Komunitas Back to School Dari Bantuan Dana Hingga Belanja Bareng Yatim dan Dhuafa

Tangerang – Pada tahun 2017 Varkey Foundation melakukan survey di 20 Negara di dunia. Hasil Survey tersebut menunjukkan bahwa pemuda generasi Z di Indonesia ternyata menempati angka tertinggi paling bahagia dibandingkan pemuda dari 19 negara lainnya. Indikator selanjutnya digali lagi, ternyata diketahui bahwa faktor komitmen Generasi Z Indonesia terhadap agama adalah salah satu penentu kebahagiaan tersebut. Angkanya ternyata cukup besar yakni 93% tertinggi di antara 19 negara lain. Pada posisi kedua, ada Nigeria yang mengantongi nilai sebesar 86%.

Komitemen pemuda atau Generasi Z Indonesia terhadap agama rupanya membawa mereka pada ekspresi keagamaan yang cenderung baru dan segar. Komunitas dakwah yang gaul dan cair kini menjadi tren, dakwah yang dipadu dengan geng motor, atau gerakan sosial yang juga masif. Salah satu yang diam-diam menonjol dalam gerakan sosial keagamaan adalah Komunitas Back To School (BTS) Tangerang.

Hari ini, Minggu (3/6) Komunitas Back To School kembali menggelar acara “Belanja Bareng Anak Yatim dan Dhuafa”. Tidak tanggung-tanggung, melalui gerilya selama sepekan terkumpul dana Rp. 32 Juta yang langsung dibelanjakan untuk 60 anak yatim dan dhuafa di Tangerang.

Gerakan BTS awalnnya digagas pada tahun 2007 yang diprakarsai oleh alumni Rohis SMA N 5 Tangerang. Pada masa awal ini gerakan BTS sebenarnya ditujukan untuk mengumpulkan donasi untuk membantu biaya sekolah bagi siapapun yang terkendala di SMA N 5. Namun ternyata dana yang masuk melebihi ekpektasi awal. Dana masuk melimpah dan kebutuhan awal untuk membantu keuangan sekolah yang bermasalah telah dipenuhi. Akhirnya dana tersebut dialihkan ke program lain yakni belanja untuk anak yatim.

Yudhistira adalah salah satu penggagas yang mulanya adalah ketua Alumni Rohis SMA N 5 Tangerang dan kini menjadi Dosen di salah satu Universitas di Tangerang. Alumni lain yang menjadi penggagas BTS adalah Setiyo. Berbeda dengan Yudhistira, Setiyo adalah alumni Rohis SMA N 5 Tangerang yang kini justeru menjadi salah satu pengajar di SMA almamaternya tersebut.

Sejak kegiatan awal tersebut, rupanya gelombangnya terus membesar. Kegiatan belanja anak yatim yang awalnya menggunakan dana donasi bantuan sekolah, lama-kelamaan menjadi brand sendiri. Dari tahun ketahun ternyata rutin dilakukan setiap Ramadhan datang. Donasi hampir selalu masuk dan tak pernah kurang untuk dibelanjakan langsung oleh anak yatim.

BTS khusus memilih anak yatim karena memang faktor keagamaan yang memang dijanjikan oleh Nabi Muhammad. Bahwa barang siapa menolong anak yatim, kelak di akhirat ia akan bersisian dengan Rosulullah. Ide dan semangat seperti ini muncul dan berkembang diantara berbagai tafsir kepada pemuda Generasi Z yang cenderung negatif.

Pasalnya Generasi Z yang juga disebut sebagai anak kandung Internet, kehidupannya sangat terikat dengan internet. Dunia mereka yang lebih sering berinteraksi di dunia maya dinilai menjadi sebab sikap mereka menjadi acuh terhadap dunia nyata dan lingkungan sekitar. Hal itulah yang dinilai menjadi sebab cueknya Generasi Z.

Namun faktor lain menjadi pendorong gerakan yang tidak dimiliki oleh generasi lain sebelumnya. Konektifitas internet yang mantap dan jaringan yang luas membuat Generasi Z mampu mengakomodasi gerakan-gerakan semacam crowfunding. Gerakan BTS yang awalnya hanya terbatas pada alumni Rohis SMA N 5 Tangerang, kini bisa menjangkau hingga ke lapisan lain yang lebih luas.

Bayangkan saja, hanya dalam waktu penggalangan donasi selama dua pekan saja, dana yang terkumpul bisa mencapai Rp. 32 juta, jika bukan karena jaringan yang mumpuni tentu tidak akan tercapai. Di masa – masa awal tentu saja BTS juga tidak langsung berdiri kokoh seperti sekarang, ada masa dimana hanya ada beberapa paket saja dari donasi yang dilakukan. Namun kegigihan para pengelolanya menjadi modal utama yang bisa terus dipelihara.

Kini, dengan jaringan yang semakin meluas para penggerak Komunitas Back to School berharap bisa memberikan manfaat yang lebih luas bagi anak yatim yang ada di Tangerang. BTS juga tidak menutup adanya kerja sama baik dari lembaga swadaya, sosial maupun lembaga yang lebih mumpuni semacam lembaga pemerintahan. Selama tujuan akhirnya bisa memberikan manfaat bagi Yatim dan Dhuafa, BTS akan menjadi pasukan garda terdepan gerakan tersebut.

You might also like
Comments
Loading...