Menjadi Manusia di Dunia Penari

Beberapa waktu yang lalu, dunia maya sempat dihebohkan dengan beredarnya cerita yang ditulis oleh akun anonym lewat media twitter. Akun tersebut menceritakan kisah mistis yang dialami sekelompok mahasiswa yang sedang melaksanakan pengabdian di salah satu desa. “KKN Desa Penari” cerita itu diberi judul oleh penulisnya. Entah cerita ini fiktif atau realita, namun faktanya cerita ini mampu mencuri perhatian jutaan warganet yang membacanya. Bahkan banyak daerah-daerah atau tempat – tempat yang dikaitkan oleh kisah tersebut. Sehingga seperti menyiram bensin pada api yang berkobar, semakin besar dan panas cerita “KKN di Desa Penari” ini dibuatnya.

Tokoh penari dalam kisah ini adalah sosok mahluk halus yang bernama Badarawuhi. Dikisahkan bahwa Badarawuhi adalah mahluk halus yang jahat dan senang menggoda manusia untuk berbuat keburukan. Hingga akhirnya dua tokoh lain dalam kisah ini Ayu dan Bima, tergoda oleh bujuk rayu Badarawuhi. Keduanya sampai melakukan perbuatan yang melanggar asusila dan berakhir dengan kematian mereka berdua yang bisa dikatan tidak wajar.

Mungkin banyak pembaca kisah ini yang memperdebatkan akan keaslian kisah tersebut. Apakah kisah tersebut benar-benar terjadi atau hanya kisah yang sengaja dibuat untuk mengalihkan isu-isu sosial yang hampir kita lupakan. Memang dan pasti akan terjadi perdebatan, ditambah lagi kisah yang diceritakan menggunakan nama samaran dan tempatnya dirahasiakan. Namun bagi penulis pribadi desa penari itu memang ada, besar, luas dan sangat banyak penghuninya.

Mungkin pembaca akan bertanya, “Jika memang benar desa penari itu ada, besar, luas dan banyak penghuninya, lalu dimana desa penari itu berada?”. Penulis akan menjawab “Di sini”. Dan pembaca akan bertanya kembali, “Disini dimana ?, aku tidak bisa melihat dan merasakannya”. Dan sekali lagi penulis akan menjawab “Disini, tempat saya menulis tulisan ini, disini tempat kamu membaca tulisan ini. Ya disini, di dunia ini, tempat kamu menghabiskan hidupmu dengan gadgetmu, menghabiskan waktu demi mengejar eksistensi yang sia- sia”.

Pernahkah kalian sadar kini kita hidup di tengah – tengah dunia penari. Hidup dengan manusia yang memakai topeng setiap hari menampilkan senyuman manis walau kadang hati ingin menangis. Kini manusia dituntut untuk menjadi seorang penari, yang harus mampu menghibur menampilkan senyum palsu guna mendapatkan sesuatu yang semu. Memamerkan kemewahan-kemewahan yang dimiliki untuk menunjukan kekayaan yang mungkin tidak pernah dinikmati orang lain, hanya untuk sebuah pengakuan dan eksistensi. Kita mengobralkan diri di media sosial, menunjukan dan mengemborkan apa yang dimiliki, tanpa sadar itu semua tidak memberikan manfaat apapun. Hanya akan ada jutaan pasang mata yang menantikan hal-hal apalagi yang akan kita lakukan, dan akan ada jutaan mulut yang bersiap-siap untuk merangkai kata  untuk mencemooh dan menjatuhkan. Jika kita tidak menginginkan itu, maka kita harus menjadi manusia sejati.

Kadang dalam lamunan pagi, penulis sering bertanya pada hati, apakah kita masih layak disebut manusia, ketika kita hidup dengan apa yang tidak kita kehendaki? Menampilkan senyum palsu dalam kemunafikan diri, guna menghibur bagai seorang penari. Jangan lupa kita adalah manusia, yang memiliki mimpi, hati, kesenangan dan jati diri pribadi. Menjadi orang lain bukanlah jalan keluar, dan menjadi apa yang diinginkan orang lain bagaikan melempar  lumpur dalam air yang jernih. Hidup kita seperti kertas putih yang bersih, kita bebas menulis dan menggambarnya tapi orang lain tidak. Keberhasilan itu seperti berbagi segelas kopi, kita menikmatinya lalu berbagi dengan orang lain.

Kita harus menjadi penari di dunia manusia, membuat orang lain bahagia dengan apa yang kita bisa. Jangan menjadi manusia dalam dunia penari, selalu ingin dibuat bahagia tanpa memikirkan kebahagiaan orang lain. Jadilah manusia sejati mengejar mimpinya dengan semangat yang tinggi, percaya dengan kemampuan dalam diri. Menjadi sukses seperti orang lain adalah jalan. Tapi sukses menjadi orang lain adalah suatu kebuntuan.

 

Dicky Fanshuri – Aktivis Sosialisme Literalis

You might also like
Comments
Loading...