Menolak Lupa Sejarah, DKC Gelar Diskusi Budaya

Cilegon (13/07/2019), Satubanten.com – Dalam rangka napak tilas peristiwa Geger Cilegon 1888, Dewan Kesenian Cilegon kembali mengadakan Diskusi Ngopi (Ngobrol Perkara Seni dan Budaya), Sabtu (13/07) malam di halaman Rumah Dinas Walikota Cilegon. Tema yang diangkat yak Menolak Lupa! sengaja diangkat untuk kembali memperkuat sejarah dan budaya Cilegon melalui penelusuran Budaya Asli Cilegon.

“Saya pertama kali mengenal Cilegon itu, saya cari-cari sebenarnya peninggalan asli dari Kiyai Wasyid itu apa untuk warga Cilegon. Karena itu penting. Saya tanya ke orang-orang juga belum dapat jawaban, malah ada saran daripada nggak ada yasudah kita bikin saja. Budaya itu nggak bisa begitu, harus lahir dari masyarakat, nggak bisa dibuat sama seniman terus dipakai bareng-bareng sama masyarakat,” kata Yuli Handayan, salah seorang pemantik dalam diskusi tersebut.

Yuli mengatakan bahwa penelusuran seni dan budaya asli bisa digunakan untuk menganalisa karakter dari masyarakat suatu daerah. Seperti pada beberapa karya seni Cilegon yakni Bendrong Lesung yang kental dengan muatan musik keislaman dan seni silat. Namun hingga kini dirinya juga merasa miris karena keberadaannya hingga sekarang belum mendapatkan perhatian pihak terkait.

“Saya kaget waktu tahu bahwa Bendrong Lesung itu ternyata ada tapi belum diakui. Sekarang malah kita lihat seni itu justeru iringan musiknya cenderung mendominasi. Jadi yang awalnya mungkin bentuk seninya adalah silat dengan diiringi musik, sekarang malah berubah kayak musik yang ada tarian silatnya. Jadi gerakan silatnya sudah lebih mirip tari ketimbang jurus silat,” imbuhnya.

Sementara itu. Aa Sehu pemantik lainnya mengatakan bahwa napak tilas perjuangan KH Wasyid dalam peritiwa Geger Cilegon 1888 setidaknya harus membangkitkan lagi semangat perjuangan dan perlawanan masyarakat Cilegon. Bukan asal perlawanan, tapi perlawanan yang berdasarkan pasa Syariat Islam sebagaimana yang diajarkan KH Wasyid. ada ajaran inti dari KH Wasyid yakni hidup senantias untuk ibadah, harus cerdas menangkap apa yang akan terjadi di Cilegon.

“Kalau kita bicara perjuangan KH Wasyid dulu ada istilah yang tenar yakni Tasbih di tangan kanan, Pedang di tangan kiri. Itu simbol bahwa perjuangan dan perlawanan untuk menegakkan kemerdekaan masyarakat harus bersandar pada Islam. Sekarang kita lihat bahwa nilai-nilai akhlak sudah semakin memudar sehingga kemaksiatan di Kota Cilegon ini semakin banyak. Ini harus kita sikapi,” tuturnya.

Sementara Ahdi Zukhruf selaku ketua Dewan Kesenian Cilegon mengatakan bahwa hingga saat ini proses berkesenian khususnya di Kota Cilegon masih dipandang sebelah mata. Padahal menurutnya proses berkesenian bisa dijadikan salah satu sarana syiar dan pendidikan.

“Kita tahu hingg saat ini proses seni di Cilegon masih dipandang sebelah mata. Padahal kita kalau berkesenian itu mempunyai nilai syiar, etika dan estetika. Ketika ada 3 hal yang kita usung, maka kita perlu berdekatan dengan ulama agar kesenian kita lurus, siratal mustakim,” kata Ahdi.

Pada saat mengajukan ide tema Geger Cilegon dirinya mendapat keberatan dari beberapa pihak. Padahal menurutnya, peristiwa Geger Cilegon adalah salah satu icon budaya dan sejarah asli Kota Cilegon yang tidak seharusnya dilupakan. “Budaya yang lain banyak dilakukan festival-festival tapi ini budaya sendiri malah disingkirkan, kan aneh,” imbuhnya.

Selain dari kalangan ulama, acara tersebut juga dihadiri oleh komunitas penggerak sejarah, seni dan budaya di Kota Cilegon seperti Klinik Pusaka Banten, Teather Wong Kite, Lembaga Budaya Cilegon, Komunitas Sahabat Museum Banten dan Himpunan sejarah peradaban Islam di UIN banten. Kegiatan ini menurut Ahdi adalah permulaan untuk acara puncak pada Agustus nanti.

“Acara ini adalah permulaan untuk acara yang nanti akan kita gelar yakni Festival Geger Cilegon yang kita pengennya dilakukan nanti bulan Agustus,” pungkasnya. (IBC/SBS032)

You might also like
Comments
Loading...