No Bra Day dan Minimnya Kampanye Kesadaran Kanker Payudara di Banten

Cilegon (19/10/2019), Satubanten.com – Bulan Oktober menjadi bulan kesadaran Kanker Payudara Internasional. Dalam bulan Oktober ini bahkan ada gerakan yang dikenal dengan No Bra Day. Setiap tanggal 13 Oktober, netizen beramai-ramai mengunggah foto tanpa Bra di media sosial dengan tagar #NoBraDay. Gerakan ini pertama kali dirayakan tahun 2011 tapi mulai menjadi sorotan di tahun 2015.

Gerakan ini sebenarnya digagas sebagai bentuk kepedulian dan kewaspadaan terhadap kanker payudara (breast cancer). Tetapi, ada beberapa pihak yang memandang bahwa kampanye ini malah menjadi objek male gazing. Salah satunya yakni Tosin (@Ohloowatoscene) yang mentweet di twitter “#NoBraDay is a day for breast cancer awareness and not the day to showcase your day for clout. I pray you don’t experience breast cancer in your life“. Postingannya menjadi salah satu tweet paling mengispirasi dalam perayaan #NoBraDay tahun ini.

Meski ditujukan sebagai bentuk kepedulian terhadap penderita kanker Payudara, namun penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara penggunaan Bra dan kemungkinan sebab kanker Payudara. Dalam jurnal berjudul “Bra Wearing Not Associated with Breast Cancer Risk: A Population-Based Case–Control Study” yang terbit tahun 2014 dikatakan bahwa, no evidence that any aspect of bra wearing is associated with risk of either IDC or ILC breast cancer (tidak ada bukti keterkaitan antara penggunaan Bra dengan resiko kanker baik IDC maupun ILC,red),”

Meski tidak berhubungan, Tati Rahmawati yang Ibunya merupakan Cancer Survivor, memandang perlu adanya kampanye kepedulian terhadap resiko adanya kanker Payudara. Tati sendiri sudah hampir 12 tahun menemani ibunya menghadapi kanker Payudara.

“No Bra Day ini kan semacam kepedulian agar kita mau lakukan SEDARI atau Periksa Payudara Sendiri untuk deteksi awal kanker payudara. Ini penting, supaya tahu apa yang harus dilakukan oleh perempuan apalagi dengan faktor resiko tinggi. Sehingga lebih memudahkan prosedur yang harus dilalui jika terkena kanker payudara,” tuturnya saat diwawancarai Satubanten.

Banten menjadi daerah yang termasuk 5 besar penderita Kanker Payudara terbanyak setelah Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur dan DKI Jakarta. Dalam Jurnal berjudul Sebaran Kanker di Indonesia, Riset Kesehatan Dasar 2007, yang disetujui tahun 2017, disebutkan bahwa penderita kanker Payudara di Banten mencapai 45 penderita dari total  248 penderita semua jenis kanker di Banten.

Sedangkan menurut data Dinas Kesehatan Provinsi Banten, jumlah kasus penderita kanker payudara hingga tahun 2014 mencapai 325 kasus. Tetapi dalam laporan tahunan Profil Kesehatan Banten Tahun 2017 disebutkan bahwa jumlah kasus positif Kanker Payudara hingga tahun 2016 jumlahnya mencapai 219 pasien. Banyaknya kasus penderita kanker payudara inilah yang menurut Tati, menjadi sebab pentingnya kegiatan atau kampanye tentang bahaya Kanker Payudara di Banten yang hingga sekarang masih minim.

“Rasanya belum banyak kegiatan atau program yang coba kampanyekan peduli Kanker Payudara di sini. Bisa jadi ada, tapi saya tak mengetahuinya. Di sekitar apotek saja, ada 3 orang terkena ca payudara,” imbuhnya.

Meski demikian, Tati mengatakan bahwa untuk penanganan medis khususnya di daerah Banten dirinya merasa sangat terbantu dengan adanya program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS) Kesehatan. Ia merasakan sendiri saat menemani Ibunya menghadapi Kanker Payudara sejak 12 tahun lalu.

“Dari pengamatan saya, juga berdasarkan informasi dari beberapa pasien yang terkena kanker, itu sangat tertolong dengan adanya program BPJS. Waktu Ibu 12 tahun lalu, pengobatan begitu mahalnya hingga kami pun tak sanggup untuk melanjutkan terapi,” kata Tati.

Di Indonesia, para pejuang Kanker (Ca Survivor) tergabung dalam komunitas yang diberi nama Lavender Ribbon Cancer Support Group. Komunitas yang merupakan wadah komunikasi dan edukasi penyandang kanker ini pertama kali diinisiasi oleh Indira Abidin. Melalui Blog pribadinya, Indira menceritakan bahwa ia pertama kali membuat komunitas Lavender bersama (alm) Nita, sahabat dan partnernya. Meski bertujuan baik, Indira mengaku tidak semua Ca Survivor mau terbuka.

“Semua yang tadinya satu persatu kami bantu bisa dikumpulkan dan dipertemukan. Alhamdulillah semua happy dipertemukan. Meskipun ada juga yang lebih senang private dan tak mau dimasukkan group. Ada juga yang mengganti nama dulu baru mau dimasukkan group. Tak apa. Aku dan Nita bahagia dengan apapun yang mereka inginkan,” tutur Indira.

Kecenderungan rasa minder ini hampir sama seperti yang dialami oleh Ibunda Tati. Dalam hal ini peran keluarga menurut Tati sangat vital untuk membantu pasien, apalagi jika sudah masuk dalam tahap paliatif.

“Ibu saya dulu sempat tidak percaya diri saat baru mengalami pengangkatan payudara kanannya. Kanker itu bukan penyakit menular. Tapi saat masuk tahap paliatif kadang pasien kan sudah drop banget kondisinya. Nah, saat hanya bisa berbaring saja, kita sebagai keluarga terdekat ya harus menjaga kebersihanya,” pungkasnya (IBC/SBS032)

You might also like
Comments
Loading...