Menelisik Etnis Tionghoa di Tangerang Pantura (Tanjung Kait) Dewi Neng Antara Legenda dan Realita Sejarah

Oleh : Syarifah Aini, Pendidikan Sejarah Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

OPINI (16/12/2019) SatuBanten.com – Mengenai etnis Tionghoa di Tangerang pantura lebih tepatnya deretan wilayah Tanjung kait, Pekayon, Ketapang (Keronjo-Teluknaga) tidak lepas dari sebuah anggapan bahwa etnis Tionghoa dibawa oleh orang-orang yang berperan penting dalam penyebarannya. Masyarakat Tionghoa yang sangat identik dengan sebuah perdagangan dan pelayan serta kehidupan kebudayaan, peradaban yang sudah sangat maju sejak masa Cina Kuno memungkinkan masyarakat Tionghoa mampu berlayar dengan peralatan dan pelayaran yang sudah sangat maju. Termasuk Banten yang pada saat itu telah menjadi pelabuhan besar yang banyak disinggahi oleh masyarakat asing termasuk didalamnnya masyarakat Tionghoa yang banyak melakukan intraksi dengan masyarakat Banten hingga kedaerah daerah terdalam di Banten termasuk Tangerang Pantura.

Sebelum melakukan penulisan mengenai sejarah keberadaan etnis Tionghoa di Tangerang Pantura, hal yang terlebih dahulu dilakukan adalah penelitian sejarah dengan melakukan sumber-sumber sejarah yang ada. Adapun langkah-langkah yang dilakukan penulis adalah:
Penelitian sejarah ilmiah terhadap kedatangan etnis Tionghoa di nusantara, mencermati fenomena dan sejarah awal mula kedatangannya serta peran para tokoh yang ikut berpengaruh dalam perkembangan etnis tionghoa di nusantara, mencermati fenomena dan sejarah awal mula kedatangannya serta peran para tokoh yang ikut berpengaruh dalam perkembanganya. Pada tahap ini penulis juga mengunjungi situs penting seperti yang telah tertulis dalam judul terhadap peran dan pengaruh tokoh Dewi Neng. Penulis mendatangi makam keramat dewi neng guna mendapatkan informasi mengenai sosok Dewi Neng, selain itu, untuk mendapatkan sumber sejarah yang lebih jelas penulis melakukan wawancara terhadap juru kunci penjaga makam keramat Dewi Neng, serta beberapa tokoh masyarakat yang mendapatkan informasi melalui hal-hal yang terbilang mistik.

Dari sinilah sumber-sumber sejarah mengenai Etnis Tionghoa, Peran dewi Neng serta hubungannya dengan masyarakat di Tangerang pantura guna mendaparkan sumber sebanyak banyaknya.
Pengumpulan sumber yang dilakukan penulis sangatlah minim, karena keterbatasan sumber informasi yang didapat dari sumber kebendaan maupun sember lisan. Oleh karenanya penulis berharap dapat mengungkap jejak sejarah yang belum terungkap, dengan melakukan penulisan terhadap sejarah local di Tangerang Pantura. Sejalan dengan kerangka metodologi “Pendekatan Sejarah”  dalam melakukan rekontruksi sejarah, dengan memastikan dan menyatakan kembali peristiwa atau keberadaan masa lalu manusia. Sebetulnya tidak ada data resmi tentang kapan orang Tionghoa pertama kali menginjakan kakinya di Nusantara ini. Dugaan selama ini hanya berdasatkan hasil temuan benda-benda kuno seperti tembikar Tiongkok di Jawa Barat, Lampung daerah Batanghari dan Kalimantan Barat maupun yang disimpan diberbagai kraton. Menurut catatan yang ada, orang-orang Tionghoa mulai berdatangan ke Indonesia pada abad ke IX, yaitu pada zaman dinasti Tang untuk berdagang dengan membawa barang-barang kerajinan seperti barang-barang porselan, sutera, teh, alat-alat pertukangan pertanian dan sebagainya.
Letak strategis Tanjung Kait yang berada diantara dua pelabuhan besar yaitu cisadane (menurut laporan Tome Pires disebut Tamgaram) dan pelabuhan Banten yang termasuk dalam pelabuhan terbesar di Nusantara, tidak memungkinkan daerah Kabupaten lebih tepatnya di Desa Tanjung Kait terdapat masyarakat etnis Tionghoa yang singgah ataupun bermukim.

Selain itu kesultanan Banten yang berdiri sekitar 1526- 1813 masehi menyambut hangat bangsa pendatang dari berbagai belahan dunia, bangsa-bangsa itu hidup berdampingan antar sesama. Selain itu kesultanan yang pada saat itu memberikan izin terhadap akses masuk bangsa Asing menjadikan Banten lebih banyak lagi disinggahi orang-orang yang berasal dari luar negeri yang menjadikan Banten sebagai kota yang Multikultural. Banyak sekali etnis, ras yang hidup dan berkembang di Banten.
Di Tanjung Kait, Mauk itu sendiri etnis Tionghoa mulai berdatangan dan berkembang sudah sejak berdirinya klenteng yang terdapat di Tanjung kait yang diperkirakan merupakan sebuah klenteng tertua di Banten yaitu  kelenteng Tjo Soe Kong yang diperkirakan berdiri pada abad ke 18, didirikan oleh etnis Tionghoa, kebijaksanaan serta kebaikan Tjo Soe Kong membuat para etnis Tionghoa berdatangan untuk menziarahi orang yang mereka hormati. Dari sinilah banyak etnis Tionghoa yang berdatangn dan bermukim di Tanjung Kait.

