Kisah Sujiah: Srikandi asal Jogjakarta 40 Tahun Menjadi Guru di Tepian Baduy

Menjadi Guru adalah cita-citanya sejak kecil dan ia harus siap menghadapi pahit manisnya profesi ini

Usianya masih 20 tahun saat melihat pengumuman bahwa dirinya diterima sebagai guru dengan status penempatan di Jawa Barat. Sebagai tenaga pendidik lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) PGRI Kulon Progo Yogyakarta, rasa senang dan bangga ada ketika mengetahui bahwa beliau masuk dalam barisan guru yang akan ditempatkan dalam program nasional pembukaan Sekolah Dasar (SD) Instruksi Presiden (Inpres) saat Pak Harto mencanangkan gerakan wajib belajar tahun 1978 untuk membuka isolasi pendidikan anak negeri.

Jawa Barat dalam bayangannya adalah Bandung dan sekitarnya yang memang menjadi sentra kota yang menjadi buah bibir sebagai Paris van Java. Sujiah muda memberi tahu pada orang tuanya bahwa ia diangkat sebagai guru karena telah lolos seleksi penempatan di Jawa Barat.

Perkampungan Baduy Luar di Kadu Keteuk Ciboleger. (foto:Ahmad/SBS)

Saat ia pamit pada orang tuanya, ia hanya membawa beberapa lembar pakaian salin serta surat penugasan yang harus diserahkannya ke kantor dinas pendidikan Jawa Barat di Bandung, sebelum mengetahui lokasi titik kerja berikutnya. Selama tiga perjalanan naik kereta api, ia harus beberapa kali transit dan bertukar moda transportasi.

Tiba di Bandung, ia diberi kertas penugasan yang harus diserahkan ke kantor dinas pendidikan di Rangkas Bitung, yang saat itu masih dibawah konsentrasi dan jangkauan Jawa Barat sebelum pisah menjadi bagian dari Banten.

Dari Bandung ia membawa selembar surat yang harus diserahkan ke Rangkas Bitung untuk ditukar kembali dan mencari tahu titik lokasi akhir penempatannya. Semalam ia menginap di Rangkas Bitung sampai akhirnya diantar ke Kota Kecamatan Leuwi Damar.

Jalan berlumpur merupakan hal yang lumrah bagi seorang Sujiah saat berangkat dan pulang dari mengajar. (foto:ist)

Kota Kecamatan ini masih sangat sepi dan hanya ada pohon asem disepanjang kanan kirinya yang kemungkinan hasil tanam Belanda. Tida di Leuwidamar, mereka diarahkan menuju Kanekes tepatnya di Ciboleger, sebuah titik terakhir pengabdiannya. Tak terbayangkan sebelumnya, kalau ia harus jalan kaki sejauh 12 kilometer dengan kondisi jalan tanah dan setapak.

Dirinya hanya diam membisu saat mengetahui bahwa inilah jalan juang yang harus dilalui. Saat itu, dirinya hanya berempat menuju sekolah yang baru selesai dibangun untuk mengentaskan pendidikan anak bangsa nun jauh di pelosok Kampung Ciboleger Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak, Jawa Barat tepatnya di wilayah Baduy.

Pikiran pertamanya bahwa penempatannya di Jawa Barat menjadi buyar setelah mengetahui ia ditempatkan di pelosok Baduy dan bukan di Bandung. Tanpa listrik, tanpa sarana jalan yang memadai dan tanpa kelengkapan pasar dan sarana komunikasi selain surat via pos.

Hal pertama yang ia lakukan adalah menulis surat untuk orang tua di Jogja, bahwa ia telah sampai di lokasi mengajarnya dan baik-baik saja. Surat itu dibawa ke Leuwidamar menuju kantor pos yang memang hanya ada disitu. Barulah tiga bulan kemudian surat balasan diterimanya kembali.

Hari-hari pertama mendapat tugas mengajar, dirinya sempat shock dan trauma. Bagaimana mungkin ia setiap pagi dan siang bolak balik ke sekolah dan kadang berpapasan dengan warga Baduy yang biasa membawa golok di pinggang dan memang itu biasa bagi mereka tapi menjadi hal yang luar biasa bagi dirinya.

Wajah para siswanya selalu menjadi semangat bagi Sujiah. (foto:ist)

Ia ingin teriak, ia ingin menjerit namun pada siapa. Bahkan menurut pengakuannya, ia hampir stress menghadapi awal-awal mengajak para siswa untuk belajar di kelas. Meyakinkan para orang tua dan menekankan pentingnya sekolah bagi warga kebanyakan yang sama sekali belum paham arti pendidikan bagi anak mereka.

Sujiah muda harus berjibaku membunuh rasa sepi yang kadang hinggap dalam dirinya. Suasana batin seorang wanita muda yang jauh dari kampung dan orang tua adalah tuntutan wajar bagaimana meredam emosi dan membetahkan diri untuk tetap mengajar anak-anak disekitar Baduy.

