Marak Kecelakaan di Pantai, Wisatawan Diduga Tak Waspadai Gelombang Tinggi

SERANG, Satubanten.com — Kecelakaan Laut marak terjadi beberapa pekan terakhir. Pada 11 Juni lalu sebuah kapal yang mengangkut 16 orang tenggelam, 9 orang selamat sedang 7 lainnya hilang dan belum ditemukan. Dua Minggu setelahnya yakni tanggal 26 Juni, 4 wisatawan di Pulomanuk dilaporkan terseret ombak, 1 meninggal sedang 3 lainnya selamat.

Kecelakaan laut yang terjadi, hampir semuanya akibat terkena gelombang laut. Salah satu pegiat Wisata di Bayah, Erwin Komara Sukma mengatakan bahwa memang gelombang laut sedang tinggi dan tidak aman bagi wisatawan.

“Beberapa hari ini, memang gelombang laut lagi gede, kalau dari data BMKG sih malah akan begitu sampai beberapa hari kedepan, nggak aman buat wisatawan,” tuturnya melalui akun media miliknya.

BACA JUGA : Dikabarkan Hilang, 3 ABK Kapal Yang Tenggelam Di Selat Sunda Ditemukan Selamat

Sementara itu, melalui rilis media Badan, Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas I Serang, memang diketahui adanya gelombang setinggi 4 hingga 6 meter di perairan laut Selat Sunda, Selat Bali dan Selat Lombok.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Kelas I Serang, Tarjono mengatakan bahwa gelombang setinggi 4 hingga 6 meter tersebut tergolong gelombang kategori sangat tinggi. Oleh karena itu, tidak disarankan bagi pelaut maupun wisatawan untuk melakukan aktivitas di pantai.

“Gelombang ombak besar memang sudah menjadi karakteristik di perairan laut Selat Sunda Bagian Selatan dan juga di perairan Selatan Banten. Biasanya kami mengeluarkan peringatan dini, kemudian pihak BPBD, Airud, Tagana atau Balawista yang akan mengeluarkan himbauan baik ke nelayan atau wisatawan pantai,” tuturnya.

BACA JUGA : Korban Tenggelam Di Pulomanuk Ditemukan Meninggal Dunia

Untuk kasus kecelakaan di Pulomanuk, Tarjono mengatakan bahwa memang gelombang tinggi menjadi salah satu penyebabnya. Namun dirinya menduga ada faktor kelalaian dari wisatawan, sehingga berakibat kecelakaan.

“Kalau yang di Bayah (Pulomanuk, red) itu infonya kan mereka nggak masuk dari pintu depan, karena sebenarnya wisata pantai di daerah Bayah, Sawarna itu belum dibuka. Kalau mereka lewat depan kan mungkin akan diperingati dulu oleh pihak penjaga pantai atau Balawista dan sebagainya. Jadi itu, ada kelalaian juga dari pihak Wisatawannya,” imbuhnya.

Belum lama berselang, sehari setelah kecelakaan yang menewaskan 1 orang di Pulomanuak, kembali dilaporkan 2 orang wisatawan terseret ombak di Pantai Legon Pari, Sawarna, Kabupaten Lebak. Kecelakaan tersebut terjadi tepatnya pada tanggal 27 Juni. Terakhir, Selasa (30/06) lalu seorang wisatawan kembali dikabarkan meninggal karena tergulung ombak saat berselancar di pantai Marbella, Anyer. (MIH/SBS)

You might also like
Comments
Loading...