Nabila, Dara Cantik Pengukir Tinta Emas Khattil Qur’an

Siapa sangka Mahasiswi yang sehari – hari bergelut dengan bahan – bahan Kimia, mampu mengolah goresan pena menjadi seni lukis huruf arab (Khattil) nan Indah. Dan rupanya, itu pula yang mendaulatnya menjadi salah satu peraih emas di ajang MTQ Piala Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

Namanya Nabilah Hartono atau lebih sering disapa dengan Nabilah saja. Dara kelahiran 1 Maret 1996 ini mengaku tidak mewarisi darah seni dari Ayah atau Ibunya, namun mampu menggali bakatnya dengan tekun.

“Untuk seni lukis sebenarnya yang ahli itu kakak saya. Sedangkan dari Ibu atau Bapak sebenernya ga ada deh yang punya darah seni gitu. Tapi mungkin dari ibu kali ya, tulisan Arabnya bagus soalnya,” tuturnya.

Emas yang diraihnya di bidang Khattil atau sering disebut dengan seni Kaligrafi Al Qur’an ini bukanlah yang kali pertama. Kala mengikuti kompetisi yang sama di Kuningan, se Jawa Barat dirinya meraih juara pertama. Kali selanjutnya adalah ketika awal masuk ke Fakultas Teknik Untirta, dia kembali mengikuti kompetisi tingkat Fakultas Teknik yang diikutinya tersebut kembali di juarainya.

Keaktifannya di Lembaga Dakwah Kampus FT Untirta, kemudian membawanya dekat dengan pembina sekaligus dosen PAI, Abdurrohim, S. Ag. Lewat dosen PAI dan pembina LDK inilah dia kemudian diajukan mengikuti lomba Khattil Qur’an atau Kaligrafi. Tentu bukan kebetulan belaka, tapi karena reputasinya di bidang Khattil Qur’an.

“Awalnya saya kira juga enggak mau ikut. Ya tapi Pak AB (sapaan akrab Pak Abdurrohim) yang nyaranin buat ikutan. Akhirnya saya ikutan, eh ternyata menang. Ga nyangka juga awalnya sih,” kata Nabilah.

Seni memang kadang sangat tergantung dengan faktor bakat. Namun bukan berarti tidak bisa dilatih. Dirinya juga mengungkapkan bahwa meskipun tidak mempunyai bakat sehebat kakaknya, tapi selama ada kemauan pasti bisa dilatih. Dia lalu membebeberkan tips dan triknya selama mendalami dunia Khattil Qur’an.

“Kalau menulis gitu sih sebenernya mungkin semua orang bisa, cuman kadang tergantung dianya mau atau enggak aja. Kadang ada yang udah bakat tapi nggak pernah diasah kan jadi kaku juga. Jadi kuncinya terus melatih diri aja sih,” tuturnya.

Ketika ditanya tentang target tropi selanjutnya, rupanya dara yang sedang menempuh skripsi untuk menuntaskan studynya di Teknik Kimia Universitas Sultan Ageng Tirtayasa ini rupanya tidak mematok. Hal ini dikarenakan usianya di kampus yang sudah hampir selesai. Namun bukan berarti karirnya di dunia Khattil akan berhenti, justeru ia berniat mengembangkannya selepas kuliah.

“Kalau disini kayaknya udah deh, udah tua soalnya, haha. Tapi nanti sih pengennya selesai kuliah mau memperdalam lagi, dan ya pengennya sih bikin semacam pelatihan juga mungkin ya. Tapi yang jelas memperdalam dan melatih diri dulu,” paparnya.

Lewat kerja kerasnya Nabilah akhirnya goresan tintanya mengukir Khat atau Kaligrafi membuahkan emas. Nabilah adalah bukti bahwa dalam seni, bakat bukanlah segalanya yang menentukan. Bahwa dengan kerja keras dan kemauan yang kuat, walaupun berbakat minim pasti dapat meraih prestasi dan juara. Goresan tinta emas Nabila adalah bukti nyatanya.

You might also like
Comments
Loading...