Nilai Rupiah Melorot; Terburuk Sejak 1998

Jakarta (21/12/2014), SatuBanten – Dalam sepekan terakhir, berdasarkan kurs referensi yang dilansir Bank Indonesia (BI), nilai tukar rupiah terus melemah 68 poin (0,54%) ke posisi 12.500 per dolar AS pada pekan yang berakhir Jumat, 19 Desember 2014 dibandingkan akhir pekan sebelumnya, 12.432 pada 12 Desember 2014.

Rupiah mencapai level terlemahnya hingga 12.900 per dolar AS pada 16 Desember 2014 yang merupakan level terlemah sejak krisis 1998. Angka tersebut, melemah 468 poin (3,76%) dibandingkan akhir pekan sebelumnya.

Reza Priyambada, kepala riset Woori Korindo Securities Indonesia (WKSI) mengatakan, terdapat sentimen kembali meningkatnya harga minyak mentah dunia seiring dengan kembali meningkatnya tensi geopolitik di Libya dan aksi mogok pekerja tambang minyak di Nigeria. “Akan tetapi, hal itu belum signifikan mengimbangi masih berlanjutnya penguatan dolar AS,” ungkap Reza di Jakarta, Ahad (21/12/2014).

Penilaian masih berlanjutnya peluang kenaikan BI rate dan penilaian maraknya jatuh tempo utang para korporasi turut menambah sentimen negatif. “Sentimen dari meningkatnya suku bunga Rusia menjadi 17% dari 10,5% secara tidak terduga dan terapresiasinya Yen setelah merespons masih turunnya harga minyak, tidak berimbas positif pada laju rupiah yang kian hari kian tertekan,” papar dia.

Tampaknya, lanjut Reza, hasil rapat the Federal Open Market Committee (FOMC) yang memberikan sinyal belum akan dinaikannya suku bunga The Fed memberikan angin segar bagi rupiah untuk dapat melanjutkan penguatannya. “Meski yuan China dan won Korea Selatan melemah, tidak menghalangi rupiah untuk dapat bergerak positif,” katanya.

Penguatan rupiah seiring juga dengan adanya sentimen positif tambahan dari penguatan poundsterling dan pernyataan BI yang dinilai cukup positif. “BI memberikan sinyal kepastian level yang akan dijaga, yaitu di level 11.900 hingga 12.300 per dolar AS, namun minggu ini merupakan minggu terburuk dari melorotnya nilai rupiah terhadap dollar Amerika,” imbuhnnya. 

Sementara itu, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan melemahnya rupiah terhadap dollar hanya bersifat temporer lantaran adanya antisipasi terhadap hasil rapat federal open market committee (FOMC) yang akan menaikkan tingkat besaran suku bunga.

“Karena sektor manufaktur bukan komoditas. Jadi ini menguntungkan. Maka ambil manfaat dan kesempatan untuk mengekspor sektor manufaktur,” kata Bambang . (Ahmad/B01)

You might also like
Comments
Loading...