MTs Munashoroh, Raih Prestasi Gemilang, Meski UN Harus Numpang

Pandeglang (28/06/2019), Satubanten.com – Lokasinya jauh di pelosok Banten yakni di Desa Kadupandak, Kecamatan Picung, Kabupaten Pandeglang. Namun Madrasah Tsanawiyah (MTs) Munashoroh seperti menjadi penerang bagi kehidupan anak-anak di pelosok desa tersebut.

Madrasah Tsanawiyah (MTs) Munashoroh adalah sekolah swasta alternatif bagi anak-anak Yatim dan Dhuafa yang tidak mampu melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi setelah lulus SD. Melalui program orang tua asuh, MTs Munashoroh menggratiskan segala biaya administrasi dan seragam siswanya.

Tapi, meskipun sudah gratis, rupanya mengajak anak-anak untuk mau bersekolah bukan perkara mudah. Orang tua lebih suka mengajak anak-anakny pergi ke sawah atau berdagang di kota. Akhirnya tak banyak siswa yang mendaftar untuk bersekolah di sana.

Dalam setahun, jumlah murid yang mendaftar ke MTs Munashoroh di kelas 7 hanya mencapai 27 murid saja. Ketika memasuki kelas 8, jumlahnya makin menyusut. Siswa yang melihat banyak temannya pergi ke sawah atau ke kota, jadi ikut-ikutan meninggalkan bangku sekolah.

“Di MTs Munashoroh ini kita gratis SPP bulanan, tak ada biaya pendaftaran, bahkan dapat seragam, baju olahraga dan batik yang semuanya gratis. Itu lewat program Orang Tua Asuh. Meski gratis, tetap saja sulit mengajak anak-anak desa yang sudah terlampau lama putus sekolah dan menikmati kebebasannya dari rutinitas sekolah,” kata Ridwansyah selaku Kepala Sekolah MTs Munashoroh, Jum’at (28/06).

Namun Ridwansyah tak patah arang melihat kondisi tersebut. Anak-anak murid MTs yang tersisa digenjot oleh para Guru. Yayasan Munashoroh Indonesia (YMI) Pandeglang sebagai pendiri MTs ini mengoptimalkan program-program yang tersedia.

Tahun ketiga, saat anak-anak sudah menginjak kelas 9, persoalan muncul. Jumlah murid yang tersisa hanya 14 siswa saja. Ini artinya tidak mungkin bisa dilaksanakan Ujian Nasional (UN) di sekolah. Untuk ikut Ujian Nasional (UN) harus “numpang” ke sekolah lain. Hal ini disebabkan lantaran kurangnya siswa dan minimnya sarana yang tersedia untuk melangsungkan UN.

Sekolah terdekat yang memungkinkan yaitu MTs Negeri 3 Lebak. Maka murid-murid MTs pun diboyong ikut UN naik angkot menyusuri desa agar tiba di sekolah untuk numpang ujian. Di sekolah tersebut sudah tersedia fasilitas yang cukup memadai untuk UN antara lain Komputer, ruangan, dan berbagai fasilitas pendidikan lainnya. Sekolah lain yang mengikuti UN bersama yakni sekolah induk MTs Riyadusholihin, Banjar Sari, Lebak.

Setelah ujian dilangsungkan, hasilnya ternyata sangat menggembirakan. Semua murid MTs Munashoroh lulus dengan baik, 100%. Nilainya bahkan termasuk yang tertinggi dibanding sekolah-sekolah lainnya di Kecamatan Picung. Mila salah satu murid MTs Munashoroh berhasil meraih nilai 66,33, sedangkan nilai rata-rata dari sekolah induk Mts Riyadusholihin adalah 62,27.

“Alhamdulillah, Hadza Min Fadhli Rabbi (ini semua karunia Allah SWT) bagi mereka yang bersungguh-sungguh untuk membina anak-anak desa,” pungkasnya.

Hingga saat ini Yayasan Munashoroh Indonesia (YMI) tetap fokus mendorong pendidkan bagi anak-anak di daerah terpencil. Lewat program Orang Tua Asuh, YMI mengajak kepada siapapun untuk turut berpartisipasi dan ambil bagian. Agar tercipta masyarakat yang berkualitas melalui pendidikan. (IBC/SBS032)

You might also like
Comments
Loading...