Napak Tilas Sejarah Islam Nusantara, Membentuk Kembali Banten yang Jaya

Serang (03/07/2019), Satubanten.com – Perkembangan sejarah Banten tidak akan pernah lepas dengan perkembangan islam, terutama islam di Nusantara. Dan sejarah islam nusantara hampir selalu bergumul dengan kisah penjajahan Belanda di dalamnya. persinggungan Belanda dan Islam inilah yang kemudian melahirkan salah satu tokoh yang membanggakan Banten di kancah internasional salah satunya yakni syaikh Nawawi Al Bantani. Selain itu, dalam pergumulan tersebut kita juga mengenal tokoh kontroversial bernama Christian Snouck Hurgronje.

Nama-nama tersebut muncul dalam diskusi publik bertajuk “Research on Islam in Indonesia” yang digagas oleh Perkumpulan Urang Banten yang bekerja sama dengan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Dalam diskusi tersebut Nico J.G Captain, Ph.D, seorang guru besar kajian Islam di Asia Tenggara di Universitas Leiden hadir sebagai pemateri.

Snouck Hurgronje menjadi sangat dikenal karena kegigihannya mempelajari keislaman dan karakter msayarakat nusantara. Ia bahkan sempat menyamar dan mengganti nama menjadi muslim dan belajar langsung kepada Syaikh Nawawi Al Bantanui di Mekkah. Ia pula yang lantas menjadi tutor Husein Djajadiningrat, Putra Bupati Banten saat itu.

“Snouck merupakan tokoh penting yang telah mencatat berbagai peristiwa di Indonesia pada masa kolonial,” kata Captain di Auditorium Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Selasa (2/7).

Islam yang di Banten direpresentasikan dengan pemerintahan Kesultanan itu tercatat pernah membawa Banten kepada puncak kejayaan. Hal inilah yang disoroti oleh Ketua Perkumpulan Urang Banten Irjen Pol. (Purn) Drs. Taufiequrachman Ruki. Semangat semacam inilah yang harusnya dibangkitkan dari masyarakat Banten saat ini, terutama yang Muslim.

“Bagaimana sultan ageng tirtayasa mengelola sebuah kesultanan yang diakui. Bagaimana raja-raja sebelumnya juga membangun banten. mereka memiliki spirit yang besar. ini yang harus diwarisi oleh kita. untuk membawa banten ini kembali menjadi negeri yang jaya. Bukan lantas berbangga bahwa saya bagus, saya raden , tapi ganti dengan spirit spirit yang menggiurkan kompetensi-kompetensi,” tuturnya.

Semangat tersebut, menurutnya harus terus diarahkan kepada masalah-masalah yang nyata. Seperti saat dihadapkan dengan bencana, apa yang perkumpulan diberikan untuk korban bencana. Juga kepada pembangungan dan pendidikan masyarakat, apa saja yang bisa digerakkan.

“Yang terpenting adalah memberikan public education. Memberikan kembali, menggerakkan ayo kita bangkit sama-sama. Jangan mengandalkan pemerintah, jangabn mengandalkan modal, kita harus bangkit denga apa yang bisa kita lakukan saat ini,” imbuhnya.

Sementara itu Azharudin Salim Regar selaku Ketua ikatan mahasiswa sejarah seluruh Indonesia wilayah satu (Banten, Jakarta, Jabar) mengatakan bahwa pembelajaran sejarah Banten semacam ini sangat penting. Mengingat banyaknya peninggalan sejarah dan budaya yang ada di Banten, terutama yang bercorak Islam.

Ia mengajak semua elemen masyarakat maupun pemerintah agar sama sama belajar sejarah Banten. Sebab di Banten banyak sejarah dan bangunan yang harus dipelajari, agar sejarah yang ada di Banten ini tidak punah atau hilang.

“Saya mengajak semua elemen masyarakat maupun pemerintah agar sama sama belajar sejarah Banten. Orang boleh pintar setinggi langit namun ketika dia tidak mempunyai mata atau telinga untuk mendengar atau melihat maka dia akan hilang dari masyarakat kita,” tutupnya. (IBC/SBS032)

You might also like
Comments
Loading...