Para Napi Kuliah S2 di Lapas, Menkumham Mengaku Kecolongan

Satubanten.com – Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham), Yasonna H. Laoly, mengaku kecolongan dengan fasilitas kuliah S2 bagi terpidana korupsi di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat. Para narapidana koruptor mengikuti perkuliahan magister hukum bekerja sama dengan Universitas Pasundan (Unpas), Bandung.

Sebanyak 23 napi koruptor terdaftar termasuk Nazaruddin, Luthfi Hasan, dan Rudi Rubiandini. Mereka akan mendapat perkuliahan Senin sampai Kamis di lapas, pada pukul 14.00-17.30 WIB. “Biaya bagi yang di lapas Rp30 juta sampai selesai,” jelas Direktur Pascasarjana Unpas Prof. Dr. Didi Turmudzi, Rabu (26/11/2014) silam.

Kepala Lapas Sukamiskin IA Bandung, Marselina Budiningsih menuturkan, program perkuliahan Magister Hukum itu merupakan tindak lanjut nota kesepahaman antara Lapas Sukamiskin dengan Unpas pada April 2014 untuk menambah wawasan ilmu hukum para narapidana.

“Program pendidikan S2 di Lapas Sukamiskin adalah yang pertama di Indonesia, diharapkan ini menjadi contoh program pendidikan lanjutan di LP,” jelasnya pada 25 November lalu. Ternyata, program ini di luar sepengetahuan Menkumham.

Setahu Yasonna, program pendidikan di penjara adalah kuliah sarjana atau S1 untuk para narapidana miskin. Dikutip dari VIVANews, Menteri Yasonna mengaku tidak tahu jika ada fasilitas kuliah S2 untuk para koruptor. “Hari ini saya memanggil Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Jawa Barat, dan Kalapas (Kepala Lembaga Pemasyarakatan),” tegasnya, Rabu (3/12).

Sementara itu, menanggapi kritik masyarakat terhadap program tersebut, Didi Turmudzi menyatakan bahwa para narapidana juga memiliki hak untuk mendapatkan ilmu. “Inti dari pendidikan magister hukum ini juga dalam rangka membangun akhlak para mahasiswa S2 yang berada di lapas, sehingga mereka setelah lulus menjadi sosok yang lebih cerdas,” katanya. (B02)

You might also like
Comments
Loading...