New Normal Sebagai New Chance untuk Memenuhi Kebutuhan Pangan

Oleh : Lulu Zakiyah Hasna

 

 

Lulu Zakiyah Hasna

Mahasiswa aktif jurusan Teknologi Pangan

Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Pandemi Covid-19 telah menjadi hambatan bagi sebagian orang sejak tahun 2019. Berbagai sektor telah terkena dampak dari adanya virus ini. Banyak negara di dunia terancam mengalami krisis pangan karena pemerintah yang terlalu fokus meminimalisasi penyebaran virus. Hadirnya kebijakan-kebijakan dalam hal pembatasan seperti lock down tentu saja berdampak pada pendistribusian pangan. Dikutip dari Kompas (2020) di dalam Sakharina (2020), pada akhir bulan Maret, tercatat ada 16 negara yang telah melakukan lock down. Akibat kebijakan ini, negara seperti Spanyol turut terkena imbas karena buruh tani imigran tidak dapat didatangkan dari Maroko.

Pemerintah Indonesia tentunya juga mengambil tindakan karena hadirnya pandemi ini. Presiden Joko Widodo telah menetapkan Peraturan Pemerintah No. 21 tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease (Covid-19). Meskipun lock down tidak diberlakukan di Indonesia, bukan berarti kebijakan tersebut tidak berdampak negatif bagi negara ini. PSBB mengakibatkan terganggunya transportasi, penutupan toko, perusahaan, dan pabrik-pabrik. Penutupan ini pastinya berdampak pada perekonomian karena untuk meminimalisasi pengeluaran, para pengusaha melakukan pengurangan pegawai. Banyak orang kehilangan pekerjaan yang berdampak pada terganggunya kemampuan dalam pemenuhan pangan. Seperti halnya yang tengah ramai di situs berita online oleh Fahzry (2020), terdapat seorang Ibu di Kota Serang, Banten bernama Yuli Nurmelia (43) yang diduga meninggal karena kelaparan setelah hanya mampu makan singkong dan meminum air galon isi ulang selama pandemi Covid-19.

Peristiwa yang terjadi pada Ibu Yuli dapat diminimalisasi dengan melakukan urban farming guna membantu dalam memenuhi kebutuhan pangan dalam lingkup keluarga. Pekarangan rumah merupakan media yang strategis untuk bercocok tanam, bahkan gerakan ini sangat didukung oleh pemerintah. Menurut BKP Kementrian Pertanian (2020), melalui kegiatan Pekarangan Pangan Lestari (P2L), tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan ditingkat rumah tangga, namun dapat juga mengurangi pengeluaran, bahkan meningkatkan pendapatan rumah tangga jika dikelola secara maksimal. Jika tidak memiliki pekarangan, perabotan seperti ember dapat digunakan sebagai media untuk menanam berbagai jenis sayur (akuaponik). Seperti yang dinyatakan oleh Wibowo et al. (2020), jenis tanaman yang cocok dalam sistem akuaponik yaitu sayuran daun dan buah. Sayuran daun seperti kangkong, bayam dan sawi.

Selain untuk menanam sayuran, akuaponik juga sangat bermanfaat untuk berternak ikan. Terobosan ini tentu sangat bermanfaat guna membantu memenuhi kebutuhan akan protein hewani dalam skala rumahan. Jenis ikan yang biasanya dibiakkan adalah nila dan lele. Jenis ikan tersebut cocok dengan akuaponik karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan banyak dikonsumsi oleh berbagai kalangan.

Tanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan pangan tidak dapat serta-merta dibebankan seluruhnya kepada pemerintah. Ketika pemerintah berusaha dalam skala yang besar, masyarakat dapat berjuang dalam skala rumahan. Kegiatan bercocok tanam dan berternak di rumah tidak hanya bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga dapat dijadikan pembelajaran untuk generasi milenial agar terus menghasilkan inovasi dalam bidang pertanian. Alangkah lebih baik kalau pemerintah turun tangan dengan menggelontorkan dana untuk mendukung gerakan tersebut. Jika kerja sama antar keduanya terjalin, bukan hal yang mustahil kalau program tatanan hidup baru ini akan melahirkan peluang baru juga dalam memenuhi kebutuhan pangan.

You might also like
Comments
Loading...