Mengenal Atiatul Muqtadir, Ketua BEM UGM yang Disorot Publik

Jakarta (27/09/2019) Satubanten.com,- Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada, Atiatul Muqtadir, sedang menjadi sorotan publik. Dirinya mulai mencuri perhatian usai tampil di sebuah acara talkshow politik di salah satu televisi swasta pada Selasa malam.

Dalam satu segmen, Fathur sempat beragumen dengan Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly. Pernyataan Fathur pun membuat penonton terkesan. Sejak saat itu dirinya mencuri perhatian publik dan banyak dipuji oleh warganet di media sosial.

Fathur adalah mahasiswa Kedokteran Gigi kelahiran tahun 1998. Dirinya sempat menjadi santri saat duduk di bangku Sekolah Dasar. Fahtur juga hanya menamatkan bangku SMA dua tahun dan langsung melanjutkan studinya di Fakultas Kedokteran Gigi UGM dengan jalur SNMPTN.

Pada video tersebut Fathur mengungkapkan hal itu ia anggap sebagai bentuk tanggung jawabnya yang telah mengenyam ilmu di bidang kesehatan. Menurutnya banyak masalah-masalah di bidang kesehatan yang harus diselesaikan secara sistematis.

Selain aksi turun ke jalan, nyatanya Fathur juga aktif menjadi pembicara di acara-acara seminar nasional maupun internasional.

Atiatul Muqtadir berbicara dengan tegas dalam menyuarakan kegelisahan masyarakat dan mahasiswa terkait penolakan RKUHP.

Berbicara di Indonesia Lawyers Club TV One, Selasa (24/9/2019), mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) tersebut mengatakan bukan penundaan yang diharapkan para mahasiswa.

“Memang ketika kita mendengar presiden menunda, tunda itu kan sebenarnya bahasa politis, Bung Karni. Kalau kita lihat, sebenarnya kalau saat paripurna itu ya adanya tolak atau terima, enggak ada tunda,” katanya.

Fatur pun tegas menyatakan, rekan-rekan mahasiswa di berbagai daerah yang berunjuk rasa menolak RKUHP, bukan sekadar ingin pengesahan ditunda. Dia menyebutkan harapan selanjutnya usai RKUHP ditolak.

“Setelah ditunda nanti dibahas ulang dan melibatkan akademisi, melibatkannya masyarakat,” lanjutnya.

Menurut mahasiswa angkatan 2015 ini, demokrasi rakyat Indonesia seharusnya tak menghasilkan hukum yang represif.

“Apa itu? Hukum yang dibentuk dalam, kalau misalnya bahasa Habermas (filsuf -red) itu splendid situation, jadi seharusnya dalam demokrasi itu kita menghasilkan produk hukum yang responsif. Tiga kriterianya, Bung Karni: parsitipasif, aspiratif, dan presisi,” jelas Fatur.

Sementara itu, RKUHP, kata Fatur, banyak mengandung pasal karet, yang salah satunya akan berimbas kriminalisasi warga dengan pandangan berbeda dari pemerintah.

“Nah, jadi yang ingin saya tegaskan adalah, kami ingin ke depan, membaca kegelisahan hari ini yang bertubi-tubi, mahasiswa itu bukanlah manusia bodoh,” tambah Fatur.

Ia lantas menyayangkan isu demo mahasiswa ditunggangi pihak tertentu, yang justru menjadi fokus banyak orang, sehingga mengaburkan substansinya. Padahal, kata Fatur, substansi unjuk rasalah yang seharusnya diperhatikan.

Kemudian Fatur terang-terangan mengungkap sikap DPR ketika menemui perwakilan mahasiswa pada Senin (23/9/2019) lalu.

Dari pertemuan tersebut, Fatur menyimpulkan, DPR kerap menyatakan kebohongan.

“Diterima sama perwakilan dari DPR waktu itu, Pak Masinton ya? Kemudian disampaikan malah, tidak pernah ada kesepakakatan dengan sejken DPR. Padahal hari Kamis, 19 September kawan-kawan yang aksi ini pernah membuat kesepakatan dengan sekjen DPR. Nah ini yang ingin saya sampaikan. Kok sering banget bohong?” ucap Fatur.

Sekali lagi dirinya menegaskan, tak ada tunggangan dari pihak mana pun dalam aksi mahasiswa belakangan ini.

“Kita turun sebagai gerakan moral dan intelektual, jadi saya ingin sampaikan, kita tidak pernah ditunggangi pihak mana pun,” tegas Fatur.

“Mosi tidak percaya yang dihadirkan itu jangan dipandang sebagai hal biasa. Itu adalah kegelisahan publik bahwasanya negara ini tidak baik-baik saja dan tidak dikawal dengan prinsip-prinsip yang demokratis,” tambahnya.

Ketika sesi bicara para ketua BEM yang hadir hampir selesai, Fatur meminta izin Karni Ilyas untuk menambahkan sebuah pernyataan.

“RUU yang dibahas secara tergesa-gesa, dikebut di akhir periode, ini adalah sebuah kejanggalan, dan dalam membaca kejanggalan itu hanya ada dua alasan: ketidaktahuan, atau mungkin bahasa lebih halusnya kebodohan, atau ada kepentingan, dan mungkin ini tadi pertanyannya, “ini apa sih kepentingan dari anggota dewan dan elite politik hari ini?” tutup Fatur. (SBS/009)

You might also like
Comments
Loading...