Kisah Pertambangan Emas di Tanah Banten (1)

Salah satu lokasi tambang emas di Indonesia yang telah ada sejak zaman pemerintah kolonial Belanda, yaitu tambang emas Cikotok, Bayah. Saat ini, tambang emas yang beroperasi sejak 1936 tersebut telah lama tidak lagi beroperasi.

Pasca pemekaran wilayah, Cikotok saat ini masuk dalam wilayah Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten. Secara topografi Cibeber berbukit-bukit dan bergelombang, serta sebagian besar wilayahnya termasuk ke dalam daerah kawasan hutan lindung Taman Nasional Halimun Salak.

Para peneliti Eropa seperti Junghuhn, Verbeek, Homer Hasaki, Zungler, dan Fenaema vas Es, terlibat dalam proyek penelitian yang dilakukan sejak tahun 1839 yang dikabarkan bahwa kawasan Cikotok telah diindikasi mempunyai kandungan emas.

Butuh 97 tahun, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda melakukan penelitian di daerah Cikotok dan sekitarnya untuk memastikan kadar endapan emas. Dari tahun 1924 sampai 1930 dilakukan penelitian geologis oleh W.F.F. Oppenoorth. Setelah itu dilanjutkan dengan eksplorasi dan pemetaan hingga tahun 1936.

Ketika semuanya dirasa telah siap, maka pembangunan tambang emas mulai dilakukan oleh sebuah perusahaan Belanda yang bernama NV Mijnbouw Maatschappij Zuid Bantam.

Berbarengan dengan itu, pembangunan fasilitas pendukung pun mulai dibangun seperti perumahan direksi dan karyawan tambang, perkantoran, gudang, rumah sakit, laboratorium, fasilitas pabrik tambang, jalan, PLTA, dan fasilitas air bersih.

Saat Belanda takluk dan Jepang masuk ke Indonesia, pengelolaan tambang emas Cikotok berada di bawah perusahaan Mitsui Kosha Kabushiki Kaisha. Namun usia penguasaan Jepang hanya seumur jagung, sama seperti usia penjajahan Jepang di Indonesia.

Setelah perang kemerdekaan mulai berakhir, tambang emas Cikotok kemudian dikuasai oleh Pemerintah Republik Indonesia di bawah pengawasan Djawatan Pertambangan Pusat Republik Indonesia. Namun tak lama setelah itu, tepatnya pada tahun 1948, tambang emas Cikotok kembali diambila alih oleh Belanda yang kemudian diserahkan kepada perusahaan yang mula-mula mengelolanya, yaitu NV Mijnbouw Maatschappij Zuid Bantam.

Selang dua tahun kemudian, tambang emas Cikotok dijual kepada NV Perusahaan Pembangunan Pertambangan dengan saham utamanya dipegang oleh Bank Industri Negara yang bersalin nama menjadi Bank Pembangunan Indonesia. Sejak tahun 1974, PT. Aneka Tambang (ANTAM) menjadi pengelola dan pengendali pertambangan tersebut hingga berakhirnya segala kegiatan eksplorasi.

Dalam riwayat perjalanannya yang cukup panjang, tambang emas Cikotok telah menghasilkan berton-ton bijih emas. Kegiatan eksplorasi dan produksi yang berlangsung terus-menerus menjadikan cadangan bijih emas yang dikandung oleh perut bumi Cikotok semakin menipis. Kondisi ini akhirnya membuat pertambangan resmi ditutup pada 28 September 2005, dan produksi benar-benar berhenti pada tahun 2008.

Saat ini, beberapa fasilitas bekas alat dan perumahan serta kantor milik ANTAM sudah diserahterimakan ke pemerintah setempat, seperti bekas kantor yang saat ini menjadi sekolah, Klinik Antam yang menjadi Puskesmas serta beberapa perlengkapan lain yang masih bisa dilihat hinga kini.

Di kampung Pasir Gombong, ada bak air besar yang terletak di areal Pembangkit Listrik Tenaga Air dan berfungsi untuk menyalurkan air ke rumah pembangkit untuk menggerakkan turbin. Rumah pembangkit merupakan bangunan tempat peralatan berupa mesin turbin, generator, dan peralatan PLTA lainnya.

Air yang digunakan untuk pembangkit listrik ini berasal dari aliran air Cimadur yang di bagian hulunya dibendung, lalu air bendungan disalurkan ke kolam penyaring agar sampah dari aliran tersebut tidak terbawa. Barulah dari sini air disalurkan ke bak air Pasirgombong sebelum akhirnya dialirkan ke rumah pembangkit.

Namun sayangnya bak air ini walau bangunannya masih tersisa dan berfungsi dengan baik sudah tidak lagi berfungsi dan kurang perawatan. Beberapa rumput liar dan korosi terlihat pada beberapa bagian.

Kisah tentang pertambangan Emas Cikotok seolah ikut terkubur dengan meredupnya kandungan emas dan tutupnya aktifitas ANTAM di Cikotok. Saat ini, walau kandungan emas dinyatakan sudah jauh berkurang, namun para pencari emas liar tidak berputus asa tetap melakukan penambangan di daerah ini.

Beberapa penambang emas yang biasa disebut gurandil, kerap meregang nyawa karena minimnya alat keselamatan jiwa serta maraknya penggunaan merkuri menjadi masalah tersendiri. (***)

You might also like
Comments
Loading...