Mencoba BBM Exxon Mobil di SPBU Mini Panimbang

Panimbang (27/11/2019), SatuBanten – Bisnis distribusi bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia nampak makin menarik bagi beberapa perusahaan migas global. Perusahaan – perusahaan migas tersebut mulai gencar masuk ke berbagai pasar di Tanah Air dan juga mulai menggunakan skema kemitraan untuk mempercepat ekspansi bisnisnya.

Setelah Shell dan BP AKR masuk ke bisnis ritel distribusi BBM tanah air, ExxonMobil Indonesia bekerjasama dengan PT Indomobil Prima Energi (anak usaha Salim Grup) juga mulai menggarap peluang ini. Tak terkecuali di Pandeglang tepatnya di Desa Tegal Papak Pagelaran.

Terletak di sisi jalan raya Panimbang – Labuan, SPBU Mini milik Exxon sangat mencolok terlihat. Saat Satu Banten menyambangi SPBU ini hanya dijaga oleh satu orang pegawai yang melayani pembelian BBM tipe Ron 92 seharga Rp. 9.800 perliternya.

“Ini milik BUMNDes, saya pegawainya yang melayani pembelian di POM ini. Kalau soal ini milik asing atau lokal saya kurang paham,” ujar salah satu pegawainya.

Dari data yang dihimpun Satu Banten, Kementerian ESDM siap koordinasi penjualan BBM dengan ExxonMobil yang mulai menggarap pilot project SPBU mini sejak akhir 2018. SPBU mini ini menyasar daerah-daerah yang tidak terjangkau oleh SPBU komersil seperti di daerah perkotaan.

Saat ini SPBU mini ExxonMobil sudah tersebar sebanyak 40 titik di sekitar Pandeglang, Purwakarta, Karawang, Cikarang, dan lainnya.

“Pada dasarnya, kami ingin proyek ini bisa dinikmati oleh pelaku UMKM di daerah. Kalau ada daerah yang sebenarnya potensial tapi tidak terjangkau SPBU, yang terjadi nanti pertamini dan bensin eceran dimana-mana. Peralatannya, kualitas, dan takarannya out of control,” jelas Willianto Husada, direktur PT Indomobil Prima Energi beberapa waktu lalu.

Menariknya, biaya investasi SPBU mini ExxonMobil yang ditawarkan cukup terjangkau, yakni sekitar Rp 65 juta – Rp 85 juta. Fasilitas yang akan didapatkan yaitu konstruksi, instalasi listrik, dan perizinan. Biaya tersebut akan disesuaikan kembali dengan lokasi dan luas lahannya.

Selain itu, calon mitra juga perlu menyiapkan biaya sebesar Rp 40 juta untuk deposit pasokan BBM dan suku cadang. Biaya deposit ini bersifat refundable, artinya jika kerjasama telah selesai, biaya tersebut bisa dikembalikan. Jadi total modal yang perlu disiapkan calon mitra sekitar Rp 110 juta – Rp 140 juta, dengan catatan calon mitra sudah memiliki lahan sendiri.

“Untuk lahan harus disiapkan oleh mitra sendiri sama perizinan lokal dengan masyarakat sekitar juga diurus oleh mitra. Lalu sekitar 1/3 sisi depan dari lahan tersebut harus dicor untuk akses keluar-masuk kendaraan,” jelas Willianto.

Sistem kemitraan ini bebas franchise fee untuk 3 tahun pertama. Minimal luas lahan yang harus disiapkan calon mitra, sebesar 200 meter persegi. Willianto menjelaskan luas tersebut sudah sesuai dengan standar keamanan yang ditetapkan oleh kementerian dan Indonesian Petroleum Association (IPA).

Dengan modal tersebut, nantinya calon mitra akan mendapatkan 1 mikrosite unit (tangki BBM) , 1 Indostation unit, sistem dan pemeliharaan, peralatan keamanan, buku panduan, pelatihan karyawan dan seragam. Indostation unit yang dimaksud adalah gabungan bengkel mini sekaligus gerai penjualan oli serta aneka sparepart motor.

“Untuk supply chain, pasokan oli, sparepart, BBM dan semuanya terkait operasional akan dikelola oleh kami. Tiap SPBU mini milik investor akan terintegrasi oleh sistem kami. Jadi semua transaksi akan terekam oleh sistem,” ujar Willianto.

Ia bilang satu tangki SPBU mini berkapasitas 3.500 liter BBM. Dalam sehari, tiap SPBU mini ExxonMobil bisa menjual lebih dari 100 liter BBM. Jenis BBM yang dijual di SPBU mini tersebut adalah Ron 92 dengan merk Mobil 92R. Harga jualnya sekitar Rp 9.800 per liter.

“Sistem kemitraan ini kami pakai skema bagi hasil antara perusahaan dan mitra. Dari yang sudah berjalan, ROI-nya (Return Of Investment) kurang dari 2 tahun,” pungkas Willianto.

Konsultan bisnis, waralaba dan kemitraan dari Proverb Consulting, Erwin Halim berpendapat bahwa SPBU mini ExxonMobil menyasar pasar menengah ke bawah. Hal ini bisa dilihat dari beberapa pinggiran kota yang menjadi sasarannya. Masuk ke daerah yang jauh dari jangkauan SPBU komersil menurutnya merupakan point plus marketing dari ExxonMobil.

“ExxonMobil ini menyasar daerah yang bisa dibilang langka dari pasokan bahan bakar. Jadi meskipun harga per liter BBMnya cukup tinggi dan menyasar masyarakat menengah bawah, tidak menjadi masalah karena mereka main di kelangkaan,” jelas Erwin.

Sementara itu, Suryani (20) warga Panimbang mengatakan bahwa dengan adanya SPBU ini sangat membantu karena ketersediaan BBM di SPBU Pertamina sering habis. “Lumayan ya, karena BBM di SPBU Pertamina sering habis dan juga lokasinya jauh ada di Labuan,” ungkap wanita yang sehari-hari berjualan ikan di Pasar Panimbang. (Deni/SBS)

You might also like
Comments
Loading...