Aspirasi Rakyat dan Terpercaya

Pantauan Kamera Trap: Jumlah Badak Jawa Capai Angka 72 Ekor

Jakarta (10/12/2019), Satu Banten – Populasi Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), yang saat ini mendiami kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) saat ini diprediksi telah meningkat menjadi 72 setelah empat anak badak baru terlihat dalam beberapa bulan terakhir.

Dikutip dari Mongabay (9/12/2019), para ahli badak menyambut baik berita tentang peningkatan populasi badak Jawa, sebagai spesies yang hampir punah karena perburuan dan hilangnya habitat. Satu-satunya populasi badak Jawa yang diketahui sekarang terbatas pada habitat tunggal yang berbahaya di Taman Nasional Ujung Kulon di ujung barat Pulau Jawa Indonesia.

Pada akhir April tahun lalu, jumlahnya sempat diperkirakan menurun menjadi 68 ekor setelah kematian seekor badak remaja berjenis kelamin laki-laki karena cedera kritis yang diyakini disebabkan oleh badak yang lebih tua.

Sejak saat itu, sebuah penelitian yang dilakukan oleh International Rhino Foundation (IRF), menggunakan perangkap kamera khusus di tengah hutan TNUK itu mengamati empat anak badak baru.

“Kami sangat senang melihat kelahiran badak baru terjadi di Ujung Kulon,” ungkap Cece Sieffert, penjabat direktur eksekutif IRF.

Lebih lanjut Sieffert mengatakan bahwa populasi angka 70 merupakan sebuah keajaiban. “Saat ini jumlah populasi 70 ekor Badak Jawa adalah tonggak penting.”

Perangkap kamera merekam Badak Jawa betina dengan anaknya. (foto: TNUK)

Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia mengatakan anak-anak badak yang baru memiliki ibu yang berbeda dan semuanya terlihat berada di dalam Taman Nasional.

“Taman Nasional Ujung Kulon dianggap aman dari ancaman terhadap kawasan tersebut sehingga satwa liar di sana dapat berkembang biak,” ujar Indra Exploitasia, Direktur Keanekaragaman Hayati.

Upaya pelestraian Badak Jawa menjadi salah satu prioritas yang dilakukan oleh kementrian.

“Kami juga menggulirkan program untuk mempertahankan habitat alamiah bagi kehidupan badak di TNUK, seperti membersihkan tanaman invasif yang mengganggu pertumbuhan vegetasi yang dimakan badak,” tambahnya.

Satu dekade lalu, populasi badak Jawa diperkirakan tidak lebih dari 50 ekor di TNUK yang mencakup 787 kilometer persegi (304 mil persegi). (Ada juga kawasan lindung laut seluas 443 kilometer persegi, atau 171 mil persegi.)

Upaya pemerintah Indonesia dan organisasi dari seluruh dunia untuk meningkatkan keamanan di seluruh wilayah dari perambahan dan perburuan telah diberlakukan selama bertahun-tahun, dan para ahli sekarang mengatakan bahwa mereka telah menghasilkan peningkatan jumlah badak yang stabil.

IRF mengatakan tidak ada perburuan liar di taman nasional dalam lebih dari 20 tahun, dan setidaknya satu anak badak baru lahir setiap tahun sejak 2012. Patroli laut saat ini sedang dilatih dan diharapkan akan mulai memantau garis pantai TNUK.

“Ini adalah bukti komitmen pemerintah dan pejabat taman nasional untuk melindungi Badak Jawa dan habitatnya,” kata Sieffert.

Meskipun populasinya terus tumbuh, spesies ini tetap berisiko dari berbagai ancaman, mulai dari penyakit menular dan aktivitas manusia, hingga bencana alam. Para ahli juga khawatir Ujung Kulon mendekati atau mendekati daya dukungnya untuk spesies tersebut, sehingga membatasi pertumbuhan populasi di masa depan.

Faktor-faktor ini telah mendorong pemerintah dan kelompok konservasi untuk bekerja bersama untuk menemukan habitat kedua yang cocok untuk membangun populasi badak baru. Rencana tersebut semakin mendesak setelah tsunami melanda Ujung Kulon pada bulan Desember 2018. Tidak ada badak yang terluka saat itu, bencana tersebut menyoroti betapa gentingnya tempat perlindungan Badak Jawa. (Budi/SBS)

You might also like
Comments
Loading...