Kontrasnya Kehidupan Warga Kota Serang-Banten

Serang, SatuBanten – Sumiati (40) Warga Kampung Bojong Salam, Desa Bojong Salam, Kecamatan Curug, Kota Serang, Banten, hidup bersama kelima anaknya dalam gubuk yang berukuran 3×4 berdindingkan bilik bambu yang hanya terdiri tiga ruangan, ruang tengah, kamar, dan dapur yang sudah usang dan bolong-bolong. Lantainya hanya semen tanpa tikar ataupun karpet, beratapkan asbes dan di siku-siku kayu tak terlihat tempelan lampu penerangan.

Kondisi kehidupannya lumayan memprihatinkan. Sumiati hidup bersama kelima anaknya. Satu anak Sumiati ada yang masih duduk di bangku sekolah Dasar (SD) dan yang lainnya terpaksa berhenti sekolah karena tidak ada biaya. Sumiati yang sehari-hari hanya bekerja serabutan mengandalkan perintah dari orang ketika ada kerjaan menghampirinya, kadang dia menanam padi, Tandur, Nyoyos dan bikin batu bata dengan upah Rp30.000 perhari.

Sumiati menghidupi kelima anaknya setelah sang suami meninggal saat kerja di Tanggerang. Dia meninggalkan lima anaknya yang seharusnya seusia mereka masih membutuhkan kasih kasih dari sang bapak. Sumiati Kini tinggal di gubuk dekat pembuatan batu bata yang sebelumnya dia tinggal di balai gardu bersama kelima anakanya, dengan kondisi balai bambu yang tidak berdinding bata hanya berbatas beberapa kain untuk menahan angin supaya tidak dingin ketika hujan tiba.

Menurut Sumiati, mungkin warga disini kasihan melihat keadaan saya dan kelima anak saya yang tinggal di tempat Pos ronda. Akhirnya warga membuatkan rumah kecil hanya berukuran 3×4 atas perintah RT serempat.

“Rumah saya gelap karna tidak ada penerangan. Saya dan anak hanya bisa menggunakan lilin, itu juga hanya kuat beberapa jam saja, Saya tidak sanggup membeli minyak karena harganya lumayah mahal”, kata Sumiati.

“Tiap malam saya jarang tidur karena beberapa jam lilin meleleh dan langsung menggantinya, kalau saya tidur terlalu lelap khawatir api dari lilin kena anak-anak”, katanya.

Een (17) putri ke dua ibu Sumiati terpaksa meninggalkan bangku sekolah yang seharusnya duduk di Sekolah Menengah Atas (SMA) karena tidak ada biaya, menurutnya jangankan untuk membiayai sekolah untuk makan sehari saja sudah tidak sanggup, kata Een.

Sekarang tinggal si bunggsu yang bersekolah dia duduk di bangku Sekolah dasar (SD) kelas satu, itu juga sering merengek tiap mau berangkat kesekolah meminta uang jajan, ibu kadang memberi kalau ada kalau tidak ada uang ibu sering membungkuskan singkong, katanya.

Fitri (15) yang seharusnya kelas 5 SD juga berhenti sekolah karena tidak mau membebani orang Ibunya (Sumiati-red), sekarang Fitri sudah dua hari ini sakit demam hanya bisa tiduran di lantai dingin yang tidak beralaskan tikar, “belum sempet di bawa ke berobat karena sama sekali tidak ada uang”, lanjut Een.

Data jumlah penduduk miskin di Provinsi Banten pada posisi September 2014 tercatat 682,71 ribu orang atau naik dibanding Maret 2013 sebanyak 656,24 ribu orang. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Banten Syech Suhaimi di Serang, mengatakan beberapa faktor penyebab meningkatgnya jumlah penduduk miskin karena selama periode Maret-September 2014 inflasi umum relatif tinggi.

Inflasi tercatat sebesar 5,76 persen akibat kenaikan harga bbm pada bulan Juni 2014, dan upah buruh konstruksi secara riil turun sebesar 3,15 persen dari Rp. 44.471,- menjadi Rp. 43.070,-.

Selama periode Maret – September 2014, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan bertambah 50,66 ribu orang (dari 363,80 ribu menjadi 414,46 ribu orang), sementara di daerah perdesaan berkurang 24,20 ribu orang (dari 292,45 ribu orang menjadi 268,25 ribu orang). (BSB/005)

You might also like
Comments
Loading...