Pentingnya Pendidikan Sosial Keagamaan

Oleh : Muhammad Farid Majdi, Mahasiswa Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Serang (11/07/2019) SatuBanten. News – Siapa yang tidak pernah terlibat dalam proses sosialisasi, tentunya setiap manusia di muka bumi setidaknya terlibat dalam proses sosialisasi sekali setiap hari sepanjang hidup mereka. Entah itu sosialisasi secara langsung maupun tidak langsung, pastilah kita senantiasa bersosialisasi dalam aktivitas kita. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak mungkin tidak terlibat dalam proses sosialisasi. Dalam kehidupan sehari-hari manusia membutuhkan proses sosialisasi untuk bisa bertahan hidup. Proses sosialisasi yang merupakan hubungan antar dua individu atau lebih yang ada dalam suatu kelompok masyarakat tidak bisa kita hindari.

Sosialisasi adalah kondisi dimana terjadi pertukaran ide atau gagasan yang mempengaruhi hubungan antar satu pihak dengan yang lainnya. Pengaruh tersebut dapat bersifat positif dapat juga bersifat negatif. Proses sosialisasi yang bersifat positif akan menghasilkan terjalinnya hubungan yang baik antar pihak yang terlibat dan dapat membuka kemungkinan terjadi kerjasama di kemudian hari. Sedangkan proses sosialisasi yang bersifat negatif hanya akan memperburuk hubungan pihak yang terlibat dalam proses sosialisasi ini dan mengakibatkan perpecahan bahkan bentuk-bentuk konflik sosial yang berujung pada pertikaian.

Dalam lingkungan masyarakat, sosialisasi kerap kali digunakan sebagai cara pengendalian sosial sehingga dapat membawa dampak positif bagi masyarakat. Pengendalian sosial muncul dalam bentuk sosialisasi antara individu dengan kelompok yang sering kita temukan diselenggarakan dalam instansi pendidikan seperti sekolah, pondok pesantren maupun universitas. Tujuannya pun beragam mulai dari pengendalian diri agar peserta sosialisasi tidak terjerumus dalam hal-hal negatif yang disosialisasikan sampai dengan tujuan mengedukasi dengan harapan ilmu yang didapatkan saat sosialisasi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sosialisasi yang bersifat negatif inilah yang sebaiknya kita hindari agar tidak terlibat didalamnya. Namun, seberapa keras kita berusaha untuk tidak terlibat dalam sosialisasi yang bersifat negatif di lingkungan sekitar kita, kegiatan sosialisasi yang bersifat negatif ini akan tetap ada dan tidak bisa dihentikan secara permanan. Dapat dikatakan, adanya sosialisasi yang bersifat negatif dan ada yang bersifat positif menciptakan keseimbangan dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Yang harus kita jaga adalah bagaimana sosialisasi yang bersifat negatif tidak lebih sering terjadi dibanding dengan sosialisasi yang bersifat positif.

Pendidikan pada dasarnya adalah suatu usaha yang dapat membentuk karakter, watak seseorang yang di dalamnya terdapat proses pembelajaran. Sedangkan sosial itu sendiri pada dasarnya adalah sesuatu yang selalu berkaitan atau berhubungan erat dengan masyarakat. Pendidikan Islam telah merubah haluan, yang semula hendak melahirkan individu yang mulia lahir batin, ternyata direduksi hanya sebagai hamba Allah semata. Dalam membentuk pribadi yang berakhlak baik tentu harus ada faktor pendukung yang ikut serta dalam mempengaruhi anak didik menjadi pribadi shaleh, yaitu pribadi yang melakukan hubungan dengan yang transenden, sosial dan lingkungan.

Maka faktor pendukung yang tepat adalah keluarga, masyarakat dan sekolah. Manusia sepanjang hidupnya sebagian besar akan menerima pengaruh dari tiga lingkungan pendidikan yang utama tersebut, keluarga, sekolah, dan masyarakat dan ketiganya biasa disebut dengan tripusat pendidikan. Ketiga lembaga ini secara bertahap dan terpadu mengemban tanggungjawab pendidikan bagi generasi mudanya. Kemudian, tripusat pendidikan ini dijadikan prinsip pendidikan, bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan didalam lingkungan rumah, masyarakat dan sekolah. Ketiga lembaga pendidikan tersebut hendaknya menjadi tangan panjang untuk membantu mencapai tujuan pendidikan Islam yang ideal, yaitu manusia yang berbudaya, beradab dan beragama.

Bagaimana dengan pendidikan sosial keagamaan? Saya mengartikannya sebagai suatu usaha yang dapat membentuk karakter atau watak seseorang melalui pendekatan sosial kemasyarakatan yang mempunyai hubungan atau implikasi dari ajaran agama. Keagamaan dalam konteks tulisan ini adalah Islam, sesuai dengan agama yang saya anut dan saya mengerti. Mengapa pendidikan sosial keagamaan ini begitu penting? Karena perlu diketahui pada saat ini banyak orang yang hanya melakukan syariat Islam dengan benar namun tidak memperhatikan lingkungannya, sosial kemasyarakatannya.

