Mu’tazilah Menorehkan Sejarah Peristiwa Mihnah Berdarah

Oleh : Lilis Mukhlishoh Mahasiswi Pendidikan Agama Islam Semester 2, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

Serang (20/06/2019) SatuBanten. News – Mu’tazilah berasal dari bahasa arab yaitu lafadz ‘azala yang berarti memisahkan atau menyingkirkan. Adapun menurut para ulama mu’tazilah adalah sekelompok golongan yang mendewakan akal, segala sesuatu harus selesai dan dapat diterima oleh akal. Kaum mu’tazilah tidak menamakan dirinya sebagai mu’tazilah, namun orang-orang di Luar mu’tazilah lah yang menamai mereka dengan sebutan mu’tazilah.

Mengapa dinamai mu’tazilah ? Nama mu’tazilah ini muncul tentunya tidak terlepas dari peristiwa sejarah, yang bertokohkan Washil bin Atha yang merupakan seorang dari beberapa murid Hasan Basri yang berbeda pendapat dengan guru nya (Hasan Basri), karena perbedaan pendapat itu Washil bin Atha bersama para sahabat-sahabat nya meninggalkan majlis Hasan Basri. Kemudian dalam sebuah riwayat  Hasan Basri memberikan suatu komentar kepada Washil bin Atha dan pengikutnya  “I’tazala anna !” (dia mengasingkan diri dari kami). Dari peristiwa inilah Washil bin Atha dan pengikutnya menyandang nama mu’tazilah.

Tergores dalam catatan sejarah bahwa mu’tazilah pernah menggemparkan dunia Islam dengan fatwa-fatwa nya yang menghebohkan, puncaknya terjadi pada masa daulah abbasiyah ketika mu’tazilah menyatakan fatwa nya bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, bukan kalamullah. Pada masa itu, daulah Abbasiyah memiliki seorang hakim yang bernama Ibnu Abi Dawud yang berfaham mu’tazilah yang mengajukan saran dan membujuk khalifah Al-Ma’mun yang juga berfaham rasionalis untuk mendeklarasikan fatwa mu’tazilah mengenai kemakhlukan Al-Qur’an.

Sehingga ketika pernyataan tersebut di deklarasikan, maka mau tidak mau seluruh hakim dan para ulama dipaksa untuk mengikuti serta meyakini konsep tersebut. Peristiwa yang paling menggemparkan dalam sejarah perjalanan mu’tazilah inilah yang kemudian dikenal dengan peristiwa mihnah. Sebuah peristiwa yang menelan ribuan korban dan kaum muslimin. Bagi mereka yang tidak menerima kemakhlukan Al-Qur’an ini akan dihukum dan diasingkan bahkan dieksekusi. Maka banyak dari kaum muslimin yang memilih ikut mengakui pernyataan tersebut, namun tidak sedikit pula yang tetap dalam pendiriannya.

“Diceritakan pernah di introgasi dua orang imam besar, yakni imam syafi’i dan imam Ahmad bin Hanbal, mereka di Tanyai mengenai pendapatnya tentang Al-Qur’an. Tatkala ditanya tentang kemakhlukan Al-Qur’an Imam syafi’i dengan taktiknya menjawab : Taurot, Zabur, Injil, Al-Qur’an Empat ini (sambil mengangkat 4 jari nya) adalah makhluk, yang di maksud oleh imam syafi’i dengan sebutan makhluk itu, bukanlah Al-Qur’an, namun 4 jari yang ia angkat lah yang dimaksud oleh nya, dengan begitu imam syafi’i tidak mengakui kemakhlukan Al-Qur’an juga tidak berbohong kepada khalifah. Maka dari itu imam syafi’i dibebaskan dan tidak dipenjarakan.

Lain hal nya dengan imam Ahmad bin Hanbal yang tetap bersikeras dengan pendiriannya yang akhirnya menjadikannya tawanan” Tutur KH Zainul Haq dalam suatu pengajian di Pondok pesantren Al-Qur’an Ath-Thabraniyyah. Maka dari itu berbagai macam cara dilakukan supaya seluruh kaum muslimin khususnya imam Ahmad bin Hanbal pada saat itu meyakini dan menerima pernyataan kemakhlukan Al-Qur’an. Dan dari sejarah ini maka dikatakan peristiwa mihnah merupakan peristiwa berdarah yang pernah ditorehkan oleh Mu’tazilah yang selalu terkenang oleh dunia islam.

Namun kejayaan sekte mu’tazilah ini tidak bertahan lama. Masa tersebut berakhir pada masa kepemimpinan khalifah Al-Mutawakkil. Dan dari peristiwa tersebut, Abu Mussa Asy’ary yang awalnya menganut mu’tazilah menjadi ragu, sehingga akhirnya Asy’ary shalat istikharah yang di dalam mimpi nya ia bertemu dengan Rosulullah yang menyuruhnya meninggalkan faham Mu’tazilah dan membela sunnah yang kemudian berkembang lah alirah ahlussunnah. (RR/SBS31)

You might also like
Comments
Loading...