Aspirasi Rakyat dan Terpercaya

Kisah Para Gurandil Dalam Mencari Emas

Bayah, Satu Banten – Nasib pendulang emas, tidaklah selalu menyenangkan. Bayangkan saja mereka harus berjuang melawan ganasnya alam serta hidup dalam ketidakpastian. Selain harus menggali lubang yang sangat dalam dan panjang serta masih harus meninggalkan sanak saudara di kampung.

Tapi, bagi pemburu emas di dalam gua, berbicara maut adalah nomer sekian. Karena sekali masuk kedalam sumur dan gua, berarti sudah harus siap masuk ke liang lahat. Tidak sedikit dari mereka para gurandil (penambang emas liar) yang harus meregang nyawa, terkubur oleh galian sendiri.

Biasanya para gurandil akan bekerja sendiri atau berkelompok dalam menggali emas dari bekas tambang, lubang galian atau sumur buatan untuk mencari sisa-sisa emas yang masih tersisa. Banyak kisah gurandil, di Bayah misalnya, yang meregang nyawa karena kenekatannya.

Meskipun sudah dilarang oleh pemerintah dan tidak boleh lagi ditambang, tapi para pengadu nasib itu tak peduli. Mereka tetap nekat masuk ke dalam sumur atau gua dengan fasilitas seadanya dan bahkan sangat kurang dari segi keamanan.

Muhidin menunjukkan bebatuan dari dalam sumur yang mengandung emas. (foto:Ahmad/SBS)

Salah satu yang ditemui oleh Satu Banten adalah Muhidin (48) salah satu warga Kampung Suwakan Kecamatan Bayah Kabupaten Lebak. Dirinya mengaku saat ini sudah berhenti dari kegiatan masuk ke dalam sumur atau gua untuk mencari emas.

“Dulu saya sering menginap di hutan sekitar Cirotan, lokasi bekas tambang emas milik Antam yang memang terkenal banyak mengandung emas. Bisa berhari-hari tidak pulang sampai kita menemukan batu yang mengandung emas,” ungkap Muhidin.

Dirinya terkadang merasa was-was, bukan hanya terhadap longsoran tanah namun juga terhadap aparat. “Beberapa teman saya meninggal tertimbun tanah saat didalam gua saat mencari emas, namun hal ini tidak juga membuat kita kapok karena ajal sudah ada yang mengatur,” ujar Muhidin.

Beberapa kali dirinya main ‘kucing-kucingan’ menghindari petugas yang patrol, namun kadang bisa disiasati dengan memberi uang sekedarnya. “Kami takut juga terhadap petugas, tapi beberapa dari mereka juga mau menerima ‘upeti’ sehingga kami dibiarkan beraktifitas,” ungkap Muhidin.

Selain itu, beda lagi pengakuan Narta atau yang lebih dikenal sebagai Jaro Atok yang saat ini menjabat sebagai Kepala Desa Citorek Kidul, Kecamatan Cibeber Kabupaten Lebak. Dirinya mengaku sebelum menjadi jaro (kepala desa) pernah bekerja sebagai gurandil.

“Sebelum saya menjadi jaro, saya pernah juga jadi gurandil. Waktu itu sekitar tahun 2012 saya ikut menambang di Pongkor itu bersama warga Citorek lainnya. Hasilnya lumayan waktu itu. Pokoknya saat itu menjadi gurandil sangat menjanjikan,” ujar Atok beberapa waktu lalu.

Jaro Atok mengungkapkan, jumlah gurandil di Citorek saat ini memang sudah semakin berkurang namun tetap saja masih ada yang nekat.

“Masih tetap ada yang menjadi gurandil. Pokoknya serba tidak pasti kalau jadi gurandil. Bisa dapat atau bisa juga tidak,” ungkap Atok lebih lanjut.

Salah satu sumur milik gurandil yang memiliki kedalaman 40 meter. (foto:Ahmad/SBS)

Beberapa indikator kesuksesan para gurandil adalah bangunan cukup mewah untuk ukuran warga kampung di sekitar Citorek. “Banyak rumah yang dibangun dari hasil menjadi gurandil serta banyak juga yang pergi haji dan umroh dari hasil bekerja di lubang emas,” ujar Atok.

Lain lagi kisah Nuryasin (38) warga Bayah. Menurut pengakuannya kalau sudah sukses jadi gurandil ada juga yang hobby kawin cerai seperti dirinya. “Saya sudah pernah kawin 5 kali tapi sekarang sudah tobat. Nggak berkah kalau uang dari gurandil. Banyak kleniknya dan banyak mudharatnya,” ujar Nuryasin kepada Satu Banten.

Nuryasin mengaku setiap akan memulai penambangan, dirinya harus menyediakan ‘seserahan’ berupa ayam hitam, nasi 4 warna serta kemenyan yang disajikan di depan lubang sebelum bekerja. “Pokoknya ini semacam ritual sebelum bekerja, teman-teman juga melakukan hal yang sama,” ungkap Nuryasin.

Nuryasin mengaku setiap bekerja sebagai gurandil, dirinya selalu berhutang terlebih dahulu sebagai modal usaha dan meninggalkan uang sangu pada keluarga di kampung. “Biasanya kami sudah terjerah hutang oleh para bos yang modalin, sehingga hasil kerja kami sudah harus dijual pada mereka dengan harga murah,” papar Nuryasin.

Kisah para gurandil adalah kisah 1001 cerita yang seolah tak pernah padam. Ketika aparat menertibkan, tak lama berselang akan muncul lagi dengan jumlah yang lebih besar.

Sejarah panjang kegiatan gurandil di wilayah Bayah dan Cibeber di Kabupaten Lebak yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) berkembang pesat sejak pertambangan emas PT Antam Tbk Unit Usaha Cikotok menutup kegiatan ekploitasi emas di wilayah blok Cikidang dan sekitarnya sekitar pada 2010.

Mesin pengolahan emas milik para gurandil di lokasi penambangan. (foto:Ahmad/SBS)

Kegiatan penambangan terbuka dilakukan dengan memanfaatkan lubang bekas eksploitasi atau membuat lubang langsung dari atas permukaan tanah sebagai pintu masuknya.
Adapun penggalian lubang diarahkan secara vertikal (berbentuk sumur) atau horisontal (berbentuk lorong) sesuai dengan perkiraan posisi batuan yang mengandung emas.

Saat ini masih terdapat ribuan para gurandil yang melakukan aktifitas illegal mereka di sekitar lokasi bekas galian PT Antam. Dilema antara dilarangnya aktifitas mereka dengan tuntutan hidup menjadi buah simalakama, apalagi jika dibandingkan dengan penggunaan merkuri yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kegiatan proses produksi mereka.

Selain mencemari lingkungan, merkuri juga menjadi ancaman bagi diri para gurandil. Belum lagi penebangan pohon dan sampah disekitar lokasi tambang yang menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan alam sekitar. (SBS01)

You might also like
Comments
Loading...