Laskar Ujung Kulon, Asah Kepekaan Konservasi Sejak Usia Dini

Minggu, 23 September 2018

Sebanyak 34 Siswa tingkat SMP ikut menjelajah mengunjungi rumah si Badak, mereka diberi nama Laskar Ujung Kulon. Dengan cara yang asik dan tidak kaku serta pengalaman langsung, mereka diperkenalkan dengan konservasi sejak usia dini.

Satubanten.com – Ada yang menarik dari rangkaian acara Peringatan Hari Badak se-Dunia atau World Rhino Day (WRD) 2018 kemarin. Jika biasanya aksi konservasi dilakukan hanya oleh remaja dan orang – orang dewasa, di peringatan kali ini anak-anak juga ikut beraksi dalam melakukan upaya-upaya konservasi lingkungan Rumah Badakl. Dalam peringatan WRD 2018 yang dilakukan pada Jum’at (21/09) sampai Minggu (23/9) tersebut segerombolan anak-anak ikut menjelajah hutan, menyatu dengan alam, menjelajah rumah badak. Mereka diberi nama Laskar Ujung Kulon.

“Kalau kita boleh flashback kenapa kita punya Laskar Ujung Kulon. Nah tiap tahun kita punya program namanya Rhino Goes To School, jadi setiap sekolah nanti dipilih mana perwakilannya. Ceritanya Badak yang datang ini si pematerinya. Pada saat di MTS 3 Cibaliung, saya dan mba Nina Amban memberi materi tentang konservasi Badak dan Ujung Kulon, responnya cepat sekali. Akhirnya tercetus pada saat itu, oke aku jadikan kalian Laskar Ujung Kulon,” tutur Monica.

Baca JugaPeringati World Rhino Day 2018, Balai TNUK Kembali Gelar LLA

Nina Amban adalah pengajar dari Bumi Edukasi Bogor yang khsus memberi pelatihan dan pendidikan konservasi di kalangan anak-anak. Dari sekian banyak kunjungannya di beberapa sekolah di Ujung Kulon, siswa MTS 3 Cibaliung menunjukkan antusiasme yang lebih besar daripada sekolah lain. Bahkan interaksi tidak hanya sebatas di sekolah saja ketika ada materi, antar mereka bahkan menginisiasi adanya grup whatapp sebagai sarana bertukar pikiran dan berdiskusi.

Nina dari BEB dan Monica yang sehari-sehari bertindak sebagai Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Balai TNUK tahu sekali bahwa pemaparan materi hanya dengan cara yang biasa akan sangat tidak efektif. Maka mereka bersama tim membuat metode penyampaian yang bisa membekas salah satunya yaitu dengan benar-benar menjelajah dan merasakan alam secara langsung. Mengenal langsung lingkungan tempat Badak tinggal dan hidup selama ini.

“Aksi itu tidak perlu langsung ke Ujung Kulon ngapain tapi bermula dari rumah kalian, apa yang bisa dilakukan. Saking excitednya dan sangking semangatnya samapai keluar kata-kata,’Nanti suatu saat kalian aku mau ajak kamu ke rumah si bajak’,” lanjut Monica menceritakan pengalamannya.

Baca Juga : Kunjungi World Rhino Day, Bupati Pandeglang Lewat Jalur Laut

Gelaran WRD 2018 rupanya menjadi jawaban atas ucapan spontan Monica dan Nina saat itu. Benar saja melalui salah satu rangkaian Lintas Alam kali ini, sebanyak 34 anak yang berasal dari berbagai SMP di daerah penyangga TNUK ikut serta mengenal Rumah si Badak. Sebetulnya masih ada rombongan yang berasal dari Air Jeruk, namun keberangkatan mereka tertunda karena hujan lebat yang turun pada sore hari menjelang pemberangkatan. Dulu para Badak yang berkunjung ke sekolah-sekolah mereka, kini mereka ganti bertamu ke rumah si Badak bercula satu.

Monica mengatakan bahwa dalam sesi Lintas Alam ini, mereka akan mendapat pembekalan yang lengkap. Pembekalan materi indoor dilakukan pada hari Juma’at (21/9), sedangkan pembekalan materi secara outdoor dilakukan di hari berikutnya. Selain itu, dalam Lintas Alam tersebut Laskar Ujung Kulon juga melakukan aksi tanam Mangrove. Sebanyak 250 bibit Mangrove mereka siapkan, mereka cari sendiri, hingga penanaman penuh seluruh Mangrove dilakukan mandiri.

“Konsepnya adalah rumah. Rumah itu, orang dimana – mana pasti menjaga rumahnya. Dalam skala yang lebih besar, Bumi, alam ini adalah rumah mereka. Agak kecil sedikit, mereka tinggal di Pandeglang, itu ada Ujung Kulon. Nah Ujung Kulon adalah rumah mereka. Nah mereka ingin kita perkenalkan, ada apa saja sih di rumahnya, apa yang harus dilakukan terhadap rumahnya, itu mereka cerita, sharing dengan fasilitatornya mba Nina Amban dari Bumi Edukasi Bogor. Intinya adalah rumah itu harus dijaga oleh semua, Ujung Kulon itu adalah milik semua, dan mereka mendapat anugrah untuk menjaganya,” pungkas Monica.

Ditulis oelh : Imam B. Carito

Diedit oleh : SBS032

*Baca tulisan lain Imam B. Carito atau artikel lain tentang Laskar Ujung Kulon, artikel tentang World Rhino Day (WRD) 2018, atau artikel tentang Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK).

You might also like
Comments
Loading...