Memajukan Pendidikan Banten Berkarakter melalui Pembelajaran Matematika Berbasis Budaya Banten

Memajukan Pendidikan Banten Berkarakter melalui Pembelajaran Matematika Berbasis Budaya Banten

Oleh : Dr. Supriadi, S.Pd, M.Pd

Serang (12/10/2018) SatuBanten.com – Isu pendidikan Indonesia di tahun 2010 adalah  mulai dilaksanakannya pendidikan  berbasis karakter. Pendidikan matematika sangat berperan dalam  mewujudkan karakter bangsa yang cerdas, ulet, jujur, kritis dan kreatif. Suatu inovasi pembelajaran matematika pada tahun 1986 digagas oleh Ambrosio, seorang ahli  pendidikan matematika dari Brasil tersebut mencoba  menghubungkan pembelajaran matematika dengan budaya yang dipahami siswa saat belajar matematika. Ethnomathematics merupakan suatu cara yang sangat tepat dalam mendidik siswa yang berkarakter berbasis budaya bangsa.

Ethnomathematics relatif baru sebagai bidang penelitian dalam pendidikan matematika. Sebagai pandangan matematika sebagai “budaya bebas” dan “universal” telah lebih cepat muncul dalam kurikulum, sedangkan  ethnomathematics muncul relatif terlambat. Prestasi pendidikan matematika Indonesia di dunia Internasional selalu di urutan terendah daripada negara-negara lain. Ini disebabkan kurikulum kita masih eurosentris, sehingga kurang cocok dengan dengan budaya dan karakter siswa Indonesia. Bangsa-bangsa seperti Jepang, Korea, Cina dan bangsa-bangsa Tiongkok lainnya telah lama menggunakan budaya mereka dalam pembelajaran matematika. Sehingga mereka dapat maju pesat dalam segala bidang. Keberhasilan  negara Jepang dan Tionghoa dalam pembelajaran matematika karena mereka menggunakan Etnomatematika dalam pembelajaran matematikanya (Kurumeh, 2004).

Ruang lingkup ethnomathematics dalam pendidikan matematika yaitu  menekanan pada  analisis pengaruh dari faktor sosial-budaya dalam kegiatan belajar mengajar dan pengembangan matematika itu sendiri.  Matematika merupakan produk budaya. Setiap kebudayaan dan subkultur mengembangkan matematikanya sendiri. Matematika dianggap menjadi universal, berisi semua aktivitas manusia. Sebagai produk budaya matematika memiliki sejarah. Dalam kondisi ekonomi, sosial dan budaya tertentu, hal itu muncul dan berkembang dalam arah tertentu, di bawah kondisi lain, ia muncul dan berkembang di arah lain. Dengan kata lain, pengembangan matematika tidak unilinear.

Pembelajaran matematika berbasis budaya (Ethnomathematics) bukan berarti  kita menjadi masyarakat yang primitif atau kembali pada jaman dahulu. Namun bagaimana budaya yang sudah menjadi suatu  karakter asli bangsa dapat terus bertahan dengan disesuaikan waktu dan jamannya saat ini. Ethnomathematics adalah suatu pendekatan pengajaran dan pembelajaran matematika yang dibangun atas pengetahuan siswa sebelumnya, latar belakang, peran lingkungan bermain dalam hal konten dan metode, dan pengalaman masa lalu dan lingkungannya saat ini.   (D’Ambrosio, 2001).

Pengamatan yang dilakukan oleh Supriadi (2011) selama 1 semester di UPI Kampus Serang, diperoleh data bahwa hampir seluruhnya (80%)  dari 80 orang mahasiswa tidak memahami budaya yang ada saat pembelajaran matematika berlangsung. Sehingga nampak  dari hasil tes matematika berbasis budaya Banten yang rendah dengan rerata 50%.

Permasalahan diatas disebabkan bahwa pembelajaran matematika di SD, SMP,SMA dan PT kurang menyajikan budaya sebagai tema atau konstek dalam pembelajaran. Pembelajaran berbasis budaya membawa budaya lokal yang selama ini tidak selalu mendapat tempat dalam kurikulum sekolah (Paulina, 2005).

IMPLEMENTASI BUDAYA BANTEN DALAM PENDIDIKAN MATEMATIKA SEKOLAH

Pewarisan tradisi budaya dikenal sebagai proses enkulturasi (enculturation) sedangkan adopsi tradisi budaya dikenal sebagai proses akulturasi (aculturation). Ke dua proses tersebut berujung pada pembentukan budaya dalam suatu komunitas dalam dunia pendidikan. Pendidikan merupakan proses pembudayaan dan pendidikan juga dipandang sebagai alat untuk perubahan budaya. Proses pembelajaran di sekolah merupakan proses pembudayaan yang formal (proses akulturasi). Proses akulturasi bukan semata-mata transmisi budaya dan adopsi budaya tetapi juga perubahan budaya. Sebagaimana diketahui, pendidikan menyebabkan terjadinya beragam perubahan dalam bidang sosial budaya, ekonomi, politik, dan agama. Namun, pada saat bersamaan, pendidikan juga merupakan alat untuk konservasi budaya–transmisi, adopsi, dan pelestarian budaya. Mengingat besarnya peran pendidikan dalam proses akulturasi maka pendidikan menjadi sarana utama pengenalan beragam budaya baru yang kemudian akan diadopsi oleh sekelompok siswa dan kemudian dikembangkan serta dilestarikan. Budaya baru tersebut sangat beragam, mulai dari budaya yang dibawa.

