Nasib TKI Setengah Nyawa

Saya teringat kisah para tenaga kerja Indonesia (TKI) setelah kemarin ramai pemberitaan seputar para Anak Buah Kapal (ABK) yang mendapat perlakuan sewenang-wenang diatas kapal penangkap ikan berbendera China.

Kisah mereka menambah catatan kelam bagaimana sistem dan kinerja para TKI begitu rumit dan bisa dibilang sangat menyedihkan. Jangan tanya bagaimana sistem kerja dan rumitnya kontrak kerja yang rata-rata mereka tidak paham akan apa yang mereka tandatangani saat pertama kali melakukan kontrak kerja dengan agen penyalur kerja di tanah air dan di negara tujuan.

Tahun 2004, kita pernah geger saat Nurhayati tenaga kerja wanita (TKW) asal Padarincang Kabupaten Serang, Banten melompat dari lantai atas rumah majikannya di Kuching Malaysia karena sudah tidak tahan disiksa oleh majikannya.

Saat itu saya berkunjung ke rumah Nurhayati saat beliau pertama kali tiba dengan hingar bingarnya pemberitaan. Beberapa bagian kaki beliau saat itu dibalut perban karena tumit dan pergelangan kakimya luka parah.

Selang beberapa tahun kemudian, publik kembali dihebohkan oleh pemberitaan Naifa, tepatnya 2012. Saat itu saya sedang mengadvokasi para nelayan di Pontang ketika isu pasir laut dijual ke perusahaan asal Jakarta. Saat di Pontang, saya diajak ke rumah Naifa, TKW yang baru pulang dari Abu Dhabi dengan luka di sekujur badan bekas benda tumpul dan setrika.

Saya tidak tega melihat hampir sekujur badannya lebam dan merah. Beliau wanita dan niat awalnya ingin mencari uang untuk melanjutkan kuliah sepulang dari Timur Tengah….. namun apa daya, nasib berkata lain.

Sekitar tahun 2013, ada Roni pemuda asal Sobang Pandeglang datang ke kantor travel milik saya, beliau membeli 20 tiket ke Pontianak. Saya agak penasaran dan bertanya, mengapa banyak sekali beli tiketnya..? Beliau bilang mau kerja membawa teman-teman dari Sobang ke Serawak.

Ternyata Roni tidak sekali saja membawa ‘pasukan’ ke Serawak. Hampir tiga atau empat bulan sekali, beliau mengajak teman-temannya untuk bekerja di area perkebunan sawit. Uniknya, ada juga pasangan suami istri yang ikut bekerja disana. Roni bercerita kalau sudah bekerja di kebun sawit, mereka harus komitmen untuk tetap bekerja sesuai kontrak antara 2-5 tahun tidak mudik.

Nah yang menjadi persoalan adalah ketika suami istri tadi memiliki anak di perantauan dan anaknya harus bersekolah kelak…. Jadinya anak-anak mereka akan kesulitan akses pendidikan karena secara keimigrasian mereka masih WNI dan itu sangat sulit mencari lokasi sekolah di tengah belantara sawit Malaysia.

Saya baru paham, kenapa di Pasar Sobang ada beberapa Money Changer dan toko emas yang berprofesi menjadi lokasi tempat penukaran uang asing. Ternyata hampir rata-rata para pemuda asal daerah ini bekerja sebagai TKI.

Kisah para TKI di luar negeri tidak semua memang masuk dalam catatan kelam. Beberapa kawan saya yang bekerja di Gulf, mendapat posisi menggiurkan. Walaupun hanya lulusan sekolah menengah atas, namun karena memiliki skill dan pengalaman di industri petrokimia di tanah air, lantas mereka juga mendapatkan gaji diatas rata-rata pekerja dengan posisi serupa di tanah air.

