Kisah Baedah, Pemilik Warung di Pantai Sawarna saat Pandemi Covid-19

Satubanten.com – Pandemi Covid-19 memaksa kita semua untuk melakukan segala aktivitas di rumah. Mulai jenuh? Selama masih bisa bekerja di rumah, kita sebaiknya bersyukur. ‘Penderitaan’ tersebut mungkin tak sebanding dengan apa yang dialami oleh para pedagang di lokasi wisata Sawarna.

Namanya Baedah (57), sehari-harinya, ia dan suaminya membuka dagangannya di Pantai Ciantir Sawarna, Lebak Banten demi menyambung hidup. Namun belakangan, ia dipaksa berhenti karena penerapan PSBB.

Kondisi warung di Pantai Sawarna yang saat ini lebih banyak yang tutup. (foto:Ahmad/SBS)

Sebelum ada Corona, warung miliknya biasanya ramai oleh pembeli yang nota bene wisatawan yang datang ke Sawarna. Namun sejak penerapan PSBB, nyaris tidak ada tamu yang datang karena dilarang untuk berkunjung. Masyarakat diimbau untuk tidak keluar rumah demi memutus rantai penularan COVID-19.

“Kerja kami hanya jualan makanan dan minuman, sekarang kan jualan juga nggak ada yang beli. Lagi pada di rumah semua orang, nggak ada orang yang wisata,” ungkap Baedah kepada Satubanten, Ahad (22/11/2020).

Baedah menuturkan bahwa dirinya juga ingin tetap di rumah, namun hingga hari ini keluarganya belum mendapat bantuan sosial yang rutin seperti dalam berita televisi.

“Saya juga pengen dapat bantuan rutin, tapi kok nggak dapet. Dulu pernah dapet beras 5 liter dan minyak saat awal Corona serta baru bulan kemarin dapet 50 ribu dari Pak RT,” ungkap Baedah.

Baedah mengungkapkan keluarganya bukanlah orang yang berkecukupan karena anak-anak mereka juga hanya bekerja sebagai buruh kayu dan tani.

“Anak saya juga susah, satu kerja di tetangga yang punya usaha kayu dan satu lagi jadi buruh kontrak di Pabrik Semen,” ungkapnya.

Baedah mengaku pernah diajak daftar untuk bikin rekening di Bank namun hingga hari ini dirinya tidak juga mendapat bantuan.

“Tetangga saya malah sudah dapat dua kali dari 2.4 juta yang dijanjikan, saya tunggu kok nggak pernah dapat,” ujar Baedah.

Kondisi Baedah terus terpuruk sejak virus Corona merebak dan masih merana karena kemarin PSBB masih terus diterapkan kembali.

“Sehari-hari bingung, sampai keluar air mata ini. Untungnya sekarang Sawarna tidak lagi dijaga Satpol PP sehingga ada satu dua wisatawan yang datang. Kalau bulan kemarin nggak boleh sama sekali, terus kita mau makan apa” katanya sembari berusaha menahan tangisan.

Tangis Baedah pun pecah saat menceritakan betapa sulitnya dia mencari sesuap nasi.

“Saat ini paling kami dapat uang 50 ribu sehari saat sabtu dan minggu, kalau hari lain sepi. Ya habis kita makan dari mana, sehari-harinya saja kan bingung jadinya,” katanya terisak.

Dirinya mengaku sangat ingin dapat bantuan rutin saat pandemic berlangsung. Baedah pun tak punya pilihan selain membuka kembali warungnya sambil menunggu pembeli dan wisatawan meski sangat berisiko terpapar virus Corona.

“Biasanya ada tamu saat sabtu dan minggu. Kadang ada satu dua bule yang surfing dan membeli minum,” kata Baedah.

Sang suami, Pidi (70) mengaku melakukan kerja serabutan mulai jadi kuli tani hingga kerap ikut jadi kuli panggul.

Entah sampai kapan Baedah dan keluargan harus hidup dalam kondisi ini. Namun, ia sangat bersyukur setiap kali ada orang yang mau berbagi rezeki dengannya. Walau itu hanya hanya pembeli yang datang membeli sebotol air mineral. (MAK/SBS)

You might also like
Comments
Loading...