Peran Pendidikan di Pesantren Dalam Pembentukan Karakter Santri

Oleh:

Samsul Bahri

Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah & Keguruan, Universitas Islam Negri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Abstark
Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana karakter seorang santrid saat berada di lingkungan pesantren tersebut, melalui peran pendidikan di dalam pesantren . Melaui penulisan ini juga kita dapat belajar bagaimana cara membentuk karakter seorang santri yang bertujuan membentuk suatu karakter santri yang berbudi luhur sejak berada dalam lingkungan pesantren . Metode yang dilakukan dengan cara pendekatan langsung maupun dengan mempelajari ilmu – ilmu yang berhubungan dengan akhlak.

OPINI – Prioritas pembentukan suatu karakter kepada peserta didik yang dalam hal ini santri, sudah lama dilakukan dan di jadikan keharusan bagi setiap santri itu sendiri, sudah di lihat oleh pemerintah dengan di tuangkanya dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang ( RPJP ) Nasional Tahun 2005 – 2025 ( UU No. 17 Tahun 2007 ) antaralain adalah dalam mewujudkan masyarakat yang berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila .

Pendidikan nasional yang dalam hal ini berada di dalam pesantren berfungsi untuk membentuk karakter para peserta didik ( santri ) . Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang sudah ada sejak lama di Indonesia menjadi wadah pembentukan karakter yang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia .

Sebelum kita membahsa lebih luas lagi tentang peran pesantrean dalam membentuk karakter seorang santri mari kita lihat data yang saya ambil dari tirto.id yang menjelaskan tentang kenakalan remaja yang di lakukan oleh para remaja dari periode januari sampai dengan 13 Februari 2019, yang mana sudah terjadi 24 kasus yang terbagi menjadi 3 kenakalan 1. Kekerasan terhadap sesama peserata didik , 2. Pelecehan seksual, 3. Bullying. Setelah melihat data di atas apa yg ada benak pikiran anda? Yah , itu hanya sebagian kecil kasus yang sudah marak terjadi baik di ruanglingkup pendidikan maupun social yang dilakukan oleh remaja yg usainya masih sebagai peserta didik sebuah lembaga pendidikan, pendidikan karakter sekarang mutlak diperlukan bukan hanya di pesantern, sekolah dan lingkungan social lainya demi kelangsungan bangsa agar tidak bobroknya suatu karakter yang sudah menjadi ciri dari bangsa Indonesia.

Bagaimanapun juga, karakter adalah kunci keberhasilan seseorang . Dari sebuah penelitian yang dilakukan d Amerika 90 % kasus seperti tidak bertanggung jawab, tidak jujur, dan hubungan interpersonal yang buruk. Selain itu terdapat penelitian lain yang mengindikasikan bahwa 80 % keberhasilan seseorang di masyarakat ditentukan oleh emotional quotient.

Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis membuat rumusan masalah dalam artikel ini sebagai berikut :
1. Apa makna Pendidikan Krakter ?
2. Apa saja Strategi yang harus dilakukan ?
3. Apa tujuan dari pelaksanan pendidikan karakter di sebuah pesantren ?

Adapun tujuan dari penulisan Artikel ini adalah sebagi berikut :
1. Mengetahui dan memahami makna pendidikan karakter .
2. Mengetahui strategi pelaksanaan pendidikan karakter di pesantren.
3. Mengetahui tujan pendidiakan di pesantren.

PEMBAHASAN
MAKNA PENDIDIKAN KARAKTER

Pendidikan karakter secara bahasa berasal dari bahasa yunani” charassein” yang artinya mengukir sebuah pola, baik itu fikram, sikap, maupun tindakan yang melekat pada didi seseorang. Adapun secara istilah karakter adalah cara berfikir dan berprilaku seseorang yang menjadi ciri kha individu tersebut. Guna memahami sebuah pendidikan karakter dalam peranan pesantren kita perlu melihat bagaimana sistem yang di terapkan di pesantren tersebut. Pendidikan di pesantren dapat di jadikan rujukan bagi orang tua yang khawatir atas pergaulan yang ada pada zaman sekarang yang mana kenakalan remaja yang sudah merajalela dan bagi sebagian remaja itusudah tidak menjadi rahasia umum lagi, dengan merujuk pendidikan karakter yang ada dalam pesantren setidaknya para remaja yang berada d lingkungan pesantren akan di suguhi dengan aturan – aturan yang bias mencegah timbulnya kenakalan remaja, karena d sebua pondok pesantren menekankan akan pembentukan suatu karakter itu sangat di utamakan yaitu membentuk akhlak dan budi peketi yang mulia antar sesama dan kepada orang yang lebih tua.

