Pendidikan di Indonesia Era Milenial

Oleh: Siti Anisa, Mahasiswi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Serang (29/06/2019) SatuBanten. News – Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Sedangkan, menurut Ki Hajar Dewantara, Pendidikan berarti daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, dan jasmani anak-anak selaras dengan alam dan masyarakatnya. Pendidikan mempunyai tujuan yang sangat mulia, yaitu untuk mengembangkan potensi diri peserta didik dan menjadikan peserta didik mempunyai akhlak yang baik juga bertanggung jawab dalam segala hal. Pendidikan biasa dilakukan dibangku sekolah maupun Universitas. Selain itu, pendidikan juga bisa di dapatkan saat bersosialisasi dalam lembaga atau suatu kelompok.

Pendidikan di Indonesia sendiri telah mengadakan program wajib belajar selama dua belas tahun guna tercapainya cita-cita anak bangsa. Dari tahun ke tahun Indonesia selalu memperbaiki kurikulum yang berlaku disetiap sekolah untuk tercapainya sistem pembelajaran yang efektif. Bahkan, pada era milenial ini, sudah banyak beasiswa yang ditawarkan oleh pemerintah, swasta, ataupun dari luar negeri. Beasiswa tersebut terbagi menjadi dua jenis, yaitu beasiswa penuh dan persial. Beasiswa penuh merupakan beasiswa yang mencakup biaya pendidikan, biaya hidup, biaya akomodasi, biaya perjalanan, biaya asuransi, bahkan sampai biaya sarana dan prasarana yang dibutuhkan selama menempuh pendidikan.

Sedangkan beasiswa persial yaitu beasiswa yang hanya menanggung sebagian dari total biaya yang dibutuhkan selama melanjutkan pendidikan dengan sarat dan ketentuan tersentu. Beasiswa yang diberikan oleh pemerintah saat ini sangat banyak, sebagai contohnya terdapat beasiswa Bidikmisi Kemenristekdikti 2019 untuk program kuliah S1. Selain dari pemerintah, terdapat juga beasiswa yang diberikan oleh pihak swasta, sebagai contohnya yaitu besiswa ACA yang diberikan oleh PT. Asuransi Central Asia untuk program D3. Namun, meskipun sudah ada beasiswa dari pemerintah maupun swasta, masih banyak para penerus bangsa yang memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan, karena menurut mereka sekolah tetap memerlukan biaya. Mereka lebih memilih bekerja daripada melanjutkan pendidikan, karena bagi mereka pendidikan tidak terlalu penting.

Pada era ini sebenarnya sangat mudah untuk menambah ilmu, bukan hanya lewat buku atau mendengarkan guru di sekolah, tetapi juga kita dapat mencari ilmu lewat media online. Belajar online ini sudah sangat terkenal di zaman milenial. Banyak situs-situs online yang dibentuk untuk belajar, salah satu contohnya yaitu ruang guru. Ruang guru ini merupakan salah satu situs belajar online yang banyak diminati di Indonesia, situs ini seperti melakukan pembelajaran biasa di sekolah, namun penjelasannya lebih rinci. Kita juga bisa belajar sendiri dari media online dengan membuka google dan mencari ilmu yang ingin kita pelajari. Hal tersebut tentu saja hasil dari perkembangan teknologi saat ini. Sebenarnya, pendidikan di Indonesia sudah bagus, banyak para pengajar yang mempunyai akreditasi baik.

Namun, menurut saya pendidikan di Indonesia lebih mengutamakan nilai daripada sikap seseorang. Banyak orang yang berpendidikan namun mereka menyalahgunakan kewenangan, seperti korupsi yang tiada henti di Indonesia. Bukankah seharusnya sikap tidak baik itu dihilangkan dari Indonesia. Para penerus bangsa pun lebih mengutamakan nilai daripada sikapnya, banyak dari mereka yang menggunakan cara licik dalam ulangan sekolah, hal tersebut merupakan salah satu contoh tidak baik dari akhlak mereka. Mereka melakukan kecurangan agar mendapatkan nilai yang besar dengan keinginan kelak akan mudah mendapatkan pekerjaan. Setiap sekolah maupun Universitas selalu bicara bahwa mereka mengutamakan sikap daripada nilai.

Namun, realisasinya hal tersebut belum juga tercapai maksimal, karena masih banyak yang melakukan kecurangan-kecurangan demi mendapatkan nilai yang besar dan juga merosotnya sikap anak didik pada era ini, contohnya masih banyak tawuran antar pelajar yang terjadi pada saat ini. Pendidikan di Indonesia seharusnya lebih mengutamakan sikap dari pada nilai karena pada dasarnya sikap akan melekat dalam diri seseorang selamanya. Agar kelak saat mereka menjadi pemimpin atau bekerja di instansi apapun, mereka dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Guru maupun Dosen juga harus mampu menjadi contoh bagi anak didiknya, karena dengan begitu maka para siswa maupun mahasiswa sedikit demi sedikit akan mempunyai sikap dan etika yang baik. (RR/SBS31)

You might also like
Comments
Loading...