Ngabedahkeun Walungan, Tradisi Warga Sawarna Dalam Menjaga Budaya Leluhur

Lebak (17/11/2019), Satubanten.com – Ribuan orang berkumpul di hilir sungai Cisawarna, Desa Sawarna, Kacamatan Bayah, Kabupaten Lebak. Mereka datang dari berbagai Kampung untuk ikut dalam acara tradisi “Ngabedahkeun Walungan”.

Tradisi “Ngabedahkeun Walungan” sebetulnya merupakan tradisi yang sudah ada sejak jaman dahulu. Menurut  Erwin selaku Jaro di Desa Sawarna, tradisi “Ngabedahkeun Walungan” di periode tahun 80-an sering dilakukan. Namun kini, masyarakat sudah jarang melakukan tradisi tersebut.

“Sebetulnya tradisi Ngabedahkeun Walungan itu sudah ada sejak dulu. Kalau dulu di tahun 80-an, sering dilakukan. Tapi sekarang sudah jarang, makanya kami pengen supaya itu dibangkitkan lagi,” kata Erwin.

Tradisi “Ngabedahkeun Walungan” adalah acara pengerukan kembali sungai yang telah tertutup oleh tanah atau pasir endapan. Biasanya pasir-pasir yang mengendap merupakan  bawaan dari air laut yang pasang.

Akibatnya, aliran sungai menjadi tersendat dan tidak lancar. Air dan kotoran yang terbawa oleh sungai kemudian ikut menggenang dan menimbulkan bibit penyakit seperti Malaria.

Oleh karena itu, Jaro Erwin bertekad untuk menghidupkan kembali tradisi tersebut. Dengan adanya tradisi “Ngabedahkeun Walungan” ini, diharapkan  bibit penyakit yang bersarang di air sungai yang menggenang, bisa teratasi.

Selain sebagai sarana kesehatan, Jaro Erwin juga mengatakan bahwa tradisi “Ngabedahkeun Walungan” ini, juga bermanfaat sebagai hiburan warga. Hal ini lantaran sebelum acara dimulai, di sungai tersebut sudah disebar ikan. Dan hasil tangkapan kemudian bisa dilombakan, baik dalam kategori tangkapan terbanyak atau tangkapan terbesar. Sehingga masyarakat bisa ikut bersenang senang dengan mencari ikan.

“Jadi semalem sebelumnya kita taruh dulu bermacam ikan, barang 1 kwintal, ya macam-macam jenis Ikan. Nanti masyarakat turun mencari. Mereka bawanya macem-macem, ada yang pakai serokan, sirib, kecrik dan lain-lain, ” imbuhnya.

Menurut Erwinn, selain menggunakan alat standar penangkap Ikan, banyak juga Ibu-ibu yang menggunakan pakaian yang dipakai. Misalnya dengan bagian daster yang didukung, kemudian menyerupai jaring untuk menangkap ikan dan dijadikan lauk pauk.

Manfaat ketiga dari tradisi “Ngabedahkeun Walungan” ini, bisa menjadi destinasi wisata budaya yang baru di daerah Sawarna. Ini terbukti dengan banyaknya antusiasme warga.

“Tahun ini sebetulnya sudah masuk menjadi salah satu destinasi wisata budaya. Kebetulan kemarin ada festival Kolecer, Festival Surfing, dan ditutup ini terakhir, acara Ngabedahkeun  Walungan ini,” kata Jaro Erwin.

Meski Erwin berencana menjadikan “Ngabedahkeun Walungan” sebagai salah satu wisata tradisi, namun sebenarnya tidak ada waktu patokan dalam merayakanannya.

“Kadang setahun bisa sampai 4 sampai 5 kali. Tergantung kondisi air. Kalau kemarau, dan air laut pasang, dalam jangka 2 bulan sungai sudah ketutup kembali,” imbuhnya.

Kedepannya, Erwin berharap tradisi ini menjadi destinasi wisata edukasi bukan hanya warga lokal tapi juga bagi wisatawan dari luar Sawarna. Sehingga bisa menjaga tradisi, sekaligus menyehatkan bagi masyarakat.

“Untuk tahun ini sebetulnya sudah Ngabedahkeun ini sudah masuk program destinasi wisata. Yang datang juga dari kampung-kampung lainnya seperti Cilograng dan kampung lain juga. Kalau dihitung mencapai seribuan orang. Kebetulan kita tiap bulan juga ada acara tradisi Salawena, yaitu menangkap ikan kecil di sungai. Kedua tradisi ini juga bisa kita gabungkan,” pungkasnya.

You might also like
Comments
Loading...