Nestapa Pengangguran di Negeri Seribu Pabrik (2)

Ribuan industri yang tersebar di Provinsi Banten rupanya belum banyak menyerap tenaga kerja bagi warga Banten itu sendiri. Hal ini mengakibatkan, angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) 7,77 persen pada Februari 2018 dan 8,11 persen pada November 2019.

Di sisi lain, para pencari kerja di Banten juga harus berhadapan dengan maraknya calo yang bergentayangan menawarkan kepastian masuk kerja bila dibarengi dengan ‘uang pelicin’.

Di daerah industri seperti Kabupaten Tangerang dan Serang, istilah ‘membayar untuk bekerja di industri’ sudah jadi rahasia umum dan diketahui hampir oleh semua calon pekerja.

Hal ini seperti diceritakan olah warga Balaraja, Tangerang inisial HY. Ia dikerjai calo dan harus membayar sekitar Rp 2 juta agar bisa masuk bekera ke salah satu pabrik.

HY menceritakan, pada Februari lalu sebelum Corona melanda, ia bertemu dengan calo yang juga mengaku sebagai pegawai desa yang bisa memudahkan para pencari kerja. Surat lamaran ia siapkan beserta uang pelicin pertama sebesar Rp 100 ribu.

“Pertama disuruh bawa lamaran sama uang Rp 100 ribu. Ketemu sama dia, katanya nanti sore bawa uang Rp 500 ribu buat pelicin,” ujar HY saat bercerita kepada satubantencom, Balaraja, Banten, Senin (14/9/2020).

Hari itu, ia pun langsung membawa uang pelicin dan dijanjikan bekerja pada 5 Februari. Tapi sebelum bekerja, ia diminta membayar sisa uang pelicin sebesar Rp 1,5 juta.

Saat tanggal 5 Februari, ia datang kembali menemui si calo di kantor desa. Uang sisa pembayaran pun ia bawa. Tapi, HY mengatakan, si calo malah memberikan posisi kerja sebagai cleaning service dan bukan sebagai staff kantor seperti janji awal.

“Saya ke sana lagi, tapi ya hasilnya kok beda. Awalnya dijanjikan sebagai staff kantor, kok malah dijadikan cleaning service,” ujarnya.

HY menuturkan, praktik percaloan untuk mencari kerja sudah biasa di daerah Balaraja. Bahkan, sebelumnya ia pernah ditipu, ia pernah bekerja di pabrik besi dengan memanfaatkan calo. Ia mengaku membayar Rp 2 juta agar bisa bekerja di bagian mesin namun tak kunjung ada panggilan.

Hal sama juga diceritakan warga Carenang di Kabupaten Serang, inisial TR. Dia pernah bekerja di pabrik kawasan industri Serang Timur dan beberapa memanfaatkan jasa calo.

Ceritanya, pada 2019 lalu, TR bertemu dengan calo yang menawarkan pekerjaan. Ia diminta menyiapkan Rp 3 juta beserta lamaran. Setelah deal, ia pun dipanggil oleh pihak perusahaan untuk melakukan wawancara.

Keesokan harinya, ia sempat mendapatkan kartu pengenal karyawan. Tapi, begitu diperiksa oleh pihak personalia, kartu tersebut ditarik kembali karena keahliannya tidak memadai untuk bekerja di pabrik dengan alasan belum memiliki sertifikat keahlian. Ia pun gagal, meminta kepada si calo agar uangnya dikembalikan.

“Terus saya hubungi calonya itu. Saya sempat bayar Rp 3 juta. Katanya mau dipindahkan ke pabrik lain tapi hingga saat ini belum ada kejelasan karena ada Corona,” ujarnya kepada satubanten.

Beberapa waktu lalu, TR pernah ditawarkan untuk bekerja kembali di perusahaan tersebut. Tapi menurutnya, tarif calo kerja sekarang naik. Untuk perempuan, mereka ditarif Rp 6 juta dan laki-laki Rp 10 juta katanya untuk memenuhi persyaratan sertifikasi.

“Saat ini saya kalau mau masuk kerja mikir-mikir dahulu. Yang kerja kita, ngapain pakai calo begitu. Kasihan orang-orang yang nggak punya duit mau gimana,” katanya lagi.

Saat ini Provinsi Banten menduduki peringkat pertama jumlah terbanyak angka pengangguran di Indonesia. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) tingkat pengangguran di Tanah Jawara sebesar 8,01 persen atau sebanyak 489.216 orang.

Data yang dihimpun dari BPS dalam satu tahun terakhir pengangguran di Banten bertambah sebanyak 23.409 orang sejalan dengan kenaikan tingkat pengangguran terbuka (TPT) menjadi 8,01 persen pada Februari 2020. Dilihat dari tingkat pendidikan, pengangguran di Banten didominasi oleh lulusan SMA, yaitu sebesar 13,48 persen dan di posisi kedua TPT lulusan SMK sebesar 13,11 persen.

Dalam tiga kali berturut-turut, Banten menyumbang pengangguran tertinggi di Indonesia. Sejak 2018 hingga tahun 2020, Provinsi Banten terus menduduki tingkat pengangguran tertinggi di Indonesia. Pada Agustus 2018, BPS menyampaikan bahwa angka pengangguran Banten 8,52 persen. Kemudian periode Agustus 2019, Banten juga menduduki urutan pertama se Indonesia dengan tingkat pengangguran sebesar 8,11 persen.
(M. Haris/SBN)

You might also like
Comments
Loading...