Mulai September 2019, Merokok Sembarangan Di Kota Serang Bakal Kena Denda

Serang (30/7/2019) Satubanten.com –  Kawasan Tanpa Rokok (KTR) akan  segera diberlakukan di Kota Serang.   Hal ini sesuai dengan Peraturan Wali Kota (Perwal) Nomor 22 Tahun 2019 Tentang Pelaksanaan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 7 Tahun 2015 Tentang Kawasan Tanpa Rokok.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang Ikbal  usai acara Pembentukan Supervisi  Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di salah satu rumah makan di Kota Serang, Selasa (30/7) mengungkapkan bagi masyarakat yang kedapatan merokok disembarang tempat, maka akan dikenakan denda perorangan sebesar Rp 50.000. Sedangkan bagi organisasi atau lembaga yang merokok di KTR akan dikenakan denda hingga Rp 1.000.000.

“Setelah KTR ini berjalan, bilamana masih ada masyarakat yang merokok di sembarang tempat, akan diberikan sanksi hingga denda kepada pelanggar tersebut.”  Ujarnya.

Ikbal juga menjelaskan, rencananya program ini akan direalisasikan pada September 2019 mendatang setelah pembentukan tim supervisi KTR.

“Rencana realisasinya Insya Allah September ini sudah bisa dilaksanakan. Saat ini kan baru perumusan dan pembentukan.  Nah apabila ada yang melanggar, kami tindak melalui Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dengan sanksi perorangan seminimal mungkin itu sebesar Rp 50 ribu,” ungkapnya.

Ia menuturkan, pembentukan tim supervisi KTR dimaksudkan untuk mensukseskan program Kota Serang bebas asap rokok. Terutama di lingkungan Pemerintahan Kota Serang, khususnya di 33 Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Sehingga, diharapkan program ini dapat berjalan sesegera mungkin.

“Ada 33 OPD yang masuk dalam tim supervisi ini. Jadi secara menyeluruh semua OPD juga terlibat dalam pembentukan tim supervisi KTR dan juga mengimplementasikan di lingkungannya masing-masing. Sesuai itu tadi, dengan Perwal dan Perda yang mengatur itu,” ujarnya.

Sementara, Asisten Daerah (Asda) I Kosasih menjelaskan, program KTR ini bukan maksud melarang masyarakat untuk tidak merokok, namun tempatnya lah yang diatur. Lebih kepada menghargai orang yang tidak merokok. Misalnya bayi, anak-anak sekolah dan para ibu. “Bukan bermaksud melarang, merokok kan hak masing-masing masyarakat. namun  dengan KTR ini, tempatnya kami atur. Kan ada hak masyarakat yang tidak merokok juga, seperti ibu-ibu dan balita. Supaya tidak terganggu oleh asap rokok,”  jelasnya. (SBS-02)

You might also like
Comments
Loading...