Sejauh ini kekhawatiran akan merosotnya moral para pelajar yang sangat membuat orangtua dan masyarakat pada umumnya . Di akui persoalan karakter dan moral memang tidak sepenuhnya di bebankan kepada lembaga pendidikan namun peran lembaga pendidikan terutama di pondok pesantren tidak bisa di bantahkan dan tidak lepas dari peran lembaga – lembaga yang sangat menentukan bagaimana membentuk kualitas seorang yang berada di lingkungan lembaga pendidikan . Selain itu dalam masa persoalan memahami situasi seperti ini tak bisa hanya mengandalkan lembaga pendidikan akan tetapi peran orang tua dalam lingkungan keluarga pun tak bisa di pandang sebelah mata dan lingkungan pun sangat mempengaruhi suatu karakter seseorang , karana tidak sedikit seseorang yang sudah memdapat didikan di lembaga lembaga pendidikan dan lingkungan keluarga namun ketika saat berada d lingkungan social yang sama – sama kita ketahui jauh lebih mengkhawatirkan akan terpaparnya oleh orang – orang yang tidak mendapat didikan yang mengajarkan aka pentingan etika .

Sebagai aspek kepribadian , karakter merupakan cerminan dari diri sesorang secara utuh dan lebih individual. Karakter bersifat kontekstual dan kultural, karakter suatu bangsa yang mana jika rakyatnya berkarakter dan berbudi luhur maka bisa disebut bangga tersebut memiliki karakter yang kuat dan bisa memfilter budaya yang masuk melalui turis – turis namun tak sampa disitu media juga sangat berperan dalam pembentukan karakter seseorang di suatu bangsa karean kita ketahui bersama media social saat ini amat sangat terbuka lebar. Maka dari hal diatas peran pedidikan di pesantren sangatlah ketat karena di dalam lingkungan pesantren sangat di batsi dan di teakn untuk menghilangkan kecanduan santri terhadap paparan media sosia; yang pada zaman sekarang sangatlah menghawatirkan.

Pendidikan karakter yang tealh menjadi polemic di suatu masyarakat bahkan di suatu bangsa tersendiri menjadi perhatian khusus Sebagai aspek kepribadian , karakter merupakan cerminan dari diri sesorang secara utuh dan lebih individual. Karakter bersifat kontekstual dan kultural, karakter suatu bangsa yang mana jika rakyatnya berkarakter dan berbudi luhuilai – nilai luhur tesebut antara lain kejujuran, kemandirian, sopan santun, kemulyaan social, kecerdasan berfikir termasuk kepenasaran akan intelektual dan berfikir logis .

STRATEGI YANG HARUS DILAKUKAN
Berbicara Strategi yang harus dilakukan hal yang paling utama dalam melakukan strategi ini awal dan yang paling awal berada dalam lingkungan keluarga karena peran keluarga terutama orang tua amatlah sangat penting , keadan saat ini yang dengan bentuk segala macam yang bisa merusak morak para remaja bukan tidak mungkin bisa menerpa pada diri kita dan keluarga kita , maka dari pada itu penulis mencoba memberikan beberapa strategi yang biasa dan sering di lakukan untuk mengrangi ke bobrokan moral dan memberikan pelajran tentang pembentukan moral terkhusus di lingkungan pondok pesantren, di antara banyak strategi mungkin hanya bebrapa yang akan penulis coba analisis.

