Keamanan dan Lubang Jarum

Oleh:

Bambang Santoso

Staf pengajar di Universitas Pamulang, Tangerang Selatan

Ini cerita dua pasang suami istri. Yang sepasang di dalam mobil, yang sepasang lagi di sepeda motor.

Seorang suami mengajar istrinya menyetir mobil. Pertama suami mengendarai mobil dengan sang istri di samping. Dia berhenti di pinggir jalan, menunjukkan ke istrinya panel-panel di
mobil. Ditunjukkan gas, rem, gigi persneling. Juga bagaimana mulai memajukan kendaraan, bagaimana berhenti, lampu isyarat belok kiri dan kanan, dan segala macam.

Setelah dirasa cukup pelajaran teori, dimulailah pelajaran praktik. Suami keluar dari mobil, berganti posisi dengan istri. Sekarang istri duduk di belakang kemudi, suami duduk di kursi penumpang di samping istri.

Pada saat itu ada seorang ibu lain menyeberang jalan menuju suaminya yang menunggu di atas motor. Posisi motor suami ada di pinggir jalan, di depan mobil yang sedang dipakai
belajar berkendara.

Saat ibu itu berjalan mendekat ke suami dan berada di depan mobil, tiba-tiba mobil bergerak perlahan dan makin melaju. Tak dapat dicegah, benda besi itu menabrak ibu yang sedang melintas, dan juga menabrak motor suaminya.

Motor dan suami masih beruntung karena posisi agak di kiri mobil. Motor tergeser  menepi dan keluar dari garis lintasan mobil. Suami terlempar ke kiri.

Tapi istrinya mengalami nasib nahas. Tertabrak dan terus terbawa mobil
sampai tergencet tiang listrik. Ibu itu meninggal di tempat. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.

Suami yang terlempar dari motor mendapat luka walau tidak parah. Tapi betapa kemudian hatinya hancur. Sedih, merana, pahit, getir, kalbu remuk rendam belumlah cukup menggambarkan kesedihan hatinya. Istri meninggal di depan mata tanpa dia dapat melakukan
apa pun. Betapa mengenaskan kejadian demikian.

Wanita yang mengendarai mobil sangat terguncang. Tentu saja dia tidak sengaja menabrak dan membunuh orang. Tapi penguasaannya atas mobil belumlah mumpuni. Belum terbentuk reflek untuk menginjak rem.

Sang pengajar yaitu suami wanita ini tidak punya kekuasaan untuk menghentikan mobil. Karena dia duduk di kursi penumpang yang tidak punya akses ke  mobil. Keduanya sangat menyesal tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan.

Terungkap fakta yang lebih memilukan. Fakta pertama, ibu yang meninggal ternyata sedang mengandung 5 bulan. Sang jabang bayi meninggal bersama ibunya.

Fakta kedua, suami istri tersebut sudah menikah 5 tahun dan belum dikaruniai anak. Ini adalah kehamilan pertama. Yang sangat ditunggu-tunggu oleh mereka berdua. Yang selalu dipanjatkan doa-doa khusuk untuk ini. Yang tentunya kehamilan pertama ini dijaga dengan
ekstra super hati-hati oleh pasangan itu.

Mimpi indah memperoleh momongan luluh lantak karena seseorang belajar menyetir mobil di jalan umum.
Kejadian ini menunjukkan betapa faktor keamanan masih menjadi prioritas terakhir bagi kebanyakan warga masyarakat.

Belajar mengendarai mobil di jalan umum, instruktur tanpa rem tambahan, jelas merupakan pengabaian faktor keamanan. Membahayakan diri sendiri
dan membahayakan orang lain.

Bulan lalu viral video balapan liar anak-anak muda. Terjadi kecelakaan. Satu anak muda meninggal dengan kepala tidak berbentuk lagi. Ini karena balapan di jalan raya tanpa helm
maupun pelindung badan, dan tanpa latihan memadai dengan pelatih berpengalaman.

Bermodal keberanian dan nekad, tanpa memikirkan keamanan. Kadang kita hanya punya satu kesempatan untuk lolos dari lubang jarum. Keamanan adalah menghindari lubang jarum dan mencari jalan yang lebih lapang.
Sudah waktunya memberi porsi yang lebih besar pada faktor keamanan.

Pemikiran ini juga harus dikedepankan saat menghadapi Covid-19. Lebih baik menghindari resiko tertular daripada dengan gagah mengatakan, ”Saya sehat. Tidak akan tertular Corona.” (IBC/SBS032)

*) Opini ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi Satubanten.com

Bambang Santoso
Staf pengajar di Universitas Pamulang, Tangerang Selatan
You might also like
Comments
Loading...