti misalnya Malaysia. Sudah berapa sertifikasi produk halal yang mereka lakukan dibandingkan dengan kita yang notabene negara dengan komunitas muslim terbesar? Oleh karena itu, setidaknya nanti ada kerjasama untuk produk halal ini karena banyak sekali prusahaan yang membutuhkan,” tuturnya.

Hal ini juga dibenarkan oleh Wakil Gubernur Banten, Andika Hazrumy saat berbicara sebagai Keynote Speaker dalam seminar Internasional tersebut. Potensi besar masyarakat Muslim yang jumlahnya diperkirakan akan mencapai 2,2 miliar atau sekitar 35% pada tahun 2030 menjadi salah satu poin, pentingnya mengembangkan industri halal.

“Perlu kita ketahui bersama bahwa berdasarkan data yang saya pelajari, di tahun 2030 jumlah penduduk muslim di dunia akan mencapai 2,2 miliar atau sekitar 35% dari penduduk bumi. Penduduk sebesar itu tentu perlu pangan, pakaian yang berlandaskan pada produk halal,” tuturnya.

Andika juga mengatakan bahwa Banten secara historis maupun kekinian mempunyai potensi pengembangan industri halal yang besar. Hal ini berkaitan erat dengan data yang menyebutkan bahwa 50% pendapatan daerah Banten diperoleh dari sektor industri baik industri kreatif, manufaktur, pariwisata dan industri lain. Yang berarti bahwa pengembangan industri halal juga mempunyai peluang yang besar.

“Saya rasa Banten bisa secara peraturan yang ada. Di Banten ini masih ada 1 juta hektar tanah yang siap dikembangkan untuk berbagai jenis industri baik industri wisata, makanan, atau berbagai sektor usaha lainnya,” sambungnya.

Peluang yang besar itu, menurut Andika jangan sampai lepas dan jatuh ke tangan swasta sepenuhnya. Sebagai contoh, PT Modern, Cikande saja sudah menyiapkan lahan seluar 500  hektar dan siap dikembangkan untuk sentra industri halal. Oleh karena itu perlu adanya kerjasama antara pemerintah, dan juga kalangan akademisi dalam hal ini khususnya adalah Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI) UIN SMSH Banten.

Sementara itu, tren adanya Industri Halal juga diakui keberadaannya oleh salah satu pemateri, yakni Dr. Serawut Aree. Ia mengatakan bahwa industri halal saat ini sudah menjadi fenomena global yang harus disikapi dengan baik agar bisa menjadi momentum yang baik untuk berkembang.

“Halal Industries now become a global Phenomenon, and we have to take this opportunities to develop product of halal industries,” tuturnya.

Senada dengan hal tersebut, Prof. Sukoso juga mengatakan bahwa sudah saatnya kita tidak hanya menjadi penonton sedangkan orang lain berlomba-lomba mengembangkan industri halal. Fokus Indonesia seharusnya diarahkan pada bagaimana caranya menjadikan Inodnesia sebagai kiblat industri halal dunia.

“Jika kita bicara produk halal, bicaranya bukan lagi sebagai pengelompokan tapi sudah kepada kualitas (halal). Meskipun kita adalah negara dengan penduduk muslim terbesar tapi hendaknya tidak berpangku tangan saja karena meskipun kita muslim tersbesar tapi nyatanya kita tidak masuk sepuluh besar dalam hal halal Fashion. Dalam bidang halal food serve kita juga tidak masuk the biggest ten,” tuturnya.

Namun demikian bukan berarti kita tidak bisa mengejar ketertinggalan terhadap negara lain. Rasa percaya diri harus terus dikembangkan agar bisa menatap masa depan produk-produk halal yang cerah. Tentu hal tersebut akan bermula dari dunia kampus ekonomi islam yang diharapkan mampu mengelola pasar besar yakni umat muslim khususnya di Indonesia dan di dalam internal kampus UIN SMSH Banten.

Ditulis oleh : Imam B. Carito

Diedit oleh : SBS032

*Baca tulisan lain Imam B. Carito atau artikel lain tentang UIN Sultan Maulana Hasanudin (SMH) Banten Atau artikel menarik lainnya tentang Industri Halal.

You might also like
Comments
Loading...