Mendayung Di antara Dua Perbedaan

Oleh :
Muhamad Fadli, Presiden Mahasiswa Untirta 2018 serta Ketua Bidang Kebijakan Publik KAMMI Wilayah Banten 2019

OPINI (26/05/2019) SatuBanten News – Ruang lingkup kehidupan berbudaya dan interaksi masyarakat kita dahulu memperlihatkan sikap tolong menolong, tenggang rasa, bergotong royong, kebersamaan dalam bingkai kekeluargaan senasib dan sepenanggungan. Kondisi seperti ini sering kita lihat sekarang pada scope masyarakat perkampungan. Saya akan mencontohkan kehidupan di kampung saya sendiri yang merasakan langsung bagaimana gotong royong dan sifat saling membantu ini masih dijalankan oleh masyarakat.

Ketika suatu masyarakat akan melangsungkan upacara pernikahan, ibu-ibu disana membuat paguyuban untuk membantu masyarakat lain yang akan menggelar resepsi pernikahan. Anggota-anggota paguyuban akan membawa kebutuhan resepsi pernikahan dalam bentuk makanan pokok, sayur-mayur, kopi, teh, buah-buahan, ayam, bebek, dan lain sebagainya. Masyarakat yang menjalankan resepsi pernikahan tersebut akan mencatat siapa saja yang memberikan barang-barang tersebut.

Barang yang diberikan untuk masyarakat yang melangsungkan pernikahan kemudian akan digantikan kembali dengan barang yang serupa, jika yang diberikan ayam maka penggantinya ayam, sayur digantikan sayur begitu seterusnya. Barang akan diberikan kembali ketika ada anggota paguyuban yang lain akan melangsungkan pernikahan putra-putrinya. Ibu-ibu memberikan kontribusinya dan “berinvestasi” barang-barang yang diberikan kepada masyarakat yang melangsungkan pernikahan. Bapak-bapak dan pemuda-pemudinya membentuk lagi sebuah paguyuban rokok.

Menariknya dalam paguyuban ini, mereka yang tidak merokok ikut serta dalam paguyuban. Hal demikian terjadi karena suatu saat jika memang anggota yang merokok akan mendapatkan giliran pesta pernikahan anaknya maka akan mendapatkan ganti dengan apa yang telah ia berikan sebelumnya kepada paguyuban dan rokok itu digunakan untuk kepanitiaan dan diberikan untuk orang-orang yang merokok.

Resepsi pernikahan terdapat juga kepanitiaan, diisi oleh bapak-bapak dan pemuda pemudi organisasi masyarakat yang ada di kampung. Ada penanggung jawab lapangan pernikahan, dibantu oleh yang tim parkir, peralatan, masak, cuci piring, dan lain sebagainya. Sementara ketua pemuda dan RT memantau perkembangan lapangan dan menyapa tamu undangan yang hadir. Wajah perkampungan ini perspektif kecil dari sebuah Negara yang besar seperti Indonesia bagaimana persaudaraan, gotong royong, tolong menolong menjadi sebuah budaya yang ada di masyarakat.

Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetap satu juga. Konsensus Ideologi Bangsa Indonesia adalah PANCASILA. Falsafah yang menggambarkan tentang potret kehidupan yang ada di Indonesia. Gotong royong dan kebersamaan tentu diinisiasi oleh pemimpin yang ada di tengah masyarakat, kesadaran bergotong royong pada masyarakat menjadi modal utama merajut persatuan. Kebersamaan dan gotong royong ini terasa saat tak ada ego dan keserakahan dalam menjalankan sebuah tatanan masyarakat. Kebersamaan dan gotong royong akan memudar, saat kita berselisih paham, saling membenci, memendam ego masing-masing dari sebuah tujuan.

Persatuan dan kebersamaan tak lagi ada saat masing-masing memiliki kelompok pendukung untuk saling memusuhi. Disinilah peran pemimpin di masyarakat untuk bisa bersatu dan bermusyawarah untuk kepentingan bersama. Kepemimpinan adalah awal dari kita merajut harapan yang tertunda, mengukir peristiwa-peristiwa hebat dan berakhir manis dalam akhir episode begitu yang kita inginkan. Musyawarah digunakan sebagai sistem pemilihan ketua atau pemimpin di masyarakat dengan mempertimbangkan track record sebuah calon pemimpin, kualitas dan kemantapan dalam memimpin.

