Kisah Kelam Dibalik Kemilau Emas Cikotok (Bag:1)

Serang (23/12/2019) Satubanten.com – Setelah beroperasi sejak 1936, PT Antam mengakhiri aktifitas tambang emas di Cikotok Kabupaten Lebak, Banten pada tahun 2008. Namun, berhentinya PT Antam, tidak membuat penambangan emas di wilayah tersebut berhenti.

Kegiatan Gurandil (Penambang emas liar) di wilayah Kecamatan Bayah dan Cibeber yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) justru makin berkembang pesat. Tentunya, penambangan emas yang sekarang dilakukan oleh masyarakat dengan cara tradisional dan bahkan dilakukan secara Ilegal.

Nuryasin (45), Warga kampung Suwakan Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak Banten. Mantan Gurandil yang sudah puluhan tahun melakukan aktifitas penambangan di sekitar Cikotok menuturkan kisahnya kepada Satubanten.com, Senin (23/12).

Bagi Nuryasin yang hanya tamatan Sekolah Dasar (SD), menjadi Gurandil merupakan takdir yang harus dijalaninya untuk menyambung hidup. Terlebih dengan “Kemilau emas” yang menggiurkan. Menurutnya sekali masuk Lubang tambang dia bisa menghasilkan batu yang ada kandungan emasnya dengan harga 2 juta.

“Satu lubang, kalau rezeki bisa dapat 2 juta rupiah dalam sehari,” ucapnya sambil tersenyum.

Namun, untuk mendapatkan hasil yang bagus, harus dilalui dengan menguras fisik dan bertaruh nyawa. Nuryasin dan kawan-kawanya harus masuk ke dalam tanah dengan kedalaman hingga 300 meter hanya dengan peralatan seadanya selama belasan hingga puluhan jam.

“Saya biasanya masuk sebelum Mahgrib. Nanti keluar dari lubang subuh atau jam 8 pagi,” tuturnya.

Biasanya mereka para Gurandil membentuk tim, ada yang tugasnya memahat, ada yang mengambil batunya dari dalam lubang dan sebagian menjaga di luar lubang untuk mensuplay makanan dan oksigen dan berjaga terhadap datangnya aparat yang melakukan patroli.

“Kalau di dalam lubang udaranya pengap, penerangan juga cuma dari senter seadanya, taruhannya nyawa,” ucap Nuryasin.

Baca juga :

Kisah Mistis di Balik Perjuangan Pekerja Penambang Emas (2)

Penyakit Berbahaya Mengintai Para Pemburu Emas Ilegal (3)

Ia menambahkan, sekitar 80 % para pria dewasa di kampungnya merupakan Gurandil. Nuryasin juga mengaku awal ikut jadi penambang karena diajak oleh teman kampungnya. Tidak harus mempunyai keahlian khusus untuk bisa menjadi Gurandil, cukup keberanian.

“Tidak perlu pintar dan ahli, yang penting Keberanian. Kalau berani ya sudah langsung ikut masuk,” ucapnya.

Banyak temannya yang harus meregang nyawa saat menambang emas. Bagi gurandil tradisional sepertinya, tewas dalam lubang penambangan emas adalah hal yang wajar.

“Sudah resikonya seperti itu. Hampir tiap minggu ada saja yang meninggal. Sudah ratusan orang yang mati di kawasan penambangan tersebut karena terjebak dalam lubang galian, tapi itu tidak membuat masyarakat pada kapok,” kata Nuryasin.

Tak hanya was-was terhadap faktor alam seperti longsoran tanah yang akan menimbunnya, namun juga terhadap oknum-oknum dari aparat maupun jawara setempat yang tidak bertanggung jawab yang berkeliling lubang ‘menarik upeti’.

“Kepala Saya pernah ditodong beceng (Pistol) sama oknum aparat yang masih menjaga aset di PT Antam, tapi waktu itu saya tidak terbukti membawa emas,  jadinya dilepaskan,” ungkapnya.(SBS/02)

You might also like
Comments
Loading...