Merdeka Belajar Tak Boleh Terhenti

Oleh: Ilham Nurseha (Guru SMPN 1 Balaraja)

OPINI (31/08/2020) SatuBanten.com – Angka pandemi Covid-19 terus menunjukkan peningkatan, secara global terdapat lebih dari 200 negara yang berjibaku menghadapi krisis kesehatan Covid-19. Bukan hanya berdampak kepada dunia kesehatan, pandemi Covid-19 juga berdampak masif bagi dunia ekonomi. Diantaranya peningkatan pengangguran yang dibuktikan dengan klaim 3 juta pengangguran baru di AS hanya dalam waktu satu minggu di akhir maret yang belum pernah terjadi selama ini (Cosic et al., 2020). Kemudian penurunan PDB secara global sebesar 0,42% pada Q1 tahun 2020 akibat wabah Covid-19. Dampak Covid-19 bukan hanya pada sektor kesehatan dan ekonomi, yang sering dilupakan Covid-19 juga menyebabkan terjadinya krisis pembelajaran.

Pandemi Covid-19 memberikan dampak psikologis yang buruk bagi masyarakat tidak terkecuali bagi anak-anak. Pembelajaran dengan menggunakan media gawai secara terus menerus tanpa interaksi langsung tentu memberi dampak yang tidak baik bagi perkembangan sosial siswa. Pernyataan ini sesuai dengan penelitian (Shigemura et al. 2020) yang menyatakan bahwa pandemi COVID-19 menghadirkan ancaman serius bagi kesehatan mental di seluruh dunia dengan meningkatkan tingkat kecemasan, depresi, gangguan stres pascatrauma (PTSD) dan perilaku sosial negatif. Begitu pula bagi siswa yang tidak melakukan banyak interaksi positif seperti bersenda gurau dengan teman diselah-selah mengerjakan tugas atau berkejaran saat bermain yang sebenarnya melatih psikomotoriknya. Masa anak-anak yang seharusnya dihabiskan untuk bermain dan memperoleh pengetahuan sebanyak-banyaknya menjadi tidak optimal. Ditambah lagi kekhawatiran orang tua yang berlebihan terhadap anaknya akan sangat berdampak negatif terhadap perkembangan kecerdasan sosial anak.

Dunia pendidikan memang menghadapi tantangan baru di masa wabah Covid-19 ini. Dilema antara memulai pembelajaran tatap muka di kelas atau kesehatan anak-anak Indonesia. Dilema antara krisis pendidikan atau krisis kesehatan yang akan semakin meluas. Tapi, apakah tidak ada cara lain agar kita tidak perlu memilih antara krisis pendidikan atau krisis kesehatan. Belum banyak ahli pendidikan yang mengembangkan rancangan proses pembelajaran di masa pandemi ini. Saya mencoba mengkontruksi rancangan proses belajar mengajar di masa pandemi. Ada dua pendekatan yang dapat dilakukan agar anak-anak kita tidak menjadi korban krisis pendidikan yang terjadi di masa pandemi ini.

Pertama, membuka kembali pembelajaran tatap muda dengan protokol kesehatan yang ketat. Beberapa Negara yang sadar akan pentingnya memulai kembali pembelajaran tatap muka mulai membuka kembali sekolahnya. Dilansir dari media Kompas Rabu, 5 Agustus 2020 terdapat 29 negara yang sudah membuka sekolahnya untuk proses belajar mengajar. Beberapa diantaranya Jepang, Australia, Korea Selatan, Prancis, dan Denmark mulai membuka pembelajaran tatap muka di sekolah. Di Jepang pembukaan sekolah disertai dengan keharusan mematuhi protocol kesehatan secara ketat dengan mematuhi 3M (menggunakan masker, menghindari kerumunan, dan mencuci tangan sesering mungkin). Jika akan dilakukan pembukaan sekolah, maka perlu diadakan proses pembiasaan terlebih dahulu dengan kebiasaan baru di masa pandemi Covid-19. Misalnya dalam waktu dua minggu dilakukan proses pembiasaan protokol kesehatan di sekolah terlebih dahulu. Selain itu secara psikologi siswa belum siap untuk langsung belajar aktif seperti sebelum masa pandemi, maka perlu dilakukan masa peralihan untuk menuju proses aktif belajar lagi, misalnya dengan games atau bercerita.

