“Mati Suri” Ekonomi Indonesia

OPINI, (07/02/2020)- Satubanten.com- Sejak lima tahun terakhir pertumbuhan ekonomi indonesia mengalami penurunan, menurut data BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2015 pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,79% turun 0,23% dari tahun 2014. Tahun 2016 sebesar 5,03 % naik 0,24% dari tahun 2015. Sedangkan tahun 2017 pertumbuhan ekonomi indonesia naik lagi menjadi 5,07%. Tahun 2018 mengalami kenaikan signifikan menjadi 5,17%. Serta tahun 2019 pertumbuhan ekonomi Indonesia turun anjlok ke angka 5,02%.

Tahun 2018 menjadi tahun kenaikan yang signifikan sejak 2015 pada pertumbuhan ekonomi Indonesia, hal ini disebabkan oleh peningkatan disemua sektor dari tahun 2017, kecuali sektor kontruksi dan pertanian. Namun untuk tahun 2019 pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali merosot turun diangka 5,02% berdasarkan rilis BPS. Menurut Suhariyanto, Kepala BPS mengatakan “mempertahankan 5 persen disituasi sekarang tidaklah gampang”.

Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu tolak ukur parameter prestasi yang digapai dalam hal perkembangan perekonomian dari suatu negara. Suatu negara harus selalu menjaga siklus pertumbuhan ekonominya, agar tidak terjadinya kenaikan pertumbuhan ekonomi yang terlalu pesat atau melonjak terlalu tinggi karena berdampak tidak baik, hal itu  akan menyebabkan inflasi atau adanya kenaikan harga-harga barang dipasaran. Sedangkan penurunan pertumbuhan ekonomi jugaklah tidak baik karena akan memperbanyak angka pengangguran yang berarti menurunnya kesejahteraan hidup masyarakat yang ada dinegara tersebut.

Menurut teori pertumbuhan ekonomi oleh Kuznets, pertumbuhan ekonomi merupakan kenaikan kemampuan jangka panjang suatu negara dalam menyediakan berbagai jenis barang-barang ekonomi dengan jumlah yang banyak kepada penduduknya. Pertumbuhan ekonomi dicapai oleh 3 faktor yaitu pertama peningkatan persediaan barang terus menerus, perkembangan teknologi, dan penggunaan teknologi secara efektif dan efisien.

Menurut survey AT Kearney ada tujuh faktor penghambat pertumbuhan ekonomi RI antara lain sebagai berikut:

Pertama: Produktivitas tenaga kerja mengungguli peningkatan biaya tenaga kerja, selama satu dekade terakhir produktivitas tenaga kerja meningkat 47% tetapi biaya tenaga kerja melonjak lebih tinggi sebasar 55%.

Kedua: Produktivitas modal hal ini disebabkan adanya masalah dengan perputaran modal pada perusahaan di Indonesia.

Ketiga: Adaptasi teknologi pemerintah Indonesia hanya menghabiskan 0,3% dari PDB untuk bidang R & D jauh lebih kecil dibanding korea dan israel yang menghabiskan sekitar 4 persen untuk R & D.

Keempat: Pengembangan infrastruktur di indonesia yang tidak merata Ibu kota memang terlihat seperti kota modern, namun kita harus melihat masih banyaknya infrastruktur nasional yang masih terbelakang.

Kelima: Besaran ekspor yang semakin sedikit adanya penurunan signifikan dari nilai perdagangan negara yaitu ekspor dan impor apabila dihitung dari PDB.

Keenam: Kestabilan finansial adanya kemajuan yang signifikan dalam kebijakan fiskal dan manajemennya sebagaimana disaksikan oleh peningkatan sovereign rating serta peningkatan yield obligasi pemerintah.

Ketujuh: Kurangnya sumber daya manusia yang berkualitas, meski negara ini memiliki sumber daya manusia yang melimpah, riset menemukan adanya kesenjangan keterampilan yang signifikan.

Kementerian perindustrian saat ini memberikan pendorongan terhadap lima sektor manufaktur yang menjadi penyanggah pertumbuhan ekonomi nasional di Indonesia. Lima sektor manufaktur ini antara lain industri makanan dan minuman, industri tekstil pakaian, industri kimia, industri otomotif dan elektronika. Lima sektor ini memberikan kontribusi yang besar lebih dari 60% pembagiannya untuk PDB, nilai ekspor serta penyerapan tenaga kerja. Selain mendorong pertumbuhan 5 sektor manufaktur diatas, pemerintah Indonesia juga sudah menurunkan suku bunga acuan Bank Indonesia menjadi sebesar 5,75% turun 25 basis poin(bps), hal ini akan berdampak turunnya bunga deposito perbankan selanjutnya bunga kredit pada perbankan nasional, sehingga pertumbuhan kredit bisa meningkat. Tingkat suku bunga ini bisa mempengaruhi suatu keputusan investasi pada investor untuk menanamkan modalnya, tingkat investasi ini berdampak pada tingkat pertumbuhan ekonomi dan juga dapat menjadi faktor besarnya jumlah atau volume uang yang beredar.

Untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi nasional sangatlah tidak mudah dibutuhkan kerja sama antara pemerintah dan juga masyarakat untuk saling membantu. Dan ini menjadi PR besar yang wajib diselesaikan oleh kita semua. Dalam era industrri 4.0 yang dimaksutkan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat seperti pada saat pemerintah berinovasi dan mengembagkan teknologi yang sudah ada ataupun yang belum tersedia, lalu masyarakatnya harus mendukung program pemerintah seperti menerima adanya perubahan teknologi tersebut dan juga mau belajar pada bidang IPTEK saat ini. Kerja sama lainnya yaitu ketika Pemerintah sudah mempermudah kebijakan dan prosedur pada pendirian UKM agar UKM dapat terus berkembang, maka masyarakat harus semangat untuk menumbuhkan jiwa wirausaha pada diri sendiri dan juga lingkungan sekitar karena ketika UKM bertambah banyak maka lowongan pekerjaan juga akan meningkat. Banyak hal lainnya yang bisa kita lakukan demi meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Mari bersama- sama dalam menyelesaikan pekerjaan rumah ini untuk indonesia yang lebih baik kedepannya. (Sbs/011)

You might also like
Comments
Loading...