Aspirasi Rakyat dan Terpercaya

Pendidikan yang Menggugah Intuisi

Ilham Nurseha, S.Pd (Mahasiswa Magister Pendidikan Biologi Universitas Negeri Jakarta)

OPINI (07/01/2020) SatuBanten.com – Kita sering mendengar kisah-kisah ulama dengan ketajaman intuisinya. Kejadian-kejadian yang mengagumkan sekaligus menggelitik terkait ketajaman intuisi ulama sering kali kita jumpai. Kejadian yang masih segar diingatan tentu tentang celetukan-celetukan KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Presiden Republik Indonesia keempat. Celetukannya yang kadang mengandung ramalan masa depam berkali-kali terbukti kebenarannya. Rasanya kebenaran ramalan-ramalan tersebut bukanlah suatu kebetulan.

Masing kita ingan ramalan Gus Dur tentang jatuhnya Presiden Soeharto pada tahun 1998, dirinya yang akan jadi Presiden, KH Said Aqil yang menjadi ketua NU, tentang kematiannya yang sudah ia prediksi sendiri merupakan beberapa kisah yang diceritakan orang-orang terdekat saat peringatan hari kematiannya. Masih banyak tentu kisah-kisah pemuka agama atau ulama yang mampu memprediksi suatu kejadian yang akan datang. Apa sebenarnya yang menyebabkan ulama memiliki kemampuan tersebut?

Intuisi merupakan faktor penyebabnya. Intuisi dalam kajian filsafat merupakan sumber pengetahuan, yang mana pengetahuan diperoleh dari kekuatan metafisik secara tiba-tiba. Bisikan-bisikan di dalam jiwa merupakan salah satu bentuk intuisi yang kebenarannya kadang melampaui rasionalitas. Misalkan saja saat langit cerah dan kita ingin pergi, kemudian tiba-tiba orang tua melarang kita pergi dengan alasan yang tidak jelas, tiba-tiba hujan dan petir datang. Secara rasional langit yang begitu cerah menunjukkan cuaca akan bagus, tetapi orang tua kita memperoleh intuisi bahwa akan terjadi hujan dan petir. Kadang hal seperti itu terjadi di kehidupan kita.

Menurut Ibn Sina intuisi merupakan sesuatu yang dimiliki oleh setiap manusia karena intuisi merupakan bagian dari jiwa. Intusi dapat dilatih dengan cara membersihkan jiwa, menjauhi ketergantungan terhadap hal-hal duniawi, dan mendekatkan diri kepada kekuatan metafisik. Dalam kajian islam kekuatan metafisik yang dimaksud adalah Allah SAW, sebagai sumber dari segara sumber pengetahuan. Jadi, orang-orang yang mensucikan jiwa menganggap bahwa pengetahuan akan benar jika diperoleh secara langsung (direct) dari sang pencipta, bukan dari akal atau indra yang terbatas.

Untuk memperoleh pengetahuan secara langsung (direct) dari sang pencipta menurut Al-Kindi dibutuhkan jiwa yang suci dari hal-hal yang materialistik. Proses menuju kesucian jiwa tertu memerlukan proses pendidikan dan pengajaran yang tidak sederhana. Sehingga dapat dipahami mengapa ulama-ulama memiliki ketajaman intuisi melebihi orang biasa karena mereka sudah melaui pendidikan agama dalam jangka waktu yang sangat lama, dengan mensucikan jiwa dari keburukan-keburukan duniawi.

Dikutip dari website Nahdathul Dlama Gus Dur sejak muda disiplin melakukan wirid, dzikir, atau amalan yang biasa dilakukan kalangan tarekat. Ziarah kubur kepada para ulama juga menjadi ritual Gus Dur yang dilakukan secara rutin, bahkan dengan fisik demikian beliau berjalan sejauh tiga kilometer ke makam Syeikh Abdullah Qutbuddin di Candirejo, dekat puncak Dieng. Belum lagi ke makam-makam ulama di luar negeri seperti makam Imam Ghazali, dan Ali Al-Humaidi. Gus Dur memang memiliki pengalaman spriritual yang sangat luas.


Jika dibandingkan dengan masyarakat umum yang hanya menerima pendidikan formal di sekolah dapat dipahami mengapa intuisi para ulama lebih tajam. Orang-orang yang menerima pendidikan formal di sekolah hanya dibimbing untuk mengembangkan cara memperoleh pengetahuan dengan rasionalisme, positivisme, empirisme, dan kritisisme. Sangat sedikit sekali porsi untuk mengembangkan intusi sebagai cara memperoleh pengetahuan.

Pendidikan formal di sekolah umumnya memang terkesan kurang seimbang dalam mengembangkan dimensi-dimensi ini. Pendidikan sekarang terasa mendewakan empirisme sebagai cara memperoleh pengetahuan. Hal-hal berkaiatan dengan pembelajaran seperti pendekatan saintifik, metode ilmiah, pengamatan merupakan turunan dari aliran empirisme dan positivisme. Kritisisme sendiri sebenarnya sudah mendapat porsi yang besar dalam sistem pendidikan umum di Indonesia.
Pondok Pesantren yang masih mengajarkan ajaran tarekat/sufisme mungkin bisa dikatakan unggul dalam mengembangkan intuisi santri-santrinya dibandingkan dengan sekolah-sekolah umum yang hanya mengembangkan empirisme dan kritisisme. Inipun masih membutuhkan proses spiritual yang panjang untuk mencapai ketajaman intuisi.

Akan tetapi pondok pesantren yang masih mengajarkan tarekat/sufisme biasanya kurang perduli dengan rasionalisme dan empirisme. Karenanya perlu pendidikan yang mensinergiskan antara dimensi-dimensi tersebut yang mengembangkan kemampuan rasional, empiris, dan intuisi. Sehingga akan terbentuk generasi yang kuat kemampuan berfikirnya, tetapi tidak alergi dengan hal-hal yang irasional karena rasionalisme terbatas pada pengetahuan lahiriah saja. (RR/SBS31)

You might also like
Comments
Loading...