Satu dari sekian banyak legenda yang berkembang di masyarakat adalah tentang keberadaan sebuah makam yang terletak di wilayah Tanjung Kait kecamatan mauk Kabupaten Tangaerang, yakni makam seoarang Muslimah keturunan Tiong hoa bernama Dewi Neng dengan nama Tiong Hoa “Lie Tien Nio”. Keberadaan makam ini sudah tentu memiliki arti tersendiri terutama bagi masyarakat Tiong Hoa di sekitar Tanjung Kait dan sekitarnya. Hal ini disebabkan makam ini termasuk makam yang dikeramatkan oleh masyarakat Tiong Hoa. Namun demikian keberadaannya belum banyak terekam dalam jejak sejarah. Hal ini disebabkan kurangnya informasi dan data sejarah yang berkaitan dengan keberadaan sosok tokoh yang dimakamkan di daerah Tanjung Kait tersebut. Bagaimana peran dan kiprahnya, dan siapa beliau di panggung sejarah tidak banyak diketahui dengan pasti. Kisahnya hanya milik Oral Hitory yang melegenda dimasyarakat, dan belum ditemukan peninggalan sejarah dalam bentuk tulisan ataupun riwayat yang pasti tentang kehidupan beliau.

Kendati demikian sosok Dewi Neng memiliki nilai magis tersendiri bagi masayarakat Tiong Hoa, dan kaum muslimin yang memiliki ikatan emosional-Spiritual (aliran Tarekat tertentu) dalam Islam.  Dengan demikian yang datang ke makam beliau bukan hanya etnis Tiong Hoa yang Konfusianisme, melainkan juga kaum muslimin yang memiliki ikatan emosional-spiritual (kelompok tarekat) tersebut. Bagi penganut Tarekat berziarah ke makam guru atau ulama Tarekat ataupun mereka yang dianggap pengamal tarekat adalah sebuah keharusan demi mejaga keterhubungan satu generasi dengan generasi sebelumnya. Dan hal ini adalah cara untuk menjaga ikatan persaudaraan dalam hirarki tarikat dalam Islam. Namun demikian dalam tulisan ini penulis tidak akan  membahas lebih lanjut tentang apa itu tarekat dan bagaimana keberadaan beliau dalam salah satu ajaran tarekat yang berkembang di nusantara pada masa lalu.

Dari cerita yang berkembang di masyarakat keberadaan makam Dewi Neng erat kaitannya dengan keberadaan sebuah kelenteng yang tidak jauh dari makam tersebut, yaitu Tjo Soe Kong namanya. Pembangunannya dimulai setelah ditemukannya makam tersebut dan dijadikan tempat persembahyangan orang-orang Tionghoa. Dengan semakin banyaknya jumlah pengunjung ke makam tersebut maka dibangunlah kelenteng tersebut guna menampung jamaah  yang datang, dan upacara ritual mereka secara otomatis banyak dilakukan di dalam kelenteng di samping beziarah ke makam tersebut.

Bagi masyarakat Tiong Hoa, baik Kelenteng Tjo Soe Kong Maupun makam Dewi Neng, keduanya memiliki arti penting dalam kehidupan spiritual mereka. Dalam keyakinan mereka bagi siapa saja yang datang ke makam tersebut di percaya akan mendapatkan keberkahan dan segala keinginannya akan terlaksana. Untuk itu baik sebelum maupun sesudah melakukan sembahyang di Kelenteng, mereka juga melalukan ritual persembahan di makam Dewi Neng guna mendapatkan berkah.

Sosok Dewi Neng menurut informasi yang beredar di masyarakat adalah seorang saudagar yang berasal dari kepulauan seribu. Suatu ketika, terjadi musibah yang menimpanya dalam melaksanakan pelayaran perdagangan dan beliau terdampar di daerah Tanjung Kait, yang kemudian ditolong oleh saudagar kaya bernama “Boen Tek Bio”. Oleh Boen Tek Bio beliau diberi tempat tinggal yang hingga sekarang menjadi tempat pemakaman beliau di desa Tanjung Kait. Dari penolongan inilah kemudia Dewi Neng belajar agama islam kepada salah satu murid K.H. Soleh (Gunung Santri) yang mendapat tugas dari pulau Cangkir untuk menjaga wilayah Tanjung Kait bernama “Dewi Saraswati/Nyimas Melati, yang beraliran tarekat Naqsabandiyah dengan demikian islam yang dipelajari oleh Dewi Neng lebih kepada ajaran Theosofi Sufistik, yang saat itu tengah berkembang di seantero dunia islam dengan beraneka macam kelompok terekat, seperti: Qodariyah, Naqsabandiyah, Tijaniyah dsb.

Sementara bagi masyarakat Tionghoa Dewi Neng diyakini sebagai titisan Dewi “Kwan In” (Dewi Kemakmuran), sosok Dewi Kwan In lah yang banyak dipuja oleh masyarakat Tionghoa untuk mencapai kesuksesan dunia (mencari kekayaan), dan hal ini mereka yakini ada pada sosok Dewi Neng. Hal ini pula yang menjadikan masyarakat Tionghoa berbondong-bondong untuk mendatangi makan keramat Dewi Neng, dimana hal ini menambah populasi masyarakat Tionghoa atau Cina di Tanjung Kait.

Ada hal yang menarik dari cerita mengenai Sosok dan peran Dewi Neng dalam kedatangan masyarakat Tionghoa, hal ini menjadi symbol keharmonisan social antara masyarakat Tionghoa yang konfusianisme disatu pihak dengan masyarakat muslim. Di pihak lain, dimana kedauanya (paling tidak) mengagumi satu tokoh sentral yaitu dewi neng. Sedangkan keduanya tidak terlepas dari proses akulturasi agama, dan berpegang teguh pada keyakinan. (RR/SBS31)

You might also like
Comments
Loading...