Musyawarah bukan hanya untuk pemilihan pemimpin di masyarakat, tapi agenda lain yang merupakan hajat hidup bersama dalam masyarakat tersebut. Musyawarah yang kini menjadi budaya yang telah kita lakukan semenjak diskursus tentang negara dan mengeluarkan konsensus tentang PANCASILA. Musyawarah dapat terjadi jika jumlah masyarakat tidak terlalu banyak, perkampungan adalah sebuah potret dan contoh dalam menjalankan sebuah asas musyawarah mufakat dalam menentukan pemimpin-pemimpin dalam pemilihan RT, ketua pemuda dan lain sebagainya. Jika cakupannya sudah desa dan kecamatan bahkan negara maka demokrasi adalah jalan keluarnya.

Demokrasi menjadi alternatif dalam pemilihan kepala desa dan cakupan masyarakatnya banyak dan jalan musyawarah tidak mungkin ditempuh. Sistem demokrasi yang sering disebut Vox populi Vox Dei atau suara rakyat adalah suara Tuhan yang tidak melihat dia profesor atau masyarakat biasa dengan satu orang mendapat satu hak suara pemilihan. Sering kita dengar dalam agama islam bahwa perbuatan yang kita lakukan harus berlandaskan dengan niat dan tentu niat yang baik. Seorang pemimpin tentulah harus memiliki kebesaran jiwa, empati terhadap rakyatnya, pejuang maupun pemikir untuk bisa mensejahterakan rakyat.

Pemimpin yang baik memperlihatkan kesungguhan dan niat baik untuk bisa mensejahterakan dan memberantaskan kemiskinan yang menjadi problematika di tengah masyarakat, atas dasar itulah rakyat banyak berharap terhadap perubahan dan program yang menjadi jalan keluar lewat sebuah kepemimpinan. Harapan adalah sebuah tanggung jawab yang akan dituntut oleh seorang pemimpin, tak ada lagi harapan maka tak ada kehidupan. Membicarakan mengenai kepemimpinan ini tentulah dengan hati yang tulus dan ikhlas dalam berjuang dalam menjalankan amanah dan tentu ujian seorang pemimpin adalah lupa akibat sejuknya ruangan, empuknya kursi dan pelayanan mewah yang serba ada.

Pemimpin adalah pemersatu dan perekat di antara sekat perbedaan, menuai kepercayaan dari tindakan dan ucapan serta menginterpretasi masalah di dalam masyarakat untuk mencari jalan keluarnya. Kerakusan pemimpin, membuat rakyat terbengkalai dan miskin seperti menjadi takdir. Adanya niat untuk menguasi kekayaan alam secara pribadi, uang untuk program masyarakat dikorupsi serta tak ada pelayanan yang baik terhadap rakyat padahal kedaulatan ada pada rakyat.

Demokrasi yang menjadi sistem yang kita pilih hingga hari ini, menyisakan duka dan luka yang serius terjadi di tengah masyarakat. Perbedaan pilihan menjadi sebuah masalah awal, Perdebatan perbedaan pilihan tak berujung membuat renggangnya sebuah hubungan yang ada di masyarakat. Perpecahan akibat perbedaan politik ini akan mengganggu kehidupan masyarakat yang sebelumnya harmonis, gotong royong serta tenggang rasa akan berubah sedimikian cepat akibat perbedaan pandangan politik.

Potret Indonesia hari ini memperlihatkan bahwa yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin, penguasa makin rakus, rakyat terpecah karena perbedaan politik. Saya merasa terketuk dalam peristiwa seperti ini, saatnya kita memurnikan perjuangan yang sebenarnya untuk rakyat bukan golongan yang dekat dengan pemerintah saja yang dimakmurkan tapi memakmurkan seluruh rakyat Indonesia. Adanya persatuan manakala penguasa tak lagi memikirkan keuntungan dan kepentingan individu maupun kelompok tapi untuk kepentingan masyarakat Indonesia. Indonesia bukan lagi dijajah oleh Belanda dan kita tinggalkan kebiasaan penghianat penguasa dulu yang bersekongkol dan menjadi boneka belanda, kita harus menjadi tuan di tanah kita bukan pedagang yang menjual tanah kepada penjajah baru.

Jika politik kita hari ini dibangun dari ketidakjujuran dan tak ada niat tulus untuk mensejahterakan rakyat dan dilandaskan pada ego kelompok, maka alamlah yang akan membalas dan semesta akan mengutuk. Saya berdoa semoga pemimpin kita tak ada niat merampok hak rakyat, tidak memperkosa kedaulatannya dan tidak menghinakan harga dirinya dengan berlutut di bawah kaki kerakusan dunia yang fana. (RR/SBS31)

You might also like
Comments
Loading...