Pengalaman Praktek Mengajar Di Pondok Modern Darussalam Gontor

Oleh : Cecep Lalang Febrian, Mahasiswa Pendidikan Agama Islam Semester 2/PAI D, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan di UIN Sultan Maulana Hassanuddin Banten.

Serang (30/06/2019) SatuBanten. News – Bagi sebagian orang, ujian praktek mengajar yang menjadi step pertama ujian akhir siswa KMI itu mengerikan. Hal tersebut karena sebagian orang tidak terbiasa untuk berbicara di depan banyak orang. Apalagi dengan bahasa Arab atau Inggris, dalam konteks mengajarkan sesuatu. Itu sangat mengerikan, sampai-sampai ada cerita kelas 6 yang pingsan ketika sedang mengajar karena rasa gugup yang tidak tertahankan. Tapi bagi sebagian orang yang lain, momen menjadi pengajar dalam ujian praktek mengajar tersebut sudah ditunggu sejak lama. Bahkan ada sebagian yang ingin sekali untuk menjadi perdana amaliyah tadris.

Selain karena jika menjadi yang pertama maka setelah itu bisa fokus untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian tulis dan lisan, juga karena pengalaman menjadi perdana amaliyah tadris tersebut akan sangat berkesan. Mendapat bimbingan langsung dari guru senior berpengalaman, atau bahkan direktur KMI. Diantara sekian banyak orang yang berharap agar dirinya menjadi salah satu orang yang terpilih untuk menjadi amaliyah tadris perdana, saya adalah salah satunya. Tapi harapan tersebut tidak pernah terwujud karena pada kenyataannya, saya mendapat panggilan ke panitia Tarbiyah Amaliyah untuk ujian hari kelima, dengan materi yang tidak dipilih banyak orang, tapi justru menjadi materi yang sangat saya kuasai, conversation.

Dibandingkan dengan materi yang lain, seharusnya conversation adalah materi yang paling mudah. Selain karena materi yang diajarkan sangatlah mudah dan pendek, juga karena hanya di materi conversationlah, kelas 6 boleh membuat materinya sendiri. Dan saya mengalami keduanya. Setelah mendapatkan kartu ‘tugas’ mengajar, kelas 6 yang mengajar materi conversation dipinjami sebuah buku tipis berisi beberapa materi pendek yang bisa dipilih. Dengan sangat yakin, saya memilih sebuah materi yang tidak terlalu pendek, dan tidak pula terlalu panjang berjudul ‘World Map’ dengan alasan memilih yang salah, karena ceritanya lucu.

Cerita pendek berjudul World Map tersebut bercerita tentang seorang bapak yang karena sudah sangat bosan ditanyai anaknya tentang makna warna-warna di peta, akhirnya dengan gausar menjawab bahwa warna pada peta tidak berarti apapun selain agar peta tersebut menjadi terlihat indah. Cerita Humor tersebut, tentunya sangat tidak cocok untuk dijadikan materi yang diajarkan di kelas. Tapi karena lucu, saya memilihnya. Karena memiliki waktu 2 hari untuk menulis persiapan mengajar, saya tidak terlalu serius menulisnya pada malam pertama. Alhasil, saya harus menulis dengan mengebut pada hari kedua, sementara pada maghrib hari itu, saya sudah harus datang menemui pembimbing.

Ketika menulis persiapan mengajar berbahasa inggris tersebut, saya mulai menyadari bahwa materi yang akan saya ajarkan tersebut aneh. Pertama, karena informasi yang diajarkan di materi tersebut berupa pernyataan sang ayah bahwa warna pada peta tidak bermakna apapun adalah fakta yang tidak benar, kedua karena materi tersebut tidak memiliki inti, karena isi teks hanyalah pertanyaan sang anak tentang apa arti warna hijau, merah, dan biru. Kemudian jawaban sang ayah yang tidak lain adalah sebuah fakta yang salah. Bagaimanapun juga, saya tetap meneruskan penulisan persiapan mengajar tersebut, dengan hati tidak tenang karena materi yang saya ajarkan aneh sekali.

Tekad saya ketika menulis persiapan mengajar yang pertama tersebut bukan hanya agar selesai lalu bisa segera berlatih, tapi agar cepat selesai, kemudian melapor ke pembimbing dan segera mengulang untuk menulis persiapan mengajar yang kedua. Prinsip saya, maghrib itu harus membawa persiapan mengajar yang sudah jadi. Benar saja, walaupun pertamanya terlihat disembunyikan, mungkin karena pembimbing merasa tidak enak menyuruh saya untuk mengulang, beliau merasa ada yang aneh di persiapan mengajar saya. Malam itu juga, saya mengulangi penulisan persiapan mengajar dengan judul yang telah direvisi dan diubah isinya menjadi ‘The Map’. Di judul itu, saya menerangkan fungsi peta, dan jenis-jenis peta.

Berbekal pengalaman menulis persiapan mengajar yang sebelumnya, penulisan yang kedua itu berjalan lebih cepat. Pekerjaan yang sebelumnya saya lakukan selama 2 hari harus di lembur menjadi satu malam. Jika tidak selesai malam itu, resikonya saya tidak bisa berlatik untuk mengajar keesokan harinya. Malam itu menjadi pertama kali saya berjaga hingga tengah malam selama masa ujian praktek mengajar. Akhirnya, penulisan persiapan mengajar tersebut selesai pukul 2 dini hari. Ketika selesai menulis, saya merasa ada kekuatan tidak terlihat yang diberikan oleh allah untuk mampu menulis 12 halaman persiapan mengajar dalam satu malam. Ketika selesai, rasanya puas sekali, hebat sekali. Rasa tersebut baru saya rasakan 2 kali.

Ketika itu, dan ketika berhasil menyelesaikan soal fathul mu’jam pada ujian tulis gelombang pertama di menit-menit terakhir. Karena biasanya, saya tidak pernah berhasil menyelesaikan fathul mu’jam. Hari ketika mengajar pun menjadi hari yang luar biasa. Percakapan antara saya dan murid berlangsung dengan lancer, mungkin itu karena terbiasa mengajarkan kosa kata di rayon dulu. Satu hal yang membuat tarbiyah amaliyah itu menjadi mengesankan adalah, pernyataan sang pembimbing bahwa seperti itulah ruh pengajar yang sesungguhnya. Membuat saya benar-benar tak sabar untuk segera mengajar pada materi dan jam pelajaran saya sendiri nanti ketika sudah menjadi guru. (RR/SBS31)

You might also like
Comments
Loading...