Pandemi dan Kekuatan Ekonomi Anak Bangsa

Pandemi ini akan membuat masyarakat kita semakin kreatif. Bagaimana tidak, Banyak pabrik dan perusahaan harus gulung tikar karena efek dari Covid. Bukan lagi sekelas pedagang kaki lima, tapi perusahaan raksasa seperti Singapore Airlines dan Emirate saja sudah merumahkan ribuan karyawannya di seluruh dunia.

Putar otak dan kreatifitas terus dilakukan demi bertahan dan mencari jalan keluar menyambung hidup.

Beberapa pilot sudah harus banting stir, mulai dari membuka rumah makan hingga menjadi supir taksi online. Begitupula dengan kehidupan para selebriti yang sudah sekian bulan tak lagi pentas dan tidak memiliki penghasilan dan harus berjualan online.

Sejak bulan ramadhan lalu, Pizza Hut sudah “turun ke jalan” menjajakan dagangannya. Kalau di Banten, ada di Ciceri, alun-alun Serang, Simpang Cilegon, Pasar Anyer dan Pondok Kacang Bintaro.

Saya perhatikan inilah salah satu cara bertahan yang dilakukan oleh para “pemain besar” agar tetap dekat konsumen mereka.

Tiga hari lalu, salah satu gerai masakan Jepang Ichiban mulai mengikuti teknik marketing kaki lima yang langsung terjun ke pinggir jalan menjajakan dagangannya di depan stadion Ciceri.

Inilah salah satu meraih pasar yang terus tergerus tingkat daya beli dan pembatasan aturan larangan makan di tempat.

Lantas saya membandingkan dengan para pedagang keliling yang telah lebih dahulu sejak lama menjajakan dagangannya menyusuri jalanan.

Ada baiknya memang pembinaan UMKM ditujukan bagi mereka yang minim modal dan besar kemauan berusaha di jalanan.

Tidak perlu repot-repot, ajak mereka berkegiatan dengan standar kebersihan dan penampilan yang lebih baik lagi agar konsumen lebih percaya dan lebih menikmati jualan mereka.

Kelihatannya kecil tapi kelak memberikan efek dan nilai tambah bagi mereka.

Kerjaan para pedagang keliling menjadi lebih terorganisir dan lebih dekat pada pola hidup bersih dan sehat.

Saya jadi ingat kalau kita makan es krim potong di Orchard atau Merlion yang menggunakan sepeda. Sama seperti kalau kita makan di sekitaran Pattaya atau Bangkok dengan sedemikian banyak pedagang makanan di pinggir jalan yang dijajakan oleh para remaja dengan kemasan yang apik dan para penjualnya yang elegan.

Negara lain seperti Jepang dan Korea juga sama, para pedagang kaki lima mereka lebih tertata dan sesekali diambil sampling random untuk mengecek kebersihan makanan mereka.

Di Indonesia, beberapa pedagang kaki lima yang kreatif mengenakan jas dan dasi untuk menarik para pembeli dan itu berhasil.

Tidak salah kalau mulai dicoba, agar pelatihan UMKM bisa lebih tepat sasaran. Mulai dari kebersihan, kesehatan dan kehalalannya… aamiin.

Comments
Loading...