Mengintip Bagaimana Alat Peringatan Dini Tsunami Bekerja

Tsunami merupakan salah satu bencana alam yang tidak dapat diprediksi dengan tepat. Indonesia, sejak jejak Tsunami yang terekam pertama yakni Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004. Namun demikian, menurut data Badan sains Amerika Serikat, National Oceanic Atmospheric Administration (NOAA) mencatat, bahwa ada 246 kejadian tsunami, sejak tahun 416 hingga 2018.

Mantan Kepala BNPB, (alm) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan bahwa potensi Tsunami di Indonesia bahkan lebih besar dibandingkan dengan potensi Jepang. Menurut badan Penanggulangan Bencana Internasional atau UNISDR (United Nations Secretariat for International Strategy for Disaster Reduction), Indonesia menempati peringkat pertama dari 265 negara di dunia. Dalam perhitungan UNISDR, ada sekitar 5.402.239 orang yang berpotensi terkena dampak Tsunami.

Oleh karena itu, potensi dampak Tsunami salah satunya dapat dikurangi dengan perangkat peringatan dini yang sering juga disebut sirine peringatan tsunami atau Tsunami Early Warning System (TEWS). Perangkat ini digunakan ketika terjadi gempa besar, berpusat di bawah laut dan menimbulkan potensi Tsunami. TEWS sendiri bukan alat deteksi tsunami, namun hanya sirine peringatan saja, seperti yang diungkapkan Kepala BMKG Kelas 1 Serang, Fachkrurazi.

“TEWS itu kan sebenarnya bukan alat pendeteksi, tapi hanya istilahnya semacam corong atau kentongan. Sedangkan pendeteksinya itu alatnya lain lagi,” tuturnya.

BACA JUGA : Alat Pendeteksi Tsunami Milik Banten Rusak, Warga Pesisir Pantai Diminta Waspada

Perangkat TEWS memang tidak bekerja secara sendiri, namun merupakan gabungan dari berbagai peralatan lain yang mendukung, salah satunya yakni DVB (Digital Video Broadcast). Dalam skema Peringatan Dini Tsunami, DVB berperan sebagai penyebab informasi baik gempa biasa ataupun gempa yang berpotensi menyebabkan Tsunami. Dalam hal ini DVB hanya menyiarkan data saja, tapi tidak otomatis memberikan sinyal untuk menyalakan sirine TEWS ketika ada potensi Tsunami. Kewenangan untuk membunyikan sirine TEWS juga berada dalam kendali Pemerintah Daerah dan BPBD.

Data yang masuk ke DVB merupakan data perekaman gempa melalui instrumen alat pendeteksi gelombang gempa tektonik (Seismograf) yang ditanam di berbagai titik. Data dari seismograf ini kemudian diolah dalam alat perekam tingkat getaran gempa (Intensity Meter). Alat yang mendampingi Intensity Meter yakni EEWS atau Earthquake Early Warning Sensor.

Alat pengukur gempa atau seismograf

EEWS berfungsi untuk mengantisipasi adanya gelombang Sekunder (S), dari sebuah gempa yang telah terlebih dahulu diketahui gelombang Primernya (P). Gelombang sekunder dari gempa merupakan gelombang yang seringkali menyebabkan dampak kerusakan yang lebih parah karena telah beresonansi dan menjadi lebih besar.

Jika pusat gempa berada di perairan, maka potensi Tsunami akan terjadi. Gelombang dari adanya pergerakan tektonik, menyebabkan gelombang laut ikut berpengaruh. Akibatnya air laut mengalami gelombang besar dan terakumulasi saat mendekati bibir pantai. Gelombang inilah yang kemudian disebut dengan gelombang tsunami.

BACA JUGA : BMKG Segera Ganti Alat Peringatan Dini Tsunami di Banten Yang Rusak

Saat ombak naik, sebetulnya ada perangkat yang dpat mendeteksi adanya kenaikan gelombang yakni BUOY. Alat ini selain mengukur gelombang, sebenarnya juga bisa mengukur suhu permukaan air. Data yang direkam oleh BUOY ini kemudian dikirimkan ke pusat analisa data. Dan diputuskan apakah potensi tsunami dapat terjadi.

Data Intensity Meter

Keseluruhan data dari Seismograf, Buoy, Intensity Meter ini diolah dipusat data BMKG Pusat. Hasil analisa kemudian disiarkan melalui DVB. Jika data tersebuit mengatakan adanya potensi Tsunami, maka data tersebut akan mengirim sinyal kepada pemegang otoritas TEWS untuk membunyikan atau tidak membunyikan sirine TEWS. Sebagai contoh kasus pada akhir Juli tahun 2019 lalu terjadi gempa berskala 5,2 M dan berpusat di permukaan laut. Pada waktu itu, potensi kesimpulan berpotensi tsunami namun sirine tidak dibunyikan dan peringatan potensi tsunami berubah menjadi tidak berpotensi tsunami. Namun informasi tersebut diberlakukan hingga 2 jam, setelah kemudian dicabut dan tidak terjadi Tsunami.

Alat-alat tersebut sebagaimana alat lain merupakan perangkat yang memberi peringatan terhadap masyarakat. Namun kem=ndali penyikapan terhadap alat-alat tersebut kembali kepada masyarakat. Beberapa kasus menunjukkan bahwa banyak terjadi kerusakan pada alat-alat justeru karena masyarakat di sekitar tidak secara bersama-sama menjaga keberadaan alat tersebut. Akhirnya alat yang sejatinya menjadi peringatan keselamatan, justeru menjadi sumber bencana bagi manusia. 9IBC/SBS032)

You might also like
Comments
Loading...