Kisah Para Pemburu Emas dari Banten di Pelosok Negeri (2)

Namanya Andi (37) pemuda asal Kampung Suwakan Bayah merupakan salah satu penambang emas liar (Gurandil) yang telah menjalani profesinya selama lima belas tahun terakhir.

Andi mengatakan selama menjadi penambang, beragam lokasi sudah ia masuki. Mulai dari Aceh hingga Sulawesi dan Sumbawa. Modalnya dalah semangat dan nekat.

Andi mengatakan bahwa mencaeri emas seperti bermain judi. Kadang kalau dapat besar bisa cepat kaya, namun kalau lagi apes, bisa tidak dapat sama sekali bahkan tekor.

Dirinya bercerita jika ia memulai ikut-ikutan menjadi gurandil saat PT Antam hengkang dari Cikotok sekitar tahun 2005. Waktu itu, ia bercerita jika Antam mulai memindahkan aktifitasnya ke Pongkor Bogor.

“Awalnya saya ikut-ikutan memahat lubang galian emas karena diajak teman. Saya ikut karena melihat teman bisa beli motor dan beli hp saat tahun 2005,” ujar Andi saat dijumpai di Bayah, Ahad (3/1/2021).

Waktu itu dirinya mengaku tidak memiliki modal sama sekali dan sangat ingin mendapat penghasilan.

“Saya ingin kerja formal tapi nggak punya ijazah, jadinya kerja sebagai gurandil adalah salah satu pilihan,” ungkap Andi.

Saat pertama ikut menggali lubang, ia mengaku bekerja untuk seorang Bos asal Jakarta yang memodali dirinya dan teman-teman seusianya.

“Waktu itu, saya hanya harus menyetor batu hasil galian ke bos dan nanti bos menghargainya. Awalnya saya dapat satu ember batu yang dihargai 300 ribu dan saat itu senang banget,” ujarnya.

Andi mengaku mendapat hasil dari penjualan batuan hasil galian yang langsung dibeli bosnya. Pada tahun itu harga emas masih 500ribuan ribu per gram.

“Kebayang saat saya pertama kerja, sebulan sudah bisa beli motor bodong. Lumayan buat keliling dan beli rokok tidak lagi minta ke teman,” ujar Andi.

Potensi Sumber daya alam di Kabupaten Lebak memang menjanjikan, satu di antaranya di bidang pertambangan emas. Potensi di bidang pertambangan emas telah dinikmati masyarakat Lebak Selatan hingga menjadi sukses.

Profesi penambang telah digeluti Andi selama 15 tahun sejak 2005, susah senang dilewatinya dengan di dalam lubang tambang, untuk mencari emas.

“Saya pernah tidak makan selama dua hari. Karena ingin mencari emas dan belum mendapat hasil sama sekali,” ujar Andi.

Kata dia, bermodalkan uang pinjaman dari Bos, Andi berusaha memutar otak untuk mendapatkan emas.

Namun mencari emas tidaklah selalu untung, dirinya mengaku pernah tidak dapat sama sekali selama setahun dan sudah berhutang sana sini.

“Saya sempat ingin menyerah, namun hasrat mendapat uang selalu menghantui. Saya berusaha tetap maju,” ujar Andi.

Keuletan warga Banten sangat terkenal di luar pulau. Beberapa bos tambang menawarkan untuk ikut ke kampong mereka. Andi akhirnya ikut dengan salah bos asal Aceh.

“Tahun 2010 saya ikut ke Aceh dan masuk lubang selama tiga bulan. Sialnya, selama tiga bulan hasil emas jauh dari yang diharapkan,” ungkap Andi.

Sabar dan tekun bekerja membawakan hasil, tepatnya dua tahun menunggu, akhirnya lubang dengan pantongan 25 meter dengan majuan 10 meter membuahkan hasil. Hasil pertama begitu mengejutkan yakni tujuh kilogram.
Dari hasil penjualan tujuh kilogram, lubang ditambah menjadi

Setelah dari Aceh, ia ikut dengan Bos asal Padang dan ikut menambang selama dua bulan.

“Saya sempat ikut ke Padang dan lagi-lagi keberuntungan tidak memihak,” ungkapnya.

Andi mengaku akhirnya menelpon saudara di kampung minta dikirmkan uang ongkos untuk pulang ke Bayah.

“Awalnya malu juga, akhirnya minta kirim uang ongkos untuk naik bis dari Padang ke Serang,” ujar Andi.

Bergonta ganti Bos Tambang digeluti Andi selama beberapa tahun dan akhirnya ia memutuskan terjun sendiri mencari emas keluar masuk lubang di Cikotok.

“Capek juga kalau harus kasbon diawal dan terjerat system ijon. Uang selalu habis jika dapat emas,” ujarnya.

Tahun lalu Andi memutuskan berangkat ke Sumbawa mencari emas di lading bekas PT Newmont.

“Waktu itu saya dapat ajakan dari teman yang sudah lebih dahulu berangkat. Kami dibelikan tiket pesawat untuk nyusul,” ujar Andi.

Andi bersama lima rekannya akhirnya menyusul dan bergelut di Sumbawa selama tiga bulan.

“Lokasi Sumbawa sangat potensial, dalam seminggu saya bisa dapat uang lima juta dan akhirnya selama tiga bulan saya bisa nabung uang 40 juta,” ujar Andi berbunga-bunga.

Andi menceritakan bagaimana ia membawa uang tunai 40 juta rupiah dengan pesawat dan pulang ke kampong membeli motor dan memperbaiki rumahnya di Suwakan. Andi mengakui bahwa pekerjaannya sebagai gurandil sangat riskan dan berbahaya, namun kebutuhan hidup dan keahlian yang dimilikinya hanya dengan demikian. (***)

You might also like
Comments
Loading...