Untuk menghindari terjadinya kerumunan siswa maka jumlah siswa di dalam kelas harus dikurangi, misalnya dengan membagi dua jumlah siswa dalam kelas dan bertukaran setiap pekannya. Saat siswa berada di rumah guru memberikan projek atau tugas yang bisa dikerjakan di rumah. Kesiapan peralatan sanitasi juga harus disiapkan pihak sekolah seperti masker, sabun, tempat cuci tangan, dan air mengalir disesuaikan dengan jumlah siswa di sekolah. Jam pelajaran dikurangi dan materi ajar disederhanakan menjadi konsep-konsep yang dianggap benar-benar penting saja. Ini merupakan desain pelaksanaan pembelajaran yang umum dilakukan di Negara lain selama masa pandemi.

Cara kedua adalah dengan mengoptimalkan sarana peribadatan di setiap desa atau kampung. Indonesia dianugrahi sebagai bangsa yang religius, setiap kampung atau desa dilengkapi tempat peribadatan seperti masjid, mushola, surau, gereja, vihara, kuil, dan tempat peribadatan lainnya. Masyarakat membangun tempat peribadatan sebagai wujud kedekatan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Pembelajaran dapat dilakukan dengan mengoptimalkan sarana ini. Penggunaan tempat peribadatan ini menyebabkan pergerakan siswa menjadi tidak begitu luas, hanya di sekitaran kampung atau desanya saja. Tentunya tetap dengan menggunakan masker dan mencuci tangan sesering mungkin. Penggunaan tempat peribadatan sebagai tempat belajar mengajar juga merupakan suatu kearifan lokal yang dilakukan bangsa kita sejak dulu. Guru perlu datang dan mengajar ke tempat peribadatan tersebut secara terjadwal, misalnya satu minggu satu kali atau dua kali. Dengan cara ini perkumpulan siswa menjadi tidak begitu banyak dan orang tua bisa banyak terlibat dalam proses pembelajaran. Sekolah dan pengurus tempat peribadatan perlu bekerjasama untuk melakukan program ini dengan menyusun penjadwalan yang terstruktur.

Hal ini juga dapat meningkatkan sisi religiusitas peserta didik sebagai salah satu tujuan pendidikan bangsa kita. Masa pandemi yang menekan mental siswa juga diperlukan pendekatan religius agar masa pandemi bisa dilewati tanpa merusak mentalitas siswa. Krisis pendidikan yang terjadi sekarang mungkin belum terlalu kita rasakan dampaknya dalam waktu dekat. Tetapi banyak ahli memprediksi krisis pendidikan ini akan menyebabkan masalah besar di masa depan. Tugas pemerintah dan masyarakat adalah memastikan program merdeka belajar tetap berjalan sebagaimana mestinya. Mengutip pernyataan Kofi Annan mantan sekjen PBB “We must, above all, shift from a culture of reaction to a culture of prevention. Prevention is not only more humane than cure; it is also much cheaper…. Above all, let us not forget that disaster prevention is a moral imperative, no less than reducing the risks of war.”

Kita harus, di atas segalanya, beralih dari budaya reaksi ke budaya pencegahan. Mencegah tidak hanya lebih manusiawi daripada mengobati; itu juga jauh lebih murah dan yang terpenting, jangan lupa bahwa pencegahan bencana adalah keharusan moral, tidak kurang dari mengurangi risiko perang. Meskipun tidak didukung dengan situasi dan kondisi yang kondusif, kemerdekaan siswa dalam belajar harus tetap ditegakkan, pemerintah dan masyarakat harus tetap memfasilitasi perkembangan kecerdasan siswa dengan menyediakan sarana belajar yang baik, tidak hanya kecerdasan kognitif, tetapi juga kecerdasan mental dan sosialnya. (RR/SBS31)

You might also like
Comments
Loading...