Peran Penting Keluarga Dalam Membentuk Karakter Bagi Generasi Millennial

Oleh : Ayu Rahayu, Mahasiswa Pendidikan Sosiologi di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta)

OPINI (09/03/2019) SatuBanten.News – Maraknya kasus mengenai krisis moral kini menjadi perhatian bagi warga Indonesia, terbukti dari beberapa berita di media massa dan internet yang viral dan masih hangat diperbincangkan oleh khalayak umum. Contohnya : kasus perilaku brutal murid terhadap guru di Yogyakarta beberapa waktu lalu, murid menganiaya guru, dan kasus-kasus lainnya. Dalam fenomena tersebut dapat kita ketahui bahwa krisis moral pada generasi millenial semakin menjadi. Kasus seperti ini perlu mendapatkan perhatian khusus oleh pihak tertentu untuk melakukan perbaikan dalam penanaman kembali moral yang baik pada anak.

Pendidikan, merupakan modal dasar dalam proses pembentukan karakter. Baik buruknya seseorang salah satunya dapat diketahui melalui background pendidikan yang ditempuh. Pendidikan bukan hanya sekadar belajar materi, tetapi juga melalui praktik keseharian dengan lingkungan sekitar dapat membantu untuk menumbuhkan karakter yang baik bagi generasi millenial. Karena pendidikan karakter menentukan perilaku seseorang berjalan sesuai norma-norma yang berlaku di masyarakat yaitu norma kesusilaan, norma agama, norma hukum dan norma kesopanan. Akan tetapi dalam kasus seperti ini, keluarga memiliki peran yang signifikan dalam memberi pengarahan, keluarga harus bisa menjadi tempat penopang pendidikan moral terhadap anak karna keluarga mempunyai peran yang paling fital bagi terbentuk nya karakter anak.

Seperti pendapat Ki Hajar Dewantara yang menyatakan “keluargalah yang penanaman dasar watak si anak yang pada masa dewasa nanti akan nampak dalam keseluruhan pribadinya”. Keluarga merupakan kelompok terkecil dari masyarakat. Kelompok inilah yang melahirkan individu dengan berbagai macam bentuk kepribadian di masyarakat. Keluarga bukan hanya berfungsi sebagai penerus keturunan belaka, namun keluarga juga berfungsi sebagai perlindungan, pendidikan, keagamaan dan sebagainya. Bahkan seperti yang dikatakan oleh K.H. Dewantara keluarga mempunyai kedudukan tinggi yaitu kunci dan sentral dalam mendidik anak-anaknya.

Dalam UU No 2 Tahun 1989, tentang Sistem Pendidikan Nasional, disebutkan bahwa penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan melalui dua jalur yaitu jalur pendidikan sekolah dan jalur pendidikan luar sekolah. Pendidikan keluarga bagian dari jalur pendidikan luar sekolah. Selanjutnya anak mengenali tiga lingkungan pergaulan yang secara sengaja memberi pendidikan kepada anak. Dua lingkungan terbatas yaitu lingkungan keluarga, dan lingkungan sekolah. Sedangkan lingkungan yang luas yaitu masyarakat. Ketiga pusat lingkungan itu oleh K.H. Dewantara disebut sebagai “Tri Pusat Pendidikan”. Sebagai pusat pendidikan yang utama dan pertama adalah keluarga.

Secara kodrati, tentulah orang tua si anak berkewajiban mendidik anaknya karena didalam keluarga anak mendapat pendidikan pertama yang akan menjadi dasar perkembangan selanjutnya. Di era Millenial sekarang ini tidak bisa dipungkiri kebutuhan untuk hidup semakin tinggi, maka tidak sedikit orang yang sibuk bekerja untuk memenuhi segala kebutuhan hidup keluarganya dan tidak sedikit pula orang tua yang justru melimpahkan seluruh tanggung jawab pendidikan anak-anaknya kepada pihak sekolah. Padahal, keluarga merupakan media pendidikan yang paling pertama dan utama bagi seorang anak khususnya dalam membentuk moral anak.

Seperti halnya sekolah, keluarga juga merupakan tempat belajar bagi anak-anak bahkan awal pendidikan sebenar nya berada pada pihak keluarga. Dari sejak lahir hingga dewasa, mereka akan belajar dan mendapatkan pendidikan di “sekolah keluarga” dimana orang tua dan anggota keluarga yang lain menjadi guru-gurunya. Penguatan peran keluarga dalam pendidikan moral anak menjadi hal yang sangat penting, karena keluarga dapat mengajarkan hal-hal yang tidak anak dapatkan di sekolah. Pendidikan moral dalam “sekolah keluarga” ini harus dilakukan secara baik dan maksimal, karena masa anak-anak adalah masa membangun pondasi yang kuat untuk membangun karakter dan menopang ilmu anak hingga dewasa kelak.

Seperti kasus krisis moral tersebut anak-anak memerlukan perhatian yang ekstra dari semua pihak. Pihak-pihak utama yang di maksud di sini adalah pemerintah, sekolah, dan khususnya keluarga. Semua pihak tersebut harus menjalankan peran dan fungsi nya masing masing agar menciptakan sistem pendidikan yang baik. Dalam hal ini, keluarga mempunyai peran besar, karena lagi-lagi keluargalah yang merupakan orang terdekat dan lingkungan utama bagi anak-anak. Keluarga yang harmonis dapat memberikan pelajaran mengenai tanggung jawab, kejujuran, kemandirian, kedisiplinan dan sebagainya terhadap anak. Dari sinilah peran aktif dari keluarga terutama orang tua sangat dibutuhkan untuk mempersiapkan para penerus bangsa yang cerdas dan berdedikasi tinggi untuk membangun bangsa Indonesia yang lebih kuat dan mengembalikan karakter anak bangsa yang hilang. (RR/SBS31)

You might also like
Comments
Loading...