Aspirasi Rakyat dan Terpercaya

Penyakit Berbahaya Mengintai Para Pemburu Emas Ilegal (3)

Serang (25/12/2019) Satubanten.com – Kegiatan Gurandil (Penambang emas liar) di wilayah Kecamatan Bayah dan Cibeber yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) justru makin berkembang pesat paska PT Antam berhenti beroperasi.

Meskipun sudah dilarang oleh pemerintah dan tidak boleh lagi ditambang, tapi para pemburu emas itu tak peduli. Mereka tetap nekat masuk ke dalam sumur atau gua dengan fasilitas seadanya dan bahkan sangat kurang dari segi keamanan.

Kemilau Emas kawasan Cikotok masih terlalu menggoda para Gurandil untuk melakukan aktifitas penambangan walaupun taruhannya nyawa melayang. Sudah Ratusan nyawa melayang tertimbun longsoran galian tambang.

“Sudah resikonya seperti itu. Hampir tiap minggu ada saja yang meninggal. Sudah ratusan orang yang mati di kawasan penambangan tersebut karena terjebak dalam lubang galian,” kata Nuryasin, mantan Gurandil asal Desa Suwakan, Bayah kepada Satubanten.com, Senin (24/12).

Bahkan, ketika Gurandil berhasil lolos dari maut saat penambangan. Ada masalah serius yang harus siap dihadapi oleh para Gurandil. Yakni penyakit Gatal dan Paru-paru.

Seperti diketahui,proses penambangan para gurandil tidak lepas dari penggunaaan Merkuri/air raksa. Tanah atau batuan yang mengandung emas dihaluskan melalui alat Gelundung yang telah berisi air dan Merkuri (Hg).

Selama kurang lebih dua jam alat gelundung itu berputar memisahkan lumpur dan tanah menjadi batuan emas. Semua proses dilakukan dengan sederhana,bahkan para pekerja mengobok-obok air campuran merkuri tanpa sarung tangan. Kemudian, limbah sisa merkuri tersebut dibuang ke Sungai yang memiliki hilir dikawasan pemukiman.

Baca JugaKisah Kelam Dibalik Kemilau Emas Cikotok (Bag:1)

Kisah Mistis di Balik Perjuangan Pekerja Penambang Emas (2)

Merkuri bersifat korosif pada kulit. Ini berarti lapisan kulit yang terkena merkuri membuat semakin menipis. Bahkan, paparan yang tinggi terhadap merkuri dapat berupa kerusakan pada saluran pencernaan, sistem saraf, ,ginjal serta merusak organ tubuh seperti Paru-paru dan jantung.

“Saya harus bolak-balik ke rumah sakit selama 1 tahun. Paru-paru saya sudah terkena radiasi,” ungkap Nuryasin.

Hasil jerih payahnya menjadi gurandil tak tersisa. Mulai dari kendaraan dan barang berharga lainnya semua dijual untuk mengobati penyakitnya.

“Kalau cuma gatal sebenarnya itu hanya efek kecil. Paru-paru saya sudah kena. Habis mas, setahun lebih saya harus berobat tentu dengan biaya yang tidak sedikit,” ucapnya.

Bukan hanya masalah kesehatan dan taruhan nyawa para Gurandil. Aktifitas tambang liar ini tentunya merusak alam. Proses pemisahan tanah dengan merkuri tentunya mencemari wilayah perairan sepanjang sungai yang tentunya akan berdampak kepada Masyarakat yang hidup dibantaran sungai. (SBS/02)

You might also like
Comments
Loading...