Mulasara Basa Sunda Ke Pedalaman Suku Baduy

Lebak (29/12/2018) – Sejumlah mahasiswa Jurusan PGPAUD dan PGSD, melakukan kunjungan ke suku pedalaman Baduy, Kabupaten Lebak (23/12) atas dasar Misi “Mulasara Basa Sunda Baduy” yang dibimbing oleh Dosen UPI Kampus Serang Dr.Supriadi M.Pd dan dibantu oleh Budhi Tristyanto, M,Pd.

Kunjungan mahasiswa tersebut dilatar belakangi atas keingintahuan tentang suku Baduy, bagaimana kehidupan masyarakat Baduy (Urang Kanekes). sekaligus untuk  memelihara /Mulasara  Basa Sunda Baduy Banten. Warga Suku Baduy, baik Baduy Dalam maupun Baduy Luar menggunakan basa Sunda (cohag).

Mereka tidak mengerti basa Sunda halus, tapi bisa berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia dengan baik. Seperti pada kalimat Entah plesetan atau memang prinsip Orang Baduy, Kami mah embung sakola bisi pinter, lamun geus pinter minteran batur (Kami tak mau sekolah takut pintar kalau udah pintar takut minterin – red: nipu- orang lain).

Kalimat tersebut sudah tidak asing lagi bagi kita, karena itu merupakan bagian dari apa yang warga Baduy yakini. Kegiatan ini dapat banyak sekali (Badeg) memberikan manfaat bagi kita sebagai mahasiswa, salah satunya bisa menambah wawasan mengenai suku Baduy luar yang belum di ketahui oleh banyak orang.

Bisa melihat langsung kegiatan mereka seperti menenun, biasanya kegiatan menenun dilakukan di bagian depan rumah mereka yang disebut dengan sosoro. Dan menambah pengalaman yang berharga bersama dengan warga Baduy. kata Koordinator Panitia, Dede, Senin (24/12/2018).

Dede menyebutkan, warga Baduy sangat ramah terhadap pengunjung, bahkan menurutnya, masyarakat Baduy juga peduli dalam menjaga lingkungan (Gungguman). Bukan hanya itu, Bahasanya yang unik dan sumber alamnya yang melimpah. Masyarakat Baduy sangat kuat-kuat tenaganya, bukan hanya orang dewasa tapi anak kecil juga.

Ini dibuktikan dengan membawa barang-barang berat,  tapi tidak satu pun diantara mereka yang mengeluh dan tak pantang menyerah. Saya juga bisa belajar melatih bagaimana rasanya berkerja mencari uang itu ternyata tidak semudah yang kita fikirkan, ujarnya.

Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa jumlah keseluruhan ada 164 orang, adapun lokasi yang dikunjungi kurang lebih ada 3 desa diantaranya desa Balimbing, Marengo dan Gajeboh. Kegiatan didalamnya yaitu berkunjung kerumah-kerumah (saung) warga Baduy yang ada di 3 desa itu. Dan melakukan wawancara secara terbuka dengan mereka menggunakan Basa Sunda asli Baduy. 

Adapun topik yang di bahas yaitu, menyangkut Agama, Ekonomi, Adat Istiadat, cara memasak, menyimpan padi/pare, identitas narasumber, pendidikan, perkerjaan, karya yang dihasilkan, pakaian yang di gunakan, dan permainanan anak-anak yang masih dimainkan (Pagawean Barudak).

Menyimpan padi di Leuit, melihat Jambatan tanpa paku, Dan bagaimana belajar pada ketaatan warga Baduy akan prinsip hidupnya, Tidak merusak Teu ngaruksak alam, tidak berbicara seenaknya,tidak menggunakan air seenaknya,taat pada pimpinan,Jaro,izin jika akan menggunakan barang milik orang lain, semuanya bisa memperkaya kearifan lokal bangsa kita. (RR/SBS31)

You might also like
Comments
Loading...