Mengenal Mesin CFM LEAP – 1B Pada Pesawat Boeing 737 Max 8 JT-610

Mesin pada Boeing 737 Max 8 yakni LEAP – 1B, dikalim lebih efisien dan hemat. Seperti apa sebetulnya detail teknologi yang ada pada mesin tersebut?

Boeing 737 Max 8 adalah salah satu pesawat yang diproduksi oleh Boeing Company asal AS. Pesawat ini merupakan generasi lanjutan dari seri sebelumnya yakni Boeing 737 Max 7. Dalam pesawat generasi kedua ini, Boeing menawarkan efisiensi yang lebih baik dan daya jelajah yang lebih jauh yakni 3.500 mil laut dengan kecepatan 824 km/jam.

Hal ini dimungkinkan karena teknologi yang tertanam di badan pesawat tersebut. Terknologi pertama yakni dari desain sayap. Panjang sayap Boeing 737 Max 8 ini adalah 35.92 m dengan luas sayap 127 meter persegi. Ujung sayap yang didesain terbelah  di ujung sayap (Scimitar Winglet) tersebut bukan sembarangan, namun berfungsi sebagai pemecah turbulensi yang terjadi di ujung sayap pesawat saat terbang dengan kecepatan tinggi. Turbulensi sering mengakibatkan guncangan dan menimbulkan hambatan (drag) dalam penerbangan, ujung-ujungnya adalah konsumsi bahan bakar meningkat. Dengan mengurangi turbulensi ini maka penghambat diminimalisir sehingga konsumsi bahan bakar jauh lebih hemat.

Selain itu, mesin pesawat Boeing 737 Max 8 juga telah menggunakan mesin dari CFM International, Perusahaan joint venture antara General Electric dan Safran. Mesin yang tertanam dalam Boeing 737 Max 8 adalah LEAP – 1B, generasi terbaru dari varian mesin LEAP-X dan generasi mesin CFM56. Mesin terbaru ini dinilai lebih ringan dan memiliki tingkat kebisingan yang relatif rendah, sebesar 75% lebih rendah dari mesin generasi CFM56.

Polusi suara (noise) yang dihasilkan oleh mesin CFM LEAP-1B ini dapat direduksi dengan cara membuat desain penutup mesin bergerigi (chevron-fringed) di bagian belakangnya. Desain ini  sama dengan desain pada mesin yang dipakai pesawat Boeing lainnya, yakni B787 Dreamliner dan B747-8 Intercontinental.

Dari Segi Bahan Bakar

Mesin LEAP – 1B yang tertanam dalam B737 Max 8, dinilai lebih efisien dalam konsumsi bahan bakar pertama karena LEAP-1B mampu mengurani sisa pembakaran NOx hingga 50% dari generasi mesin sebelumnya. Tampilannya memang terlihat lebih besar (20 cm lebih besar) dari CFM56-7B, namun masih dalam taraf standar sehingga ketika ada kontraksi roda saat landing tetap aman.

Tampilan yang lebih besar ini adalah dampak dari baling-baling turbin yang lebih besar pada LEAP-1B dibandingkan CFM56-7B. Hal ini menimbulkan rasio by pass yang lebih besar yakni 9:1, darpada sebelumnya yang hanya 5:1. High Pressure Compressor ratio (HPC) atau daya kompresi udara pada mesin LEAP – 1B juga menjadi 2 kali lebih besar yakni 22:1 dari sebelumnya yakni 11:1. Besarnya rasio by pass dan HPC inilah yang menjadikan LEAP-1B lebih hemat 15% dalam penggunaan bahan bakar dibandingkan CFM56-7B.

Baling-baling pada turbin mesin LEAP – 1B juga menggunakan bahan Komposit Karbon (Woven Carbon Composite) yang lebih ringan namun lebih kuat dibandingkan baling-baling berbahan Titanium. Karena lebih ringan, efisiensi dalam pencampuran bahan bakar (mixture) menjadi lebih baik dan mengurangi sisa pembakaran berupa NOx.

Segi Sistem Pengamanan

LEAP – 1B dilengkapi dengan 3 lapis teknologi pengamanan, yang pertama adalah teknologi Electronic Overspeed System (EOS). Teknologi ini memungkinkan kendali pada kelebihan kecepatan. EOS akan secara otomatis mematikan mesin jika terjadi kelebihan kecepatan mesin untuk menghindari ledakan. Kedua, jika mesin turbin pada sayap 1 (N1) mengalami Overspeed, maka Electronic Engine Control (EEC) akan memicu sistem EOS pada mesin turbin kedua (N2) agar secara otomatis berhenti.

Sistem keamanan mesin selanjutnya yaitu Thrust Control Malfunction Accomodation (TCMA). Teknologi ini memungkinkan pemberhentian mesin secara otomatis jika terjadi ketidak normalan pada sistem pendorong pesawat. Sistem ini hanya berfungsi saat take off dan landing. Dengan sistem yang tertanam dalam mesin LEAP – 1B tersebut, diharapkan mesin lebih aman dalam kinerja dan saat melakukan penerbangan.

Meski terbilang sebagai mesin terlaris dengan 5.152 pemesanan pada periode pertama peluncuran mesin tersebut, namun pesawat dengan mesin LEAP-1B baru meluncur pada tahun 2016. Pesawat dengan mesin LEAP antara lain Airbus A320neo (LEAP-1A), Boeing 737 MAX (LEAP-IB), dan pesawat penumpang COMAC C919 150 (LEAP-IC).

Lion Air adalah satu – satunya maskapai penerbangan di Indonesia yang menggunakan pesawat dengan mesin LEAP – 1B pertama kali. Pesawat dengan mesin LEAP – 1B ini hadir di maskapai Lion Air Indonesia pada Juli 2017 di Bandara Soekarno Hatta. Untuk pesawat tipe Boeing 737 Max 8 ini Lion Air mengklaim telah memesan sebanyak 218 unit. Bahkan dalam Paris Air Show tahun 2017 lalu, Lion Air telah memesan 50 unit generasi terbaru yakni pesawat Boeing 737 Max 10.

Insiden hilangnya salah satu pesawat Lion Air Boeing 737 Max 8 JT-610 pada Senin (29/10), tentu menjadi penilaian lebih lanjut terhadap pesawat tersebut. Pihak Boeing melalui media sosialnya telah menawarkan bantuan penuh untuk investigasi penyebab kecelakaan tersebut. Namun hingg saat ini pihak Lion air masih ingin fokus pada pencarian korban kecelakaan pesawat Boeing 737 Max 8 JT-610 tersebut.

 

Ditulis oleh : Imam B. Carito

Diedit oleh : SBS032

*Baca tulisan lain Imam B. Carito atau artikel lain tentang Boeing 737.

You might also like
Comments
Loading...