Melihat Gotong Royong Warga Baduy Membuat Rumah

Ciboleger, Satubanten.com – Masyarakat Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak Provinsi Banten, memiliki adat yang hingga kini masih dipertahankan yaitu salah satunya membangun rumah dengan cara bergotong royong.

Semua rumah milik warga Baduy dibangun dengan cara gotong royong antar sesama warga. Hal yang sama dijumpai oleh Satubanten, saat berkunjung ke Kampung Cibagelut Desa Kanekes, Senin (20/7/2020).

Kampung ini terletak sekitar 1 km dari Pintu Masuk Cijahe sebagai salah satu pintu masuk ke Baduy yang dibuka secara resmi dari kawasan Bojongmanik dan Cirinten Kabupaten Lebak.

Pria dan wanita, tua dan muda berbagi tugas saat mereka bergotong royong membangun salah satu rumah milik Basri.

Para wanita Baduy membuat atap daun sagu (kirai). (foto:Ahmad/SBN)

Juli sebagai porter dan guide yang mengantar SatuBanten menerangkan bahwa proses gotong royong ini dilakukan biasanya saat semua kebutuhan material dirasa cukup dikumpulkan oleh pemilik rumah.

“Biasanya jika semua material sudah dirasa cukup, sang pemilik nantinya akan mengumumkan bahwa proses gotong royong bisa dimulai,” ujar Juli yang merupakan warga Cibeo Baduy Dalam.

Lebih lanjut Juli menjelaskan bahwa aktivitas membangun rumah di Desa Kanekes memang selalu mengandalkan gotong royong. Nanti pria dan wanita akan berbagi tugas, mulai dari menyusun rangkaian kayu bagi para pria Baduy atau menjahit atap dari daun sagu atau dikenal dengan sebutan atap daun kirai.

’’Kita memang perlu gotong royong agar pekerjaan lebih mudah dilakukan. Selain itu, juga bisa selesai dengan cepat,’’ ungkapnya.

Menurut Juli, dengan cara gotong royong, warga yang hendak membangun rumah juga tidak perlu mengeluarkan uang untuk membayar tukang. ’’Pemilik rumah hanya perlu menyediakan makan dan minum. Kemudian diberikan kepada warga yang ikut membantu,’’ tuturnya.

Selain itu, menurut Juli bahwa proses pembuatan rangka rumah biasanya dilakukan hanya satu hari dan sisanya saat finishing nanti sang pemilik rumah bisa melakukan sendiri bersama anggota keluarga lainnya.

Perkampungan Baduy Luar dilihat dari punggung bukit. (foto:Ahmad/SBN)

“Kegiatan pembuatan rumah ini biasanya dilakukan bergantian, apakah membuat rumah baru atau menganti rumah yang sudah rusak semua dilakukan secara gotong royong, ujar Juli.

Rumah adat suku Baduy biasanya disebut Sulah Nyanda semua bahan terdiri dari kayu, bambu, ijuk, kirai dan batu untuk dudukan tiang utama. Rumah yang dibangun harus seirama dengan mengikuti kontur tanah agar tetap mengikuti alam sekitar. (SBN)

You might also like
Comments
Loading...