1. Mempelajari buku – buku yang konteks pembahasanya tentnag akhlak
Mengapa demikian karena dalam lembaga pendidikan dalam pondok pesantren tidak lepas dari membaca dan belajar buku atau lebih sering di sebut kitab yang berhubungan dengan akhlak dan kisah – kisah orang – orang yang bisa di teladani sikap dan budi pekertinya , dengan metode mempelajari kitab – kitab tersebut diharapkan sisiwa bisa mencontoh dan mengambil pelajran yang ada di dalam kitab tersebut, dan setelah memahami ada kemungkinan seorang peserta didik akan mengamalkan hal – hal yang telah dia dapt dari pelajran tersebut, dan biasanya setlah mempelajari pelajran – pelajaran tersebut seorang guru yang bisa kita sebu Ustadz akan langsung memberikan tugas yang tujaunya untuk menerapkan pelajaran yang sudah di berikan kepada peserta didik.

2. Melarang santri membawa alat elektronik di pondok pesantren
Mengapa sering kali seorang santri tak diperbolehkan membawa alat elektronik? pertanyaan ini sangat lah penting untuk penulis jelaskan karena tidak sedikit yang masih menjadi pertanyan di sebagian orang tua dan santri tersebut. Jawabnya sebenarnya bisa di rasakan oleh orang tersebut sendiri setelah keluar dari pesantren ,dan orang tua juga akan meraskan apa yang telah menjadi pelaturan pondok tersebut, banyak sekali para alumi dan orang tua yang awalnya tidak setuju akan peraturan tersebut karena beranggapan akan membuat anaknya menjadi ketinggalan zaman. Namun setelah melalui perjalan di dunia pesantren para santri dan orangtua meraskan dampak positif itu sendiri karena di pesantren sendiri bukan berarti tak belajr hl yang berhubungan dengan dunia maya , sebenarnya ada pelajran tersebut akan tetapi semua itu jauh lebih terkontrol dan hanya waktu –waktu tertentu.

3. Menghukum santri yang melanggar tata tertib yang berlaku di pesantren tersebut
Hal ini lah menurut penulis yang menjadi masa – masa yang benar membuat santri terbentuk karakternya, karena ketika santri menjalankan peraturan yang ada di pondok tersebut bisa dikatakan santri tersebut akan terbentuk karakter dan budi pekerti yang baik dan mulia, namun jika santri melanggar tata tertib maka santri akan di hokum yang membuat santri jera dan hukumannya melatih diri untuk jauh lebih baik, tak sedikit santri yang awalnya nakal dan sering mendapat hukuman dari penggurus pondok menjadi santri yang rajin dan nurut , mengapa demikian? itu semua karena kesadaran dari santri itu sendiri dan mungkin takut akan di hokum lagi oleh penggurus pondok , tapi bukan hanya itu saja menghukum santri yang bermasalah memang cukup membuat santri jera dan terbentuknya karakter santri yang menjadi jauh lebih di siplin, jujur, bertanggung jawab dan berakhlakul karimah.

TUJUAN PENDIDIKAN KARAKTER DI PESANTREN
Berbicara tujuan , setiap hal dalam lembaga pendidikan pasti memiliki tujuan namun dalam hal ini penulis lebih memfokukan tujuan pendidikan karakter di pesantren itu sendiri walaupun dalam konteksnya mencakup umum.

1. Membentuk karakter yang berakhalkul karimah
Dalam hal ini mungkin inilah titik berat yang menjadi tujuan utama dalam materi yang di tulis disisnih karena pada dasarnya setiap lembaga pasti menginkan peserta didiknya mempunyai sebuah karakter yang menjadi cirikhas suatu lembaga yaitu Berakhlak mulia . Karena dengan itu akan membawa nama baik tersendiri yang akan melekat pada lembaga tersebut.

2. Menajdi cirikhas dan menarik minat peserta didik
Tak bisa di pungkiri bahwa sanya membangun suatu karakter di lembaga tersebut berhasil akan membawa dampak positif juga terhadap reputasi sebuah lembaga yang akan semakin di lirik oleh calon peserta didik yang ingin belajar di lmbaga tersebut dan akan menjadi ciri khas lembaga tersebut karena dinilai baik dalam mendidik para santrinya sehingga menjadi pribadi yang berkarakter.