Sehari dua hari, seminggu dua minggu, sebulan dua bulan hingga akhirnya Sujiah bisa melewati hari-harinya di Ciboleger sebuah lokasi yang kelak membawanya meresapi apa arti nasionalisme dan pembangunan.

Sebagai seorang guru, Sujiah bukan saja berkewajiban memberi ilmu, namun ia kerap memutar otak untuk memberi buku dan seragam bagi sebagian siswanya yang tidak memiliki buku, seragam atau sepatu. Tak jarang, ia harus merogoh kocek sendiri agak anak didiknya tetap semangat belajar dan tetap datang ke sekolah agar tidak rendah diri dihadapan teman-temannya.

Setiap kali akan berkabar ke kampung, maka ia harus berjalan kaki ke Leuwidamar dan harus menginap untuk sekedar mengirim surat ke keluarga di Jogjakarta. Momen kesedihan yang paling dalam adalah ketika harus menjalani bulan puasa dalam kesendirian jauh dari orang tua. Menurutnya, bantal adalah teman setia yang mampu menerima deraian air mata saat rindu menyapa.

Pemberian seragam dan alat tulis bagis siswa agar mereka tetap semangat belajar. (foto:ist)

Bagi Sujiah, menjadi guru adalah tujuan hidupnya yang sudah harus siap ia terima. Perjuangan Ki Hajar Dewantara serta R.A. Kartini yang membawa arus perubahan menjadi suluh dalam bekerja meniti perjuangan bagi anak negeri.

Perasaan takut, was-was, cemas dan ingin berhenti dari profesinya sebagai tenaga pendidikan, pernah dirasakan oleh Sujiah, ketika pada tahun 1980 saat teman seperjuangannya yang juga berprofesi guru ada yang meninggal dibunuh oleh salah satu orang tua siswa.

Stress saat itu tak terhingga karena motif pembunuhan adalah sakit hati orang tua karena anaknya tidak dinaikkan kelas. Sujiah sudah ingin pulang dan tidak mau lagi mengajar saat itu. Namun ketika ia melihat wajah anak didiknya, ia tak tega meninggalkan mereka.

Ia hanya bisa tawakkal dan berserah diri bahwa pengabdiannya sebagai seorang guru adalah ladang amal dan ladang jihad yang harus ia lalui. Perlahan, ia bisa mengatur nafas untuk tetap tenang menghadapi kenyataan bahwa guru adalah pilihan hidupnya.
Perlahan tapi pasti, Sujiah bisa kembali berkonsentrasi mengajar kembali seperti sediakala hingga pada tahun 1983, ia akhirnya dipinang oleh salah seorang pemuda tetangga kampung Ciboleger.

Rasa berbunga-bunga dan lepas dari kesendirian akhirnya memberikan motivasi dan dukungan kembali bahwa ia sudah menjadi bagian dari tanah ini. Lima tahun dalam kesendirian, akhirnya pecah saat hajatan ia memperkenalkan pujaan hatinya ke Jogjakarta.

Tak lama berselang, setahun kemudian lahirlah buah hati mereka yang menambah keharmonisan pasangan keluarga ini. Anak pertama beliau seorang laki-laki yang menjadi pemberi semangat hidup.

Wanita kelahiran Kulon Progo yang menghabiskan hidupnya di Kanekes adalah contoh perjuangan seorang wanita muda yang merintis pendidikan bersama cita-cita membangun bangsanya.

Pada tahun 1996, Sujiah secara resmi pertama kali diangkat sebagai kepala sekolah di SD Bojong Menteng. Sebuah capaian yang tidak pernah sekalipun ada dalam pikirannya. Beragam lokasi sekolah SD di Leuwidamar pernah ia singgahi dalam rangka tugas mengajar hingga pada 1 Oktober 2017, ia menerima surat pengsiun kerja sebagai guru setelah 40 tahun mengabdi.

Bersama anak didiknya yang meraih medali saat OSN di Rangkas Bitung. (foto:ist)

Ribuan anak didik telah ia lahirkan dalam tangan dingin dan kelembutan. Bagi sebagian warga Baduy yang pernah jadi muridnya, Sujiah selalu dikenang sebagai Guru bersahaja. Sujiah tahu, bahwa sekolah adalah hal terlarang di Baduy, namun pendidikan tetap harus ada dalam kehidupan.

Beberapa alumninya sudah ada yang menjadi polisi, tentara, guru dan bahkan beberapanya menjadi pengusaha lokal di kampung halamannya. Ini merupakan hal terindah yang ia rasakan jika melihat murid-muridnya berhasil menjadi ‘orang’.
Saat ini, Sujiah menghabiskan sisa waktunya dengan berkebun dan mengasuh cucu. Anak laki-lakinya menjadi guru di salah satu sekolah milik Muhammadiyah di Ciboleger, sama seperti profesi dirinya.

Sujiah tetap memilih Banten sebagai tempat tinggal dan pengabdiannya. Sujiah dan ribuan tenaga pendidikan lainnya yang memilih bertahan dalam program SD Inpres adalah mereka pahlawan yang jarang terangkat dalam lembaran kisah pemberitaan.
(***)

You might also like
Comments
Loading...