Padahal di dalam agama Islam juga bukan hanya diajarkan bahwa hidup ini hanya berhubungan dengan Allah (hablum minallah), namun Islam mengajarkan hubungan manusia dengan manusia (hablum minannaas) yang terkait erat dengan kegiatan sosial. Berbicara tentang pendidikan sosial keagamaan, hal itu haruslah ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari. Bukan agama Islam saja. Agama-agama lain juga pasti menanamkan keyakinan bahwa agama membawa kehidupan kita menjadi lebih damai. Harus tersadar dalam pikiran kita bahwa Indonesia negara dengan semboyan ​“Bhineka Tunggal Ika” ​ yaitu berbeda-beda tetapi tetap satu.

Mengapa pendidikan sosial terkait erat dengan keagamaan? Jawabannya adalah karena dalam agama Islam kita diajarkan ibadah. Ibadah pertama adalah ibadah mahdhah, artinya penghambaan yang murni hanya merupakan hubungan antara hamba dengan Allah secara langsung. Contohnya seperti sholat, puasa, dan haji.
Namun diajarkan pula ibadah ghairu mahdhah (tidak murni semata hubungan dengan Allah) yaitu ibadah yang di samping sebagai hubungan hamba dengan Allah juga merupakan hubungan atau interaksi antara hamba dengan makhluk lainnya. Contohnya seperti sedekah, menolong orang lain yang kesusahan, wakaf, aqiqah, dan kurban.
Agama Islam mengenal ada huquq Allah (hak-hak Allah) dan huquq al-adamy (hak-hak manusia).

Sedangkan hak-hak manusia pada hakikatnya adalah kewajiban-kewajiban atas yang lain. Manfaat melakukan hak dan kewajiban tersebut adalah terciptanya solidaritas sosial (al-takaaful al-ijtima’i), toleransi (al-tasamuh), mutualitas/kerjasama (al-ta’awun), tengah-tengah (al-i’tidal), dan stabilitas (al-tsabat). Inilah ajaran aswaja. Pendidikan sosial keagamaan dapat kita temui (contohnya) di lingkungan lembaga keagamaan seperti di sekolah, Madrasah ataupun Pondok Pesantren. Mengapa demikian? Tentu jawabannya karena di Sekolah, Madrasah ataupun Pondok Peantren kita diajarkan Karakter untuk kerjasama, sikap keberagaman, sikap kebersamaan, saling tolong menolong, merasa kesulitan sama-sama, merasa bahagia juga sama-sama, sikap gotong royong.

Tidak kalah penting adalah sikap adaptasi dengan lingkungan dan teman yang terdiri dari banyak karakter. Bukan hanya itu, pendidikan sosial keagamaan di dalam lembaga keagamaan sangat kental juga harus diajarkan dan ditanamkan dalam jiwa generasi peserta didik agar kelak ketika terjun di masyarakat bukan menjadi generasi yang kaya akan ilmu serta ahklaqul karimah yang baik serta peduli akan lingkungan di masyarakat kelak. Tetapi yang diharapkan adalah menjadi generasi di zaman milenial ini, yang cermat dalam bertindak, berilmu dan luas pandangannya, yang perduli dengan kondisi lingkungan dan masyarakatnya.

Dari pengertian di atas dapat kita simpulkan bahwa lembaga keagamaan yang menanamkan peserta didik berjiwa sosial serta ber-ahklaqul karimah berperan sangat penting dalam pendidikan sosial keagamaan. Namun, bila tidak tinggal di lingkungan lembaga keagamaan, lantas di mana kita bisa mendapatkan pendidikan sosial keagamaan? Maka itu sungguh beruntung mereka yang pernah atau sedang tinggal di lingkungan lembaga keagamaan yang berasrama seperti Pondok Pesantren. Menurut saya itu adalah suatu keistimewaan kita tinggal di lingkungan tersebut yang diajarkan nilai-nilai pendidikan sosial keagamaan. Meski jauh dari orangtua, kita setiap hari siang dan malam bersama para guru dan teman dalam lingkungan yang berasrama, namun harus mandiri dalam mengurus kebutuhan pribadi.

Itulah pembahasan mengenai contoh sosialisasi di lingkungan masyarakat dan bagaimana caranya agar keseimbangan dalam bermasyarakat tetap terjaga terkait dengan sosialisasi yang bersifat negatif dan positif. Semoga pembahasan ini dapat semakin membuka wawasan generasi zaman milenial untuk memperkaya pengetahuannya mengenai sosialisasi di rumah tangga, sekolah khususnya di lingkungan masyarakat. Pada akhirnya ingin menitip pesan. Jadilah generasi zaman milenial yang peduli dengan lingkungan sosial, saling menghargai serta cermat dalam bertindak. Mari kita bangun kepedulian agar masyarakat Indonesia menjadi yang aman dan tentram dalam kedamaian. (RR/SBS31)

You might also like
Comments
Loading...