Pentingnya Pendidikan Dalam Membangun Generasi Bangsa yang Militan

Oleh : Hilmi Samsudin, Anggota Komunitas Sahabat Pena

Serang (16/05/2019) SatuBanten.com – Di zaman milenial ini sungguh kita harus melihat realita yang ada, pemerintah tentunlah harus fokus melihat keadaan generasi saat ini, sebab Kondisi bangsa harus selalu di prioritaskan oleh pemerintah. Jangan sampai hal itu justru di lupakan atau di kesampingkan, sebab banyak dampak yang akan terjadi. Tentu jelas bila melihat pendidikan kini kian sakit, artinya pendidikan yang seharusnya merata disetiap daerah kota maupun pelosok desa tentulah harus sering di lirik, melihat banyaknya generasi muda yang akhirnya putus sekolah lantaran ekonomi yang tidak mendukung, dan akhirnya mereka harus fokus mencari penghidupan diluar sana.

Hal ini juga tentu menjadi tugas besar untuk kami selaku mahasiswa dan menjadi sebuah dorongan agar pemerintah mau berbenah dan mau melihat keadaan saat ini dilapanagan, seharusnya pemerintah tahu betul bahwa generasi bangsa ialah dibangun dari sebuah pendidikan yang berkualitas. Karena bangkit dan runtuhnya suatu bangsa itu di tandai oleh generasinya bukan hanya kekayaannya saja. Untuk apa kaya namun yang mengelola semuanya bukan rakyatnya sendiri, jangan salahkan kami jika suatu saat bangsa ini bobrok karena pendidikan yang asal-asalan atau tidak meratanya pendidikan.

Jika suatu bangsa banyak memunculkan generasi pembangun dan generasi pendobrak maka sudah dipastikan yakin bangsa dan negara akan maju. Generasi pendobrak dan pembangun adalah generasi yang cinta terhadap tanah airnya, cinta terhadap kebenaran dan keadilan generasi yang memiliki jiwa patriotisme tentunya, jika generasi sudah berkualitas tentu tidak perlu takut dengan persaingan-persaingan diluar. Akan tetapi sebaliknya jika bangsa banyak memunculkan generasi penikmat saja, artinya generasi yang hanya sebagai penonton negaranya sendiri tanpa berpikir untuk membangun, maka disinilah titik-titik suatu bangsa dan negara akan jatuh juga runtuh.

Apa lagi di zaman globalisasi, saat ini generasi bangsa di hadapkan dengan revolusi industri 4.0 yang mana lebih mengedepankan teknologi canggih. Sehingga generasi yang menolak teknologi akan di kesampingkan, revolusi industri 4.0 banyaknya teknologi canggih seperti gadget yang beredar ke pelosok-pelosok kampung. Persoalannya bukan hanya orang dewasa yang mengaplikasikan gadget tapi di kalangan anak anak TK dan SD pun sudah tidak asing lagi. Hal ini yang membuat hilangnya kepekaan terhadap lawan bicara sehingga memilih memainkan handphone sehingga memunculkan sikap manusia yang individualis dari pada bersosialisasi, tak hanya itu persoalan ini akan mengancam pula kepada budaya literasi yang menurun di kalangan anak muda.

Persoalan ini harus selalu ada dalam perhatian pemerintah terutama memprioritaskan sistem pendidikan nasional yang bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa, mencetak generasi generasi yang unggul berakhlak mulia dan mampu mengembalikan semangat generasi bangsa sehingga kehancuran bangsa dan negara dapat diminimalisir. Lalu kemudian, melihat anggaran untuk pendidikan sangat besar mencapai 20% yang tercatat dalam Undang Undang Dasar pasal (31) ayat (4) bahwa “Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang kurangnya 20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional”.

Mungkin sangat cukup jika digunakan dengan baik untuk menggaji tenaga pengajar, biaya sekolah gratis dan sarana prasarana yang lengkap membuat para siswa/i nyaman dan tidak adanya prasangka masyarakat terhadap pemerintah yang menyebut kapitalis pendidikan ke lembaga pendidikan. Pendidikan di Indonesia harus di gratiskan secara merata ke setiap penjuru negeri baik di perkotaan maupun pedesaan yang sekurang-kurangnya minimal 12 tahun merasakan pendidikan formal. Hal ini akan memberikan motivasi terhadap warga negara untuk semangat akan pentingnya pendidikan. Karena pendidikan adalah salah satu tugas negara terhadap masyarakat dan hak masyarakat untuk mendapatkannya dengan menyekolahkan anak-anaknya ke lembaga pendidikan. Maka generasi bangsa merasa terlindungi hak haknya sebagai warga negara. (RR/SBS31)

You might also like
Comments
Loading...