Pandemi Ekonomi di Era New Normal

Oleh :
Fanny Adinda Putri
Mahasiswi Mahasiswi Magister Manajemen Universitas Pamulang


Penyebaran virus Covid-19 yang begitu masif membuat para pemimpin dunia harus memutar otak untuk meminimalisir dampak dari virus tersebut terhadap ketahanan nasional negara mereka masing-masing terutama dalam bidang ekonomi. Akibat dari penyebaran virus tersebut membuat keuangan negara-negara di dunia termasuk Indonesia mengalami gangguan dan berada dalam kondisi yang tidak sehat, hal ini dikarenakan sebagian besar keuangan negara harus dialokasikan untuk menghentikan virus mematikan tersebut.

Segala macam cara dan upaya dilakukan, salah satunya dengan menerapkan kebijakan new normal untuk memulihkan kondisi ekonomi negara. Kata new normal itu sendiri disampaikan langsung oleh juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 Achmad Yurianto dalam keterangan persnya pada tanggal 28 Mei 2020 lalu yang berarti masyarakat harus menjaga produktivitas di tengah pandemi virus Covid-19 dengan tatanan baru mulai dari kebiasaan dan perilaku yang baru berbasis pada adaptasi untuk membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat.

Menurut IMF pada bulan januari memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan menyusut sebesar 3,3%, tetapi pada bulan april IMF memangkas prediksi itu menjadi minus 3%. IMF juga mengatakan perekonomian tahun 2020 adalah perekonomian terburuk setelah Great Depression tahun 1930an. Serta lebih buruk dibanding krisis global yang terjadi pada tahun 2008-2009. Untuk tahun 2021 diperkirakan ekonomi akan tumbuh kembali sebesar 5,8 %, tetapi pemulihan ini bersifat parsial. Sedangkan menurut Bank Dunia untuk pertumbuhan ekonomi indonesia sendiri turun drastis diangka 0% menuju fase negatif, jauh berbeda dari kenyataan pada tahun sebelumnya tahun 2019 yang tumbuh dikisaran angka 5%. Indonesia sendiri padahal belum memasuki puncak pandemi Covid-19 menurut Bank Dunia.

Faktor-faktor yang menyebabkan angka pertumbuhan ekonomi yang rendah dikarenakan adanya beberapa negara didunia yang menerapkan Lockdown atau jika di Indonesia sendiri lebih dikenal dengan PSBB sehingga beberapa kegiatan masyarakat terhenti misalnya pada bidang perdagangan, pariwisata, sekolah, perkantoran serta rantai pasokan. Pada lingkungan perusahaan sendiri memberikan efek adanya PHK besar-besaran terhadap karyawan serta karena perusahaan tersebut tidak berjalan dengan optimal sehingga tidak adanya pemasukan. Sedangkan pada UMKM pendapatan terus menurun karena daya konsumsi masyarakat yang rendah.

Adanya Kebijakan di era new normal diharapkan mampu menggairahkan dan menstimulasi pertumbuhan ekonomi yang saat ini sedang layu, WHO sendiri memberikan beberapa indikator agar dipatuhi untuk menghadapi atau menjalani kehidupan normal yang baru hal ini diterapkan sampai vaksin ditemukan, indikatorya sebagai berikut :
1. Tidak menambah penularan atau memperluas penularan atau semaksimalnya mengurangi penularan. Saat ini di indonesia angka penularan dari 1 orang bisa menularkan 2-3 orang, tugas pemerintah dan masyarakat harus menekan di bawah angka 1, yang artinya orang yang terkena tidak sampai menularkan ke orang lain.
2. Menggunakan indikator sistem kesehatan yakni seberapa tinggi adaptasi dan kapasitas dari sistem kesehatan bisa merespons untuk pelayanan Covid-19. Artinya banyakya pelayanan covid 19 kapasitasnya harus lebih besar dibanding pasien Covid-19
3. Surveilans yakni cara menguji seseorang atau sekelompok kerumunan apakah dia berpotensi memiliki Covid-19 atau tidak sehingga dilakukan tes masif. Tes masif di Indonesia masih tergolong rendah dengan kisaran 743 per 1 juta penduduk, diharapkan akan terus ditingkatkan.

Apabila sebuah daerah sudah bisa menekan angka penularan dibawah 1 selama 14 hari maka daerah itu sudah bisa melakukan pengurangan penyesuaian PSBB. Era New Normal ini semestinya belum bisa diterapkan waktu sekarang karena dilihat dari kedisiplinan warga indonesia sendiri yang masih tidak disiplin untuk mengikuti protokol Covid-19 dan juga tes masif yang masih relatif rendah belum menjangkau seluruh masyarakat, dikhawatirkan banyaknya masyrakat yang sebenarnya terjangkit Covid-19 tetapi ia tidak mengetahui dan tetap beraktivitas seperti biasa sehingga menularkan ke orang lain yang berinteraksi dengannya.

New normal ini bisa diterapkan apabila pemerintah sudah melakukan tes covid masal diseluruh indonesia lalu sudah dapat menangani pasien yang positif dengan tepat dan optimal. Ditakutkan apabila new normal ini diterapkan sekarang lonjakan pasien covid bertambah signifikan dan hal ini juga akan berpengaruh terhadap bertambah besarnya pengeluaran negara untuk membiayai alat kesehatan yang memadai guna merawat pasien covid, pengeluaran negara yang bertambah besar karena meningkatya pasien positif corona ini kemungkinan bisa berdampak pada penurunan nilai pertumbuhan ekonomi yang semakin anjlok. Selain itu bisa bertambahnya pekerja yang di PHK karena terjangkit corona dan hal ini bisa menambah angka kemiskinan.

Oleh karena itu dibutuhkan peran seluruh stakeholder bangsa ini agar kembali bangkit dari keterpurukan dalam segala aspek terutama aspek financial selama masa pandemi Covid-19 ini dan mudah-mudahan dengan regulasi New Normal yang dilakukan Pemerintah sekarang membawa dampak baik bagi bangsa ini khususnya dibidang keuangan. Karena uang memang tidak dibawa mati, tapi kalau tidak punya uang rasaya membuat kita ingin mati. (*)

You might also like
Comments
Loading...