Kawan saya yang berprofesi sebagai operator lapangan atau DCS Operator atau Lab Analis di pabrik petrokimia sekitar Qatar, UAE, Kuwait serta Saudi setiap bulan bisa mendapatkan penghasilan antara 15 – 40 juta tergantung saat nego gaji pertama kali dan berdasar pengalaman kerja… lah wong saat pertama kali tes di Jakarta saja, mereka sudah dimanjakan dengan lokasi tes di hotel berbintang, pergantian uang transport serta kalau sudah lolos…. Gaji gede menanti.

Sekitar 2013, saya berkesempatan ke Korea Selatan mendampingi grup tari Raksa Budaya pimpinan Ibu Maya di Kota Serang. Saat itu Raksa Budaya diundang oleh Komunitas Warga Banten di Korea dengan nama Paguyuban Baduy.

Para pekerja asal Banten di Korea saya lihat cukup nyaman dengan penghasilan jauh diatas rata-rata jika dibandingkan di Indonesia. Teman-teman ini ada yang bekerja di pabrik skala menengah hingga pabrikan Samsung, KIA dan Hyundai. Tapi jangan tanya bagaimana ‘kerasnya’ hidup para pekerja ini jika mereka mengambil ‘jalur tikus’…. Ya saya bilang jalur tikus karena awalnya mereka datang dengan jalur normal sebagai pekerja di kapal ikan Korea, namun akhirnya ada yang memutuskan kabur dari majikan dan memilih bekerja illegal di Korea, namun tetap mendapat penghasilan yang lumayan tinggi.

Ketika kemarin pemberitaan seputar ABK asal Indonesia mencuat di Kapal Ikan China, saya teringat cerita kawan-kawan di Korea. Mereka cerita kalau bekerja di kapal penangkap ikan jangan dibayangkan dengan kapal nelayan di Indonesia. Karena mereka ditarget dengan tangkapan yang besar dan banyak. Tantangan yang paling berat adalah saat puasa atau saat musim dingin tiba. Cuaca di laut bisa mencapai 5 derajat dan ombak yang aduhai dan itu harus tetap berlayar.

Saya membayangkan wajah para TKI yang lugu. Jujur saja, saya tidak membayangkan jika para TKW kita saat pertama kerja di rumah majikan disodorkan alat kerja super canggih, mulai dari mesin cuci, rice cooker, setrika listrik hingga pemanggang roti… dan itu semua belum pernah ditemui di kampungnya. Konyolnya lagi, kadang pusat pelatihan pra kerja para TKW belum selesai memberikan pelajaran tersebut namun harus segera memberangkatkan para TKW karena alasan ekonomis.

Saya pikir inilah tantangan bagi para pengambil kebijakan. Bukannya para TKI tidak mau bekerja di dalam negeri, namun kadang untuk sekedar di pabrik kecil di tanah air mereka harus sikut-sikutan. Tak usah jauh-jauh, jika seorang calon buruh ingin bekerja di pabrik Cikande atau Ciujung, mereka harus siap merogoh kocek untuk menyogok oknum aparat desa dan orang dalam pabrik… dan ini adalah nyata.

Belum lagi mereka yang harus meninggalkan kampung menjadi pekerja perkebunan. Bukannya mereka tidak mau bekerja di kampung, tapi yang menyakitkan adalah jika menjadi petani di kampong…. Saat musim tanam harga pupuk melambung tinggi, namun saat panen harga gabah terjun bebas.

Jangan salahkan jika banyak anak negeri yang mencari keberuntungan di luar negeri, walau memang kadang nyawa adalah taruhannya. Mereka sudah tidak peduli jika passport mereka ditahan majikan atau bahkan jika nyawa sudah di kerongkongan…. asal bisa kirim uang ke orang tua di kampung. Tidak peduli, nyawa sudah setengah di urat nadi dan itu menjadi kisah pilu yang sulit untuk diceritakan.

Minimal sebelum para TKI bekerja diluar negeri, mereka bisa dibekali nomer telepon kantor Kedutaan atau Konjen dimana mereka bekerja, agar jika mereka mati… setidaknya matinya masih bisa diketahui.

Serang, 15 Ramadhan 1441

You might also like
Comments
Loading...