3. Menjadi benteng di era globalisai sekrang
Tak bisa di pungkiri sekarang kita semua berada di dalam era yang semua informasi bisa kita ketahui melalui internet , yang mana jika kita tak pandai mengunakan internet bukan tidak mungkinkita akan terjerumus dalam hal – hal yang negative, oleh sebab itu salah satu tujuan yang bisa d jadikan point yaitu menjadi benten diri sendiri mengatasi hal – hal yang negative di era gloalisasi seperti saat ini yang sudah sangat memprihatinkan.

4. Meneruskan karakter Bangsa Indonesia
Bangsa Indonesia sendiri memang terkenal akan adat istiadat yang sangat ramah tamah, sopan santun terhadap siapapun , oleh karenanya bangsa lain sangat menaruh rasa hormat dan decak kagumnya terhadap warga Negara Indonesia yang sangat di keanal akan keramah tamaanya . Oleh sebab itu puncak dari pendidikan karakter bagi seorang peserta didik ialah menjadi penerus akan kearifan local di Indonesia ini, bukan tidak mungkin bangasa yang terkenal akan keramah tamahanya menjadi terbailik karena lemah dan tidak aanya langkah yang di lakukan oleh bangsa itu sendiri.

KESIMPULAN
Pendidikan karakter secara bahasa berasal dari bahasa yunani” charassein” yang artinya mengukir sebuah pola, baik itu fikram, sikap, maupun tindakan yang melekat pada didi seseorang. Adapun secara istilah karakter adalah cara berfikir dan berprilaku seseorang yang menjadi ciri kha individu tersebut. Guna memahami sebuah pendidikan karakter dalam peranan pesantren kita perlu melihat bagaimana sistem yang di terapkan di pesantren tersebut sebagai aspek kepribadian, karakter merupakan cerminan dari diri sesorang secara utuh dan lebih individual. Karakter bersifat kontekstual dan kultural, karakter suatu bangsa yang mana jika rakyatnya berkarakter dan berbudi luhur.

Sebagai aspek kepribadian , karakter merupakan cerminan dari diri sesorang secara utuh dan lebih individual. Karakter bersifat kontekstual dan kultural, karakter suatu bangsa yang mana jika rakyatnya berkarakter dan berbudi luhur. Mempelajari buku – buku yang konteks pembahasanya tentang akhlak. Mengapa demikian karena dalam lembaga pendidikan dalam pondok pesantren tidak lepas dari membaca dan belajar buku atau lebih sering di sebut kitab yang berhubungan dengan akhlak dan kisah – kisah orang – orang yang bisa di teladani sikap dan budi pekertinya. Melarang santri membawa alat elektronik di pondok pesantren.

Mengapa sering kali seorang santri tak diperbolehkan membawa alat elektronik? pertanyaan ini sangat lah penting untuk penulis jelaskan karena tidak sedikit yang masih menjadi pertanyan di sebagian orang tua dan santri tersebut. Menghukum santri yang melanggar tata tertib yang berlaku di pesantren tersebut. Hal ini lah menurut penulis yang menjadi masa – masa yang benar membuat santri terbentuk karakternya, karena ketika santri menjalankan peraturan yang ada di pondok tersebut bisa dikatakan santri tersebut akan terbentuk karakter dan budi pekerti yang baik dan mulia, namun jika santri melanggar tata tertib maka santri akan di hukum yang membuat santri jera.

Tujuan pendidikan karakter di pesantren itu sendiri walaupun dalam konteksnya mencakup umum.
Membentuk karakter yang berakhalkul karimah.
Menjadi cirikhas dan menarik minat peserta didik
Menjadi benteng di era globalisai sekarang
Meneruskan karakter Bangsa Indonesia

DAFTAR PUSTAKA
Arr-ruzz Media Rachman, Maman. 2000. Reposisi, Reevaluasi, dan Redefinisi Pendidikan Nilai Bagi Generasi Muda Bangsa. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan.
Maksum, Muhammad. 2014. Menjadi Guru Idola. Klaten: Cable Book.
Megawangi, Ratna. 2004. Pendidikan Karakter. Jakarta: Indonesia Heritage Fondation. Muin, Fachtul. 2011. Pendidikan Karakter Konstruksi Teoritik dan Praktik. Yogyakarta.

(****)

You might also like
Comments
Loading...