Kisah Perantau Asal Banten Selatan: Bermodal Nekat Kerja Tanpa Ijazah di Ibu Kota (1)

Satubanten.com – Heri 31 Tahun asal Warung Banten Kecamatan Cibeber Kabupaten Lebak merupakan salah satu potret hidup anak kampung yang ingin merubah nasib dengan belajar ke kota.

Heri menamatkan sekolah SD di Warung Banten 1. Selama belajar di SD tersebut, Heri kecil selalu menjadi juara kelas.

Namun sayangnya, Heri hanya mampu bersekolah hingga SMP kelas 2 dikarenakan faktor ekonomi dari keluarga.

Anak bungsu dari 6 besaudara ini lahir tahun 1990, semenjak berhenti sekolah, Heri sempat berkerja menjadi tukang ojek dan petani membantu ekonomi keluarganya.

Namun tahun 2004 dirinya diajak oleh salah satu keluarganya untuk mengadu nasib ke Jakarta menjadi tukang pijat keliling.

Beberapa bulan pekerjaan sebagai pemijit dilakoninya. Heri mengatakan bahwa pekerjaan sebagai tukang pijat sudah keturunan dari keluarganya.

Tak disangka 2 tahun dirinya melakoni pekerjaan menjadi tukang pijat, namun ditengah perjalanan pada akhir tahun 2006, Heri diajak oleh seniornya untuk menjadi tukang pijat “plus-plus’ di salah satu arisan sosialita ibu-ibu.

Dirinya sangat terkejut dengan tawaran pekerjaan yang sangat menjanjikan buat dirinya.

Namun hati kecil Heri menolak, karena dia ingin mendapatkan uang yang halal.

“Saya menolak pekerjaan itu, padahal kata temen saya muka saya tidak jelek- jelek amat daripada saya jadi tukang pijet keliling naik sepeda, pekerjaan ini lebih menjanjikan kata temen saya. Cuman saya takut dosa, lebih baik saya pulang kampung daripada harus menerima tawaran itu,” ujarnya .

Selesai dari Jakarta, Heri kembali merantau ke Kota Bandung. Disana dirinya bekerja sebagai pengemudi truk yang mengantar barang dan material bangunan. Modal nekat saya ke Bandung, habis mau gimana lagi saya takut kembali ke Jakarta,” katanya.

Tak lama dari Bandung Heri memutuskan untuk pulang ke kampung halaman, dia memilih kerja yang sudah menjadi pekerjaan mayoritas di kampungnya menjadi penambang emas di Cikotok. Pekerjaan ini dijalani selama 7 Tahun lebih walaupun penghasilannya tidak bisa ditentukan perbulannya.

“Iya beginilah, menjadi penambang emas penghasilannya 3 bulan sekali itupun di bagi 10% pemilik lahan, 50% yang punya lobang saya cuman dapet 40%. Iya misalkan saya dapat 1 gram itu dirupiahkan 450-550 itu di bagi,” lanjut Heri.

Walupun kehidupannya penuh dengan liku-liku, Heri selalu belajar bersyukur dalam setiap proses dihidupnya.

Heri mengaku menyesal karena saat kecil ia tak bisa melanjutkan sekolah.

“Kalau saya bisa mundur waktunya, saya ingin sekolah lagi agar bisa kerja layak,” ujarnya. (Bersambung)
(SBS/009)

You might also like
Comments
Loading...