Pendidikan matematika memiliki  nilai-nilai seperti disiplin, jujur, kritis, kreatif, ulet, indah dan lain-lain. Sebelumnya matematika dipandang sesuatu yang kaku,yang tidak ada hubungan dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan RME dan Konstektual adalah sebagai bukti bahwa matematika adalah  bagian dari kehidupan kita. Sama halnya dengan budaya kita sehari-hari tidak terlepas dari aktivitas matematika itu sendiri.

Proses pembudayaan Banten dengan pengembangan Budaya Baduy dalam pendidikan matematika dapat disajikan dalam analisis suatu aplikasi matematika dalam suatu masyarakat. Seperti penanggalan, bilangan, penentuan waktu. Selain itu,nilai budaya dapat disisipkan sebagai media dalam penyampaian konsep  matematika. Seperti peragaan tokoh raja di Banten dalam penghitungan konsep bilangan bulat, hasil-hasil budaya masyarakat Baduy yang digunakan sebagai  konstek permasalahan matematika. Sehingga budaya asli kita dapat hadir dalam setiap topik-topik pembelajaran matematika. Ide penulis  didukung oleh pendapat ahli pendidikan bahwa pembelajaran berbasis budaya dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu belajar tentang budaya, belajar dengan budaya, dan belajar melalui budaya (Goldberg, 2000). Ada empat hal yang harus diperhatikan dalam pembelajaran berbasis budaya, yaitu substansi dan kompetensi bidang ilmu/bidang studi, kebermaknaan dan proses pembelajaran, penilaian hasil belajar, serta peran budaya Pembelajaran berbasis budaya lebih menekankan tercapainyapemahaman yang terpadu (integrated understanding ) dari pada sekedar pemahaman mendalam (inert understanding) (Krajcik, Czemiak, Berger,1999).

Proses penciptaan makna melalui proses pembelajaran berbasis budayamemiliki beberapa komponen, yaitu tugas yang bermakna, interaksiaktif, penjelasan dan penerapan ilmu secara kontekstual, danpemanfaatan beragam sumber belajar (Brooks & Brooks,1993, dan Krajcik, Czerniak Berger, 1999). Penilaian hasil belajar tidak semata-mata diperoleh dari siswa dengan mengerjakan tes akhir atau tes hasil belajar yang berbentuk uraian (terbatas) atau objektif saja. Konsep penilaian hasil belajar dalam pembelajaran berbasis budaya adalah beragam perwujudan (multiplerepresentations) dalam pembelajaran berbasis budaya, budaya menjadi sebuah metode bagi siswa untuk mentransformasikan hasil observasi mereka ke dalam bentuk dan prinsip yang kreatif tentang bidang ilmu pendidikan matematika.

Berdasarkan paparan tersebut budaya Banten dapat dijadikan sebagai tema yang selalu digunakan dalam pembelajaran matematika baik ditingkat PAUD,SD,SLTP,SLTA dan PT. Namun tidak menutup kemungkinan Budaya Banten dapat terintegrasi pada semua mata pelajaran di sekolah.  Guru dan siswa akan belajar kembali memahami Budaya aslinya sehingga tidak ada pergeseran budaya yang terlalu jauh dalam diri setiap masyarakat Banten.

Pembelajaran matematika berbasis budaya Banten selama ini tidak selalu mendapat tempat dalam kurikulum sekolah. Dalam pembelajaran matematika berbasis budaya, lingkungan belajar akan berubah menjadi lingkungan yang menyenangkan bagi guru dan siswa yang memungkinkan guru dan siswa berpartisipasi aktif berdasarkan budaya yang sudah mereka kenal sehingga dapat memperoleh hasil belajar yang optimal. Siswa merasa senang dan diakui keberadaan serta perbedaannya karena pengetahuan dan pengalaman budaya yang sangat kaya yang mereka miliki dapat diakui dalam proses pembelajaran.         Sementara itu, guru berperan memandu dan mengarahkan potensi siswa untuk menggali beragam budaya yang sudah diketahui serta mengembangkan budaya tersebut pada fase berikutnya. Selanjutnya interaksi guru dan siswa akan mengakomodasikan proses penciptaan makna dari ilmu pengetahuan yang diperoleh dalam matapelajaran di sekolah oleh masing-masing individu. (RR/SBS31)

 

 

You might also like
Comments
Loading...