Kisah Getir Para Pencari Lobster di Laut Selatan Banten

Dede Suryana, pencari lobster pantai selatan Banten. (foto ; yusef)

Satubanten – Pagi sekali, matahari masih belum tampak sinarnya, masih memanjat dibelahan bumi bagian timur. Tapi Dede Suryana dan beberapa lelaki lainnya sudah siap bergegas menuju pantai selatan Banten. Memecahkan kesunyian pagi dengan suara kendaraan motor mereka yang susah payah menembus jalur Kampung Dukuh Handap, Desa Batuhideung, Kecamatan Cimanggu, Pandeglang-Banten.

Perjalanan berkendara semakin susah dengan tambahan muatan berupa ban dalam mobil truck bekas dengan tambalan dimana-mana, terikat menggunakan tambang plastik yang saling terhubung menganyam menutupi lubang ban bekas tersebut, juga segala peralatan lainnya yang berantakan dikait-kaitkan pada motor mereka. Terus melintas jalur pantai, berhenti dan menepikan kendaraan.

Ban bekas mobil truck yang sudah dianyam dengan tambang. (foto : yusef)

Tanpa membuang waktu, mereka langsung menanggalkan pakaian, hanya memakai celana pendek berlari menembus ombak, kemudian naik kedalam anyaman tambang ban bekas tersebut dan mendayung ketengah laut menggunakan dayung kecil seukuran gayung mandi, terus mendayung sampai pada posisi mereka bisa menyelam menuju tempat lobster-lobster bersembunyi.

Pencarian lobster mirip seperti bermain petak umpet, namun sangat beresiko. Para pencari lobster mengira-ngira dikarang yang mana lobster banyak bersembunyi, sambil mencari mereka harus menerima gempuran ombak pantai selatan yang merupakan ombak langsung dari Samudera Hindia. Beberapa kali pencari lobster tergulung ombak, lalu menarik tambang yang sudah diikat pada tubuh mereka yang terhubung pada ban bekas.  Kemudian muncul dipermukaan sambil berusaha dengan keras menghela nafas akibat menelan air laut saat tergulung ombak. Syukur bisa muncul ke permukaan, pekan lalunya, seorang rekan mereka tidak muncul lagi setelah digulung ombak tiga kali, hanya ban pelampung yang terombang-ambing dipermukaan.

Terlihat Dede mendayung ke tengah laut, berusaha keras agar tidak terbawa arus gempuran ombak, kemudian melepaskan lima jaring disekitar karang, berharap lobster terbawa arus laut dan masuk dalam jaring sebelum bersembunyi dalam karang. Kemudian ombak datang, menghantam tubuh para pencari lobster, namun tidak sampai membuat Dede tergulung ombak. Lalu datang lagi ombak yang sedikit lebih besar dari sebelumnya, menghantam pencari lobster, membentuk gulungan air yang terus berputar, menggulung para pencari lobster, kemudian beberapa detik setelah gulungan ombak mengecil, para pencari lobster muncul dipermukaan laut memeluk ban.

Tampak Dede memeluk ban sambil menekan salah satu bagian ban yang bocor akibat terkena karang selama digulung ombak. Berusaha keras agar tidak banyak angin yang keluar, sambil Dede menarik jaring yang tadi dia sebar. Setelah jaring ditarik semua, masih sambil berusaha menutup lubang bocor, Dede mendayung ketepi pantai, hingga tekanan udara dalam ban habis, kemudian berjalan ditepi sambil menyeret ban dan menenteng jaring yang sudah tersangkut beberapa lobster didalamnya.

Kisah para pencari lobster yang sehari-hari menyambung hidup dengan bertaruh nyawa merupakan secuil serpihan kisah kehidupan anak manusia. Menghitung hasil tangkapan, menjaga lobster agar tetap hidup sampai pelelangan, dan menerima hasil penjualan untuk dipakai keperluan hidup sehari-hari.   (sbs04)

You might also like